Posted by: psikotikafif | May 18, 2009

Bila Cinta Meneguhkan Eksistensi

oveKompas, Sabtu 16 Mei 2009

Afthonul Afif, Master Psikologi Klinis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Lahirnya Psikologi Positif sebagai mazhab baru dalam kajian psikologi memberikan harapan tentang sebuah masa depan kemanusiaan yang lebih baik. Asumsi ini tentu tidak mengada-ada. Sejak didaulat sebagai gerakan baru, bersamaan dengan dilantiknya Martin Selligman sebagai Presiden American Psychological Association pada tahun 1997, gerakan psikologi positif menawarkan ontologi baru dalam melihat manusia: manusia yang mampu bertumbuh, bukan manusia pesakitan sebagaimana diasumsikan psikoanalisis dan behaviorisme.

Tidak sulit untuk bersepakat bahwa setiap potensi positif dalam diri manusia hampir selalu mensyaratkan adanya cinta di dalamnya. Sebab, dalam cinta selalu ada intensi, energi yang menggerakkan kita untuk terpusat pada dan merealisasikan sesuatu. Contoh terbaik yang dapat diajukan di sini adalah tentang pribadi-pribadi unggul di bidangnya. Sebut aja Abraham Lincoln, Eisntein, Gandhi, Bunda Theresa, Abraham Maslow, Marthin Luther King, dan masih banyak yang lain. Mereka adalah pribadi dengan segudang sifat unggul: berani, cerdas, tangguh, konsisten, dan bervisi. Namun, jika mereka tak memiliki cinta terhadap kehidupan dan kemanusiaan, barangkali nama mereka tak bakal seharum sebagaimana kita kenal sekarang ini.

Contoh berikut mungkin sedikit mampu memberi ilutrasi. Di saat karirnya sebagai seorang behavioris sedang di puncak, Maslow tiba-tiba mengambil keputusan sangat berani. Dia memilih meninggalkan behaviorisme, sebuah keputusan yang saat itu sebenarnya mengancam karir intelektualnya karena dia bisa dikucilkan oleh komunitas akademiknya. Dia berani menanggung segala resiko tersebab sebuah peristiwa, yaitu ketika anak pertamanya lahir. “Saya akan berkata bahwa siapa saja yang mempunyai seorang bayi tidak dapat menjadi seorang behavioris”, ujar Maslow. Dia begitu terpesona oleh misteri kehidupan. Maslow tak kuasa memparafrasekan pengalamannya itu secara panjang lebar karena ia kelewat intens. Namun, pengalaman itu menyisakan keyakinan yang mendalam dalam batinnya, bahwa ada cinta dalam kehidupan.

Maslow barangkali benar, bahwa cinta itu tak perlu didefinisikan secara panjang lebar. Manifestasinya dalam kehidupan nyata jauh lebih penting dibanding segala definisi yang diupayakan. Dalam konteks ini dia sedikit berbeda dengan sejawatnya, Rollo May, seorang eksistensialis yang menempatkan cinta sebagai salah satu pilar penyangga pemikiran psikologinya. May beranggapan bahwa mendefinisikan cinta tetap penting, karena hal itu dapat menjadi petunjuk bagi lelaku mencintai. Jika definisi itu dicurigai dapat mereduksi makna cinta, maka cara kita menempatkan definisi itu yang perlu diubah. Definisi itu bukanlah representasi, tetapi hanya jalan—semacam ikhtiar memahami yang tak pernah final. Dengan menyadari bahwa definisi itu bukanlah representasi, maka akan muncul kesadaran untuk selalu terbuka di hadapan pengalaman. Dengan kata lain, bahasa hanya menyediakan cara, bukan menjadi tujuan itu sendiri. Bahasa membantu kita bagaimana mencintai, sementara dengan mempraktekkannya kita akan tahu makna mencintai.

Tulisan ini mencoba memposisikan diri di antara dua pendapat di atas, merayakan cinta sebagai sebuah pengalaman sekaligus lelaku. Sebagai pengalaman dan lelaku yang konkret, mecintai selalu mensyaratkan kehadiran yang lain, pihak yang memikat intensi kita. Untuk itu, cinta tetap membutuhkan operasionalisasi, meskipun ia tak pernah menemukan titik akhir, karena pada saat yang bersamaan ia mengafirmasi pengalaman tanpa batas. Sebagai lelaku, mecintai itu melayani, yang oleh Bunda Theresa disebut sebagai doa tertinggi: doa yang kita panjatkan untuk “yang lain”, sosok yang beda dengan diri kita, yang selalu menyeru kita untuk menyapa dan memahaminya, serta mengajak kita untuk berpartisipasi.

Mencintai menyadarakan kita tentang momen partisipasi, dimana kehadiran yang lain kita afirmasi sebagai subjek. Mencintai itu aktif sekaligus pasif: aktif memberi tanpa mengharap kembali, dan pasif menerima yang lain menyibakkan diri. Momen eksistensial ini hanya akan terwujud jika kita mengupayakan model kesubjekan yang menghargai “kelainan”. Artinya, yang lain harus kita tempatkan sebagai “engkau”, yang hadir sebagai subjek dengan segala kemerdekaannya, bukan sebagai “dia” yang asing dan cenderung kita lihat sebagai objek. Momen ini yang oleh Gabriel Marcel disebut sebagai momen “kekitaan”, momen eksistensial di mana “aku” dan “engkau” tumbuh bersama menjadi “kita”.

Untuk menjamin agar momen partisipasi tetap terbina, “aku” harus menghayati “engkau” sebagai yang misterius namun tidak asing. Engkau dekat sekaligus jauh. Engkau mampu kuhayati namun mustahil kudefinisikan. Melalui hubungan aku-engkau, lahirlah momen untuk kehadiran bersama (co-present). Momen ini tidak dapat kita pikirkan secara objektif, misalnya mengaitkannya dengan kategori ruang dan waktu. Artinya, hadir tidak dapat diartikan sebagai ada-bersama-dengan di suatu tempat tertentu pada waktu yang sama. Dua orang baru hadir bila mereka mengarahkan diri yang satu kepada yang lain dengan cara yang sama sekali berbeda dari cara mereka menghadapi objek-objek. Kehadiran hanya dapat diwujudkan jika “aku” berjumpa dengan “engkau”, bertumbuh bersama menjadi “kita”.

Tindakan partisipasi itu selanjutnya melahirkan harapan, harapan pada yang lain. Setiap bentuk partisipasi dengan orang lain mensiratkan adanya sebuah harapan untuk mengatasi setiap perasaan terasing dan putus asa. Tetapi harapan itu tidak semata-mata kita sandarkan pada kemampuan kita sendiri. Sebaliknya, dalam harapan itu, kita seolah-olah telah menaruh kepercayaan tertentu pada subjek lain yang mengatasi kita. Bertolak dari pengalaman konkret itu, harapan sejati akan muncul dari keberhasilan seseorang dalam mengalahkan ego-nya, sehingga perasaan putus asa yang bersarang di ego dapat dilampaui.

Harapan yang lahir dari cinta dan momen partisipasi adalah harapan yang melampaui keinginan. Mencintai yang masih diliputi keinginan untuk memiliki dan menguasai yang lain tentu tak bakal berbuah harapan, karena hal itu akan melahirkan ketakutan ketika yang lain pergi. Orang yang berharap selalu sadar bahwa waktu selalu terbuka bagi dirinya. Berharap sama artinya mengafirmasi hidup dengan segala kemungkinannya, sehingga padanan kata yang paling tepat untuknya adalah kesiagaan, bukan keinginan.

Cinta yang dibangun di atas prinsip partisipasi dan harapan akan melahirkan pribadi-pribadi matang, yang oleh Marcel disebut sebagai pribadi dengan taraf eksistensi Ada. Hal ini untuk membedakan dengan pribadi yang masih berada dalam taraf eksistensi primordial, pribadi dengan sikap mental tawanan, yang masih berada dalam kendali ego bagi modus eksistensinya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: