Posted by: psikotikafif | May 18, 2009

Kritik Terhadap Kognitivisme Sosial

brainKoran Tempo, Minggu 17 Mei 2009

Afthonul Afif, Alumnus Psikologi Program Pascasarjanan UGM Yogyakarta.

Psikologi sebagai sebuah disiplin dalam rumpun ilmu-ilmu sosial secara umum dapat diposisikan secara berbeda. Satu faktor pembeda yang segera dapat dilihat adalah mengenai kecenderungan menentukan unit analisisnya. Psikologi cenderung memilih individu sebagai unit analisisnya, berbeda dengan sosiologi dan antropologi, misalnya, yang memilih masyarakat sebagai unit analisisnya.

Psikologi juga terobsesi merumuskan fenomena humanitas menjadi fakta-fakta yang tersusun presisi berdasarkan pembuktian yang sedapat mungkin bersifat nir-spekulasi. Merumuskan pengetahuan dan teori dalam tradisi psikologi mainstream dengan demikian merupakan upaya untuk mencari kesesuaian antara logika dan fakta, atau semacam ketundukan di depan kaidah relasionalisme: ada kesesuaian antara proses-proses kognitif dengan realitas empirik.

Dalam praktek keilmuan, kecenderungan di atas melahirkan apa yang disebut sebagai kognitivisme, atau keyakinan bahwa setiap realitas sosial dapat dijelaskan melalui proses-proses kognitif. Gejala ini masih dominan dalam pengembangan ilmu psikologi sampai sekarang, terutama dalam kajian psikologi sosial. Dengan menggunakan metode eksperimental, setiap penelitian psikologi ditujukan untuk mengidentifikasi proses kognitif universal yang mendasari perilaku sosial. Kecenderungan ini lahir dari asumsi bahwa individu adalah agen otonom yang memiliki karakteristik-karakteristik khusus. Individu merupakan agen yang berbeda dengan masyarakat dan terpisah dari dunia sosial.

Dunia sosial dianggap sebagai gugusan peristiwa yang menyediakan informasi untuk diproses dan dipahami sehingga pengetahuan atasnya tertanam kuat dalam struktur kognitif manusia. Premis utama kognitivisme kira-kira berbunyi seperti ini: individu mengelola informasi mengenai dunia dengan menggunakan proses kognitif dan mengupayakan kategorisasi terhadap dunia dengan cara-cara tertentu. “Teori Konsistensi” dapat dianggap sebagai representasi dari gejala ini. Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa setiap individu selalu berusaha untuk mempertahankan konsistensi dalam berpikir. Jika individu menganggap realitas sosial di sekelilingnya bersifat mengganggu stabilitas kognisinya, maka ia akan berpikir bahwa ada yang salah dalam caranya mempersepsi realitas sosial itu. Skema kognitifnya harus diubah agar dapat menyesuaikan dengan realitas sosial yang ada.

Jika seorang buruh, misalnya, merasa tidak nyaman karena upah yang diterimanya belum mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, maka dia akan menempuh strategi-strategi berpikir tertentu agar kehidupannya tetap dipersepsi secara nyaman. Misalnya, dia menganggap bahwa dirinya belum cukup profesional, kurang bekerja keras, dan sebagainya. Paradigma kognitivisme mengabaikan realitas sosial sebagai sesuatu yang terbentuk melalui proses komunikasi dan negosiasi. Ia menganggap realitas sosial sebagai wilayah netral, yang apapun bentuk pemahaman terhadapnya semata-mata ditentukan oleh proses kognitif dalam diri individu.

Keterisolasian individu dari dunia sosialnya ini mendapat perhatian serius dari para konstruksionis sosial, yang selanjutnya mengembangkan perspektif kritis yang disebut “psikologi kewacanaan”. Psikologi kewacanaan mengasumsikan bahwa cara kita memahami dunia tidaklah bersifat universal, melainkan berproses mengikuti gejala-gejala sosial dan historis yang bersifat situasional, sehingga kebenaran merupakan persoalan kemungkinan sebagai hasil dari komunikasi dan negosiasi dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, perilaku sosial bukanlah fungsi dari aktivitas kognitif yang merespon gejala sosial, tetapi ia adalah gejala yang lahir dari aktivitas-aktivitas sosial. Dengan apik  Potter membuat analogi bahwa perilaku sosial bukanlah sekedar entitas yang menyebar di otak ibarat buah kismis yang melekat pada punggung roti (Potter, 1996: 135).

Persoalan mendasar yang diperkarakan psikologi kewacanaan akibat dominannya paradigma kognitivisme dalam kajian psikologi tidak hanya terletak pada kesangsian atas asumsi-asumsi teoritik universal yang ditawarkan kognitivisme, tetapi juga kekhawatiran yang beralasan mengenai implikasi-implikasi praktis yang ditimbulkannya. Sebut saja bagaimana kognitivisme melihat munculnya stereotip dan konflik sosial. Di ranah ini, Teori Identitas Sosial merupakan perangkat paling representatif yang sanggup menjelaskan kedua hal itu dalam terang kognitivisme sosial.

Dua proses utama yang membentuk identitas sosial individu adalah melalui kategorisasi diri dan perbandingan sosial. Ketika individu menjadi bagian dari kelompok sosial, dia mulai mengidentifikasi dirinya berdasarkan identitas kelompok itu. Dalam proses kategorisasi diri dan perbandingan sosial selalu disertai dengan aktivitas kognitif yang mengarahkan individu untuk membagi kelompok sosial ke dalam dua kutub yang berlawanan, antara in-group dengan out-group. In-group selalu dipersepsi positif, sementara out-group selalu dipersepsi negatif. Teori ini mengasumsikan bahwa gejala pembentukan identitas sosial setiap individu mengikuti pola yang seragam dan kondisi ini berlaku secara universal.

Gugatan atas implikasi buruk akibat asumsi teoritik di atas dilayangkan oleh Jonathan Potter dan Margareth Wetherel, dua tokoh yang merintis kajian psikologi kewacanaan. Mereka meyakini bahwa lahirnya rasisme dan etnosentrisme disebabkan oleh cara mempersepsi kelompok lain sebagai lebih rendah dibanding kelompok sendiri. Mereka menuduh bahwa Teori Identitas Sosial telah memperpanjang dan memperbesar kemungkinan terjadinya konflik sosial, karena ia berasumsi ada proses psikologis universal yang menjamin konflik sosial seolah-olah telah menjadi keniscayaan (Jorgenshen & Philips, 2007: 183).

Berangkat dari kritik di atas, psikologi kewacanaan menawarkan perspektif yang diharapkan dapat mengatasi klaim-klaim teoritik yang melihat interaksi sosial sebagai peristiwa yang terukur dan permanen. Psikologi kewacanaan menolak usaha kognitivisme sosial dalam menjelaskan perilaku berdasarkan proses mental dasar. Psikologi kewacanaan menempuh cara pemahaman atas realitas sosial bukan sebagai wilayah transparan “di luar sana”, melainkan sebagai produk dari interaksi sosial yang syarat dengan nilai-nilai kultural dan imajinasi historis tertentu. Dengan demikian, tidak ada kemungkinan kebenaran di luar wacana, dan tidak ada medium pengungkapan paling potensial selain bahasa. Wacana adalah produk penggunaan bahasa—atau bentuk dinamis percakapan dan praktek sosial yang selanjutnya membentuk dunia sosial, identitas, dan individu.

Psikologi kewacanaan menganggap bahwa realitas sosial selalu dalam kondisi “menjadi”, tak sepenuhnya dapat dipahami batas-batasnya—selain dalam koridor kewacanaan. Realitas sosial—meminjam istilah Rorty—yang di dalamnya dikontestasikan berbagai material-material kewacanaan, tak lebih dari semacam kosa kata akhir yang lahir dari kesepakatan-kesepakatan temporer dalam interaksi sosial. Wacana juga bukanlah ekspresi keadaan psikologis yang telah tersusun sebelumnya, melainkan sebaliknya, bahwa realitas psikologislah yang tersusun dari aktivitas kewacanaan. Dengan demikian, setiap individu berpeluang memiliki beberapa identitas fleksibel yang terbentuk melalui wacana-wacana yang dipertukarkan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: