Posted by: psikotikafif | December 6, 2008

Psikoanalisis: Tradisi yang Tak Kunjung Usang

FreudModernitas dengan ciri pengagungan “kesubjekan” yang disemaikan sejak abad ke-16 oleh para filsuf pencerahan mendapatkan interupsi dari anak kandungnya sendiri. Setidaknya ada tiga bentuk interupsi besar (the great interruptions) yang mewarnai perjalanan peradaban modern dan ilmu pengetahuan selanjutnya—teori Evolusinya Darwin, teori Psikoanalisisnya Freud, dan teori Relativitasnya Einstein.

Khusus untuk Darwin dan Freud, kedua tokoh ilmu pengetahuan terbesar yang juga dianggap sebagai arsitek peradaban modern, di mana dalam konteks ini sebagai anak durhaka itu—secara tegas mengubah orientasi modernitas yang semula berporos pada kemandirian subjek menuju babak baru yaitu kematian subjek. Dalam teori Evolusi Darwin, “kesubjekan” manusia benar-benar telah dicampakkan, di mana manusia tidak lagi menjadi poros penentu laju peradaban, melainkan hanyalah salah satu produk dari laju evolusi mahluk hidup—yang martabatnya di dunia ini tidak jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan bangsa primata.

Selanjutnya, martabat kesubjekan semakin tercampakkan dengan hadirnya ilmu baru yang bernama Psikoanalisis. Dalam kaca mata Psikoanalisis, bukan rasio dan kesadaran yang menentukan eksistensi manusia di muka bumi ini, melainkan sebaliknya. Rasio atau kesadaran hanyalah produk dari dinamika psikologis di tingkat bawah sadar. Dengan demikian, rasionalitas atau kesadaran yang diagung-agungkan manusia tak layak diistimewakan lagi, karena ia hanyalah salah satu produk psike yang tak bisa menentukan kinerja dirinya sendiri. Ia akan senantiasa tertawan dalam konflik berkepanjangan antara dorongan instingtif (Id) dan dorongan normatif (Superego).

Psikoanalisis sebagai sebuah filsafat baru yang menawarkan konsep yang begitu radikal itu selanjutnya telah menjadi inspirasi sekaligus menjadi sasaran kritik dari kegiatan intelektual sepanjang abad ke-20—juga hingga sekarang.

Psikoanalisis, bahkan sesudah kematian Freud, muncul menjadi tradisi keilmuan yang subur melahirkan polemik, baik dari mereka yang mendukung maupun yang menentangnya. Erich Fromm mengatakan bahwa Psikoanalisis merupakan salah satu cinderamata abad modern yang paling lengkap dalam menjelaskan manusia. Psikoanalisis adalah filsafat manusia yang bersifat kanonik, yang dapat ditafsir-ulang tiada habisnya.

Sebagian ilmuwan modernis yang masih setia pada kedigdayaan rasio berpendapat bahwa Psikoanalisis justru hendak menuntaskan dominasi rasio. Buktinya, sampai akhir abad ke-19 belum ada teori mana pun yang sanggup menjelaskan secara komprehensif wilayah bawah sadar manusia yang konon paling misterius. Melalui Psikoanalisis, rasio manusia berusaha mengurai wilayah bawah sadar itu melalui ringkusan teoritik yang ketat dan mekanistik. Rasio hanya meletakkan wilayah bawah sadar manusia sebagai prasyarat bagi kerja rasio untuk memahami secara lebih utuh dinamika psikologis pada tingkatan yang lebih purba—karena pada akhirnya wilayah bawah sadar itu tetap harus ditaklukkan (diteorikan).

Apa pun bentuk sikap terhadap Psikoanalisis, hal itu seharusnya tidak mengabaikan latar belakang sosio-historis sang tokohnya. Memahami Psikoanalisis, berarti juga memahami Freud sebagai intelektual yang besar dalam tradisi materialisme Barat abad ke-19. Manusia, dalam konteks Psikoanalisis tersusun dalam sebuah mekanisme yang didorong oleh sejumlah energi seksual permanen yang disebut dengan “libido”. Libido akan menyebabkan ketegangan yang menyakitkan di mana energinya hanya bisa dikurangi atau ditekan lewat pelepasan fisikal. Upaya kompensasi inilah yang oleh Freud dijelaskan lewat konsep pleasure principle (prinsip kesenangan). Proses dinamis antara kesakitan-pelepasan-kesenangan inilah yang merupakan inti dari konsep pleasure principle.

Namun pada kehidupan nyata, pleasure principle akan selalu berhadap-hadapan dengan reality principle (prinsip realitas). Prinsip realitas akan selalu memberi semacam peringatan kepada prinsip kesenangan dengan norma-norma sosial yang harus dipatuhi. Keseimbangan yang terjadi akibat benturan keduanya merupakan prasyarat bagi kesehatan mental manusia. Jika salah satu prinsip dari kedua prinsip tersebut mendominasi, maka akan terlahir manifestasi-manifestasi neurotik-psikotik. Manifestasi neurotik-psikotik biasanya tidak disadari dan menunjukkan dirinya melalui simbol-simbol tertentu dalam mimpi. Maka dari itu, proses terapi bagi penderita neurotik-psikotik dapat diawali dengan menganalisis isi mimpi si pasien.

Freud melihat perkembangan manusia sebagai sebuah evolusi, dalam bentuk perkembangan individu. Menurut Freud, dorongan utama dalam diri manusia, yaitu energi seksual, merupakan sebuah proses evolusi sejak kelahiran hingga masa puber dan dewasa dalam kehidupan masing-masing individu. Libido manusia juga mengalami perkembangan dalam berbagai tahap mulai dari tahapan mengisap dan menggigit pada masa bayi, masa pengeluaran sekresi dan saluran kencing, dan berakhir pada organ-organ genital. Libido punya peran sama, namun berbeda pada setiap individu. Libido punya potensi yang sama, namun punya manifestasi yang berbeda-beda dan mengalami perubahan sesuai proses evolusi pada masing-masing individu.

Psikoanalisis adalah ilmu yang berbasis pada individu. Perkembangan umat manusia sangat mirip dengan perkembangan individu. Freud kemudian membuat generalisasi bahwa individu sebenarnya merepresentasikan peradaban manusia. Manusia primitif, misalnya, terdiri dari individu-individu yang melakukan sepenuhnya kepuasan sesuai dorongan insting yang dimilikinya, sementara manusia juga selalu mempertahankan insting-insting yang menjadi bagian seksualitas primitifnya. Dengan demikian, manusia primitif, meski telah melakukan dan memuaskan semua dorongan instingtifnya, mereka tetap saja bukan pencipta peradaban. Manusia menciptakan peradaban sesuai dengan perkembangan sejarah (namun Freud tidak menjelaskan mata rantainya). Peradaban mendorong manusia untuk menahan pemuasan atas insting-insting secara langsung dan sepenuhnya. Insting yang tidak terpenuhi inilah yang selanjutnya berubah menjadi energi mental dan psikis non-seksual, yang selanjutnya bergulir kembali menjadi dasar pembentukan peradaban. Freud menyebut perubahan dari energi seksual menjadi energi non-seksual ini sebagai sublimasi. Semakin cepat dan besar perkembangan peradaban, akan semakin tinggi harkat manusia, namun semakin besar pula represi terhadap dorongan-dorongan libidonya.

Secara umum, memahami pemikiran Freud dapat dilihat dari dua konsep kunci yang menjadi dasar pengembangan aspek-aspek pemikiran Freud lainnya. Evolusi libido dan evolusi hubungan manusia dengan manusia lain adalah kedua konsep itu. Dalam teori tentang evolusi libido, Freud mengasumsikan bahwa libido, atau energi seksual individu, selalu mengalami perkembangan, mulai oral sampai genital. Meski demikian, proses perkembangan libido ini sama sekali bukanlah sebuah proses yang linier dan mudah. Di dalamnya juga terlibat rasa puas yang berlebihan atau rasa frustasi yang sangat kuat, yang akan membuat seorang individu mengalami “fiksasi” karena perkembangan mentalnya “macet” dan berhenti pada tahap tertentu, sehingga ia tidak pernah mencapai perkembangan genital secara utuh dan sepenuhnya. Atau bisa juga perkembangannya menjadi mundur kembali ke tahapan sebelumnya. Sebagai akibatnya, seorang dewasa akan menunjukkan gejala-gejala neurotik dengan berbagai manifestasinya, seperti impotensi atau kurang rasa percaya diri.

Jadi menurut Freud, individu yang sehat adalah individu yang tidak mengalami hambatan perkembangan genital karena mereka tidak mengalami fiksasi dan kemunduran. Individu seperti inilah yang menjalani kehidupan sebagai orang dewasa, bekerja dan memperoleh kepuasan seksual secara memadai.

Individu yang sehat juga tidak tergantung secara sosial, mampu membebaskan diri dari dominasi ayah atau ibunya. Indivdiu yang demikian akan mengendalikan dirinya pada pemikiran dan kekuatan dirinya. Meskipun konsep Freud tentang kesehatan mental cukup jelas, namun secara definitif masih bersifat samar-samar. Dalam arti yang bersifat klinis, konsep Freud ini kurang memiliki ketepatan dan penetrasi terhadap konsepnya tentang penyakit mental. Besar kemungkinan konsep ini berkaitan dengan konsep masyarakat kelas menengah Eropa pada awal abad ke-20 yang dianggap Freud mampu melakukan fungsinya dengan baik, dan secara seksual maupun ekonomi memiliki kemampuan yang baik. Dalam hal ini, seorang komentator Psikoanalisis, Erich Fromm, menilai Freud belum mampu meloloskan diri sepenuhnya dari fiksasi-fiksasinya.

Sebagai sebuah filsafat manusia yang aplikatif, Psikoanalisis Freud memang tak sepenuhnya sukses menjelaskan segala sesuatu, meskipun segala sesuatu berusaha dijelaskan olehnya. Banyak tokoh-tokoh psikologi yang pada awalnya berkarir di lini Psikoanalisis, seperti Carl Jung dan Alfred Adler, menarik kesetiannya pada perspektif ini karena Psikoanalisis terlalu pesimis dengan masa depan umat manusia—terbukti dengan filsafat manusianya yang berbau pesakitan. Jung dan Adler kemudian mencanangkan sebuah Psikologi Individual yang lebih optimistis terhadap kesehatan jiwa manusia.

Analis lain yang kritis terhadap Psikoanalisis Freud adalah Heinz Kohut. Kohut mengkritik konsep narsisisme Freud yang semata-mata dimaknai sebagai kondisi negatif yang merugikan. Freud, menurut Kohut, berambisi menghilangkan narsisisme, tetapi teorinya yang menganggap bahwa narsisisme selalu eksis dalam setiap fase perkembangan manusia membuat Freud terjebak dalam situasi yang membingungkan. Jelas sangat mustahil menghendaki individu tumbuh menjadi pribadi yang sehat ketika lensa pandang yang digunakan hanya mampu melihat sisi-sisi buruk individu tersebut.

Berangkat dari posisi itulah, Kohut kemudian menemukan bahwa pada kondisi-kondisi tertentu, narisisisme itu dapat dikatakan normal. Kohut melihat narsisisme, atau cinta diri, atau cinta objek, tidak berada dalam garis lurus, namun melihatnya sebagai dua jalur perkembangan yang berbeda dan tetap ada seumur hidup, di mana masing-masing memiliki karakteristik dan patologinya sendiri-sendiri. Kohut memberikan penekanan pada aspek yang sehat dari narsisisme, melihat fenomena-fenomena seperti cinta orang tua terhadap anaknya, kegembiraan anak terhadap dirinya sendiri dan dunianya, serta harapan-harapan, aspirasi, ambisi, dan tujuan-tujuan normal sebagai aspek-aspek yang termasuk dalam narsisisme positif. Dalam model ini, saat perkembangan berlangsung, narsisisme tidak digantikan oleh cinta objek, namun diperlunak oleh kekecewaan bertahap sehingga di masa dewasa ia tetap menjadi dasar dari harga diri yang baik dan tujuan-tujuan realistik.

Sebagai warisan keilmuan yang sangat berharga, Psikoanalisis memang patut dikritisi, namun akan sangat bodoh ketika dilupakan. Hampir semua ilmuwan sosial abad ke-20 menjadikan Psikoanalisis sebagai titik berangkat maupun sebagai partner dialog—meskipun tak selamanya mereka setia pada prinsip-prinsip Psikoanalisis. Dengan demikian, tidaklah berlebihan ketika kita memposisikan Psikoanalisis sebagai salah satu produk terpenting perkembangan ilmu pengetahuan abad ke-20.

●Afthonul Afif, Mahasiwa Psikologi Klinis Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: