Posted by: psikotikafif | September 29, 2008

Refleksi Idul Fitri

Meretas Persekutuan Universal Melalui Idul Fitri

Idul Fitri adalah sebuah momen kemenangan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Setiap kali Idul Fitri tiba, kita lagi-lagi tersadar bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan yang dihasilkan dari proses penaklukan atas orang lain, tetapi kemenangan yang lahir dari kemampuan mengebiri hawa nafsu dan niat tulus memaafkan.

Kemenangan yang diraih melalui momen Idul Fitri adalah kemenangan yang tak lazim, atau lebih tepatnya istimewa. Kemenangan yang sekali lagi—tidak didapatkan dari praktek mendominasi—melainkan lahir dari proses mengendalikan diri dan menghayati momen partisipasi. Ini adalah kemenangan bersama, kemenangan umat manusia. Tulisan ini berusaha merefleksikan momen Idul Fitri dalam kaitannya dengan faktisitas manusia sebagai mahluk yang tertakdirkan untuk selalu hidup bersama (co-present) dengan orang lain.

Tak sulit bagi kita membuat pengandaian bahwa persoalan mendasar yang senantiasa hadir dalam kehidupan ini adalah bagaimana kita menjalin interaksi dengan sesamanya. Sebagai makhluk sosial, kita memiliki ikatan primordial dalam bentuk keharusan menerima kehadiran orang lain guna menyelenggarakan kehidupan bersama.

Seiring perkembangan kebudayaan, tata cara manusia dalam menjalin komunikasi dengan sesamanya pun semakin kompleks. Hal ini disebabkan oleh semakin kompleknya bentuk aspirasi manusia. Dalam masyarakat primitif misalnya, hubungan antar individu masih bersifat sederhana, sebatas pada kerjasama untuk mencari dan mengelola sumber pangan untuk kelangsungan hidup bersama. Dalam kerangka pemikiran Abraham Maslow, pendiri mazhab Psikologi Humanistik, kehidupan masyarakat primitif masih didominasi oleh upaya pemenuhan kebutuhan yang bersifat fisik-material semata. Mereka belum mengenal jenis aspirasi yang lebih tinggi, misalnya, kebutuhan akan aktualisasi diri dan kebutuhan berserikat. Akibatnya sumber-sumber konflik yang muncul dalam masyarakat primitif pun berkisar pada perebutan akan penguasaan kebutuhan fisik-material tersebut.

Di lain sisi, jika kita melihat bagaimana bentuk-bentuk konflik yang muncul dalam kehidupan masyarakat kita dewasa ini, kita akan menemukan betapa setiap ranah kehidupan begitu mudah terjangkiti potensi konflik karena semakin kompleksnya aspirasi manusia. Memang terlihat ironis, dengan semakin berkembangnya kemampuan akal budi manusia dalam memenuhi dan mengelola berbagai jenis aspirasinya, ternyata tidak serta merta diikuti dengan kemampuannya dalam mengelola dan mengendalikan setiap potensi konflik yang mengelilinginya.

Kalau kita jeli, hal ini sebenarnya bisa ditelusuri dari struktur ikatan sosial yang eksis saat ini—yang cenderung bersifat fungsional-matematis. Jenis ikatan sosial yang memiliki sifat seperti ini, mengkondisikan kita untuk melihat orang lain hanya sebagai kumpulan fungsi yang dapat kita manfaatkan. Konsekuensinya, jika orang lain tidak lagi memiliki fungsi strategis yang kita inginkan, maka kita cenderung akan mendepaknya dari kerjasama sosial.

Dalam kehidupan dunia yang semakin pragmatis ini, kita juga semakin curiga dan sangsi apakah masih ada orang lain yang bersedia menjalin hubungan dengan kita tanpa membawa kepentingan apapun, murni didasari keikhlasan. Hal ini kemudian membuat kita menjadi terbiasa membawa sekian syarat setiapkali akan menjalin hubungan dengan orang lain karena kita meyakini bahwa orang lainpun akan berbuat sama. Kesangsian ini adalah tanda bahwa kita telah terjangkiti pesimisme akut—yang jika diutarakan dalam kalimat kira-kira berbunyi demikian. “Apakah mungkin “aku” dapat menerima “kamu” secara ikhlas ketika di benakku selalu terbersit ingatan bahwa “kamu” hanya bersedia berhubungan denganku ketika “aku” di matamu memiliki fungsi-fungsi tertentu yang dapat “kamu” manfaatkan?”.

Ruang sosial yang kita nanungi sepertinya telah rapuh dan lapuk. Kita tak lagi mendiami ruang sosial yang dijadikan sebagai ajang untuk menyelami kebijaksanaan, sebagaimana terjadi pada zaman Yunani kuno ketika masih ada manusia seperti Socrates yang begitu gigih mengajak penduduk kota Athena beradu pikir untuk mencari kebenaran yang paling bijaksana. Ruang sosial yang kita naungi sekarang ini tak lebih sekedar sebagai arena bagi beroperasinya nalar fungsional yang lambat laun akan menggerogoti social trust.

Akibatnya, ruang sosial yang rapuh tersebut hanya menjadi habitat bagi persaingan untuk saling mendominasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Sekarang, hubungan antara individu yang satu dengan yang lainnya disemaikan di atas semangat mendominasi dan memfungsikan. Peran sosial individu tidak lagi dinilai dari hakikat kemanusiaannya yang membutuhkan penerimaan tanpa syarat (apa pun perannya, dia tetap manusia yang harus dihormati dan dihargai), melainkan didasarkan atas kontribusi fungsionalnya semata.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari betapa kita telah terbiasa memelihara nalar fungsional dalam membangun hubungan dengan orang lain. Padahal, kita tentu menyadari sepenuhnya apa dampak buruk yang disebabkan olehnya. Untuk itu, jika kita menghendaki terciptanya tatanan sosial yang lebih baik, di mana antara individu yang satu dengan lainnya sanggup saling mengafirmasi tanpa pretensi apapun, maka kita harus merubah perspektif ontologis kita terhadap orang lain. Artinya, kita harus berani menyuarakan antitesis murni atas logika matematis-fungsional yang sampai sekarang masih bercokol kuat dalam pikiran kita.

Dalam konteks ini, pesan Emmanul Levinas, seorang filsuf eksistensialis Prancis, sangat relevan untuk wacanakan. Jika kita menghendaki hubungan kita dengan orang lain dapat berlangsung secara damai, kata Levinas, kita harus mampu memposisikan “orang lain” dalam keberlainannyadalam alteritasnya. Kita harus melihat orang lain sebagai subjek yang mandiri. Kita harus selalu menangguhkan setiap keinginan kita untuk menguasainya. Jika orang lain hanyalah objek bagi kita, maka kelainannya, kediriannya, akan lenyap. Kita harus berani menerima bahwa pembentukan identitas kita selalu sudah berdasarkan sebuah peristiwa asali yang terulang setiap kali kita bertemu dengan orang lain.

Setiap kali kita bertemu dengan orang lain, terjadi sesuatu yang mendasar, yaitu kita menjadi bertanggung jawab atasnya. Kita harus menerima bahwa diri kita berada dalam situasi terdakwa ketika bertemu orang lain. Orang lain merupakan tantangan—juga sebuah panggilan. Kehadirannya memaksa kita meletakkannya sebagai sebuah misteri yang menegasi semua bentuk refleksi, definisi yang kita buat—karena hanya dengan syarat-syarat itulah kita sanggup menerima orang lain tanpa syarat.

Terkait dengan model penghayatan di atas, Idul Fitri dapat dimaklumatkan sebagai momen partisipasi tanpa syarat yang kira-kira sama seperti yang dibayangkan oleh Levinas. Idul Fitri, adalah momen partisipasi yang membuka jalan bagi suatu pertemuan primordial, di mana antara kita dan orang lain tertakdirkan hadir bersama untuk melestarikan kehidupan. Idul Fitri juga menyadarkan kita bahwa kehidupan ini harus dibangun di atas pondasi persekutuan antara kita dengan orang lain, sehingga kita sanggup memaknai bahwa kehidupan adalah sebuah horizon bagi kehadiran bersama. Selagi hubungan kita dengan orang lain masih dinodai dengan berbagai macam persyaratan, maka pada saat itulah sebenarnya kita telah menyemaikan bibit-bibit permusuhan dan kebencian di atas muka bumi.

Afthonul Afif, Mahasiswa Psikologi Klinis Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta. Staf Peneliti Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: