Posted by: psikotikafif | September 2, 2008

Pertarungan Identitas di Balik Batu

Ruang Baca Edisi 31 Agustus 2008

U L A S A N


Pertarungan Identitas di Balik Batu

Judul : Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias

Penulis : Jajang A. Sonjaya

Cetakan : I, 2008

Tebal : xv + 147 hlm.

Penerbit : Impuls dan Kanisius, Yogyakarta.


Pulau Nias, yang secara administratif terletak di Provinsi Sumatra Utara, merupakan pulau terpencil yang di dalamnya berkembang salah satu kebudayaan tertua di Nusantara. Menurut Teori Persebaran Kebudayaan, leluhur orang Nias saat ini berasal dari daerah Yunan, Cina bagian selatan, yang bermigrasi sekitar 3.500 tahun yang lalu ke pulau ini.

Pendapat ini diperkuat dengan bukti-bukti arkeologis berupa peralatan-peralatan yang dibuat orang Nias dan gaya arsitektur yang berkembang di sana. Pengaruh itu berupa motif kepala naga (hewan yang melegenda di Cina) yang terdapat pada pegangan atau gagang pedang, bagian depan rumah bangsawan, peti mayat, dan sejumlah benda-benda peninggalan zaman megalitikum.

Dalam konteks kebudayaan Nusantara, Nias adalah representasi dari kejayaan zaman megalitikum atau zaman batu besar. Tradisi pembuatan benda-benda kebudayaan yang terbuat dari batu sangat massif di pulau ini–dan mungkin tidak dapat dicari bandingannya di kawasan-kawasan Nusantara lainnya. Hampir setiap jengkal di daerah Nias tersebar batu-batu besar dengan berbagai bentuk, seperti menhir, dolmen, peti kubur, tugu, arca megalitik, tangga rumah, dan tempat duduk.

Bagi penduduk Nias, batu telah menjadi penanda bagi identitas seseorang dan tertib sosial. Orang Nias secara turun-temurun mewarisi ritual dan tradisi yang kompleks, di mana hampir di setiap momen tradisi tersebut selalu melibatkan unsur batu di dalamnya. Batu digunakan sebagai alat untuk mengabadikan momen-momen penting, seperti upacara kelahiran, perkawinan, peneguhan status seseorang (owasa), pemujaan roh leluhur, hingga kematian. Di balik batu tersebut terpahat berbagai makna, seperti makna religi, status sosial, keabadian, pengabdian (terhadap leluhur), dan pengetahuan.

Meskipun ditulis seorang arkeolog, buku ini tidak sekadar menjelaskan artefak-artefak batu sebagai satu-satunya unit analisis. Penulisnya berhasil menjalin tema-tema, seperti asal-usul manusia, tradisi berburu kepala (mangani binu), tradisi membeli perempuan, berpadunya animisme dengan agama baru, serta pesta-pesta adat, hingga membentuk narasi yang integratif dengan batu sebagai simpulnya.

Satu hal yang menurut saya juga menarik dari buku ini adalah sudut pandang yang digunakan penulis dalam membahas kebudayaan Nias. Sebagai seorang peneliti, penulis cukup berani dan kreatif. Dengan memadukan berbagai disiplin, seperti sejarah, antropologi, sosiologi, dan mitologi, kajian arkeologi menjadi lebih hidup dan mampu menampilkan fakta-fakta kebudayaan di balik benda-benda arkeologi yang bisu.

Salah satu hasil yang langsung bisa dilihat dari eksperimen kreatif penulis adalah terungkapnya hubungan antara ritus-ritus yang berkembang di Nias dengan dinamika pembentukan identitas orang Nias. Menurut kepercayaan orang Nias, pada hakikatnya sejak manusia dilahirkan ke bumi ia harus berjuang untuk mendapat gelar setinggi-tingginya dengan menyelenggarakan beragam ritus secara bertahap. Posisi ritus sangat penting dalam kebudayaan Nias, karena di balik semua ritus tersimpan semangat untuk menyemaikan harga diri dan identitas.

Kewajiban menyelenggarakan ritus bermula dari perkawinan. Setelah pasangan suami-istri dikaruniai anak, mereka wajib melaksanakan mamatoro toi nono atau ritus memberi nama kepada bayi yang baru lahir dengan memotong beberapa ekor babi sesuai kesanggupan. Setelah anak menginjak masa kanak-kanak, orang tua si anak wajib menyelenggarakan pesta dengan memotong satu hingga empat ekor babi yang dibagikan kepada keluarga dan tetangga. Pesta ini bertujuan untuk menanamkan perasaan harga diri pada anak melalui perhatian dari keluarga dan tetangga sekeliling (hlm. 89).

Orang tua juga wajib memotong 6-12 ekor babi setelah anak menginjak dewasa. Setelah itu, pesta yang lebih besar masih harus diselenggarakan. Dengan disaksikan seluruh anggota keluarga dan orang kampung, harga diri anak kembali dimuliakan dengan 24 ekor babi sebagai ongkosnya.

Budaya patriarki Nias membuat semua pesta yang dilaksanakan selalu dalam konteks kebutuhan kaum laki-laki. Puncak dari semua pesta yang harus ditunaikan oleh laki-laki Nias adalah Owasa, pesta terbesarnya. Kala itu ratusan ekor babi dipotong, puluhan gram emas dibagikan, dan ribuan tamu dijamu makanan selama tiga hari tiga malam. Meskipun pelakunya harus menanggung risiko ekonomi yang serius, demi harga diri pesta itu harus ditunaikan. Dampak sosial Owasa sungguh luar biasa. Jika seseorang telah menunaikan Owasa, maka setiap perkataannya dengan sendirinya telah menjadi hukum adat.

“Semua perjuangan sudah gagal karena tradisi. Namun, yang namanya adat sudah mendarah daging sehingga akan menjadi beban jika tidak dilaksanakan.” Demikian kesaksian salah seorang responden dalam buku ini tentang Owasa yang dilaksanakannya. Pundi-pundi kekayaan yang dikumpulkannya selama puluhan tahun ludes atas nama tradisi ini. Bahkan, dia masih harus menanggung sejumlah utang meskipun Owasa sudah ditunaikan puluhan tahun yang lalu.

Berbicara tentang identitas dan harga diri, orang Nias juga mewarisi sebuah tradisi yang bernama Mangani binu, yang oleh banyak pengamat luar dianggap biadab. Mangani binu adalah tradisi berburu kepala manusia untuk keperluan memuliakan harga diri. Dulu, sebelum Kristen datang, simbol kejayaan laki-laki Nias ditentukan oleh seberapa banyak kepala manusia yang telah dipenggalnya. Semakin banyak kepalanya, semakin diseganilah dia.

Waktu itu, tradisi Mangani binu juga berlaku bagi kaum lelaki yang akan meminang calon istrinya. Ia harus mempersembahkan kepala musuh kepada keluarga calon mempelai perempuan. Semakin banyak jumlah kepala yang ditunjukkan di depan calon mertua, maka semakin berharga lelaki tersebut.

Meskipun tradisi Mangani binu sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat Nias, namun pembunuhan dengan memenggal kepala masih kerap terjadi hingga sekarang. Menurut kesaksian penulis selama meneliti di sana, bayang-bayang pemburu kepala di masa lalu masih menghantui kehidupan kebanyakan orang Nias saat ini. Anak-anak kecil selalu dilarang bermain pada saat hari menjelang malam agar terhindar dari petaka itu. Kebiasaan para lelaki dewasa Nias yang selalu membawa senjata tajam ketika berpergian malam hari juga menunjukkan betapa bayang-bayang Mangani binu masih kuat pengaruhnya di Nias (hlm. 72).

Mengapa demi harga diri orang Nias bersedia dan sanggup melakukan sesuatu di luar batas-batas kelaziman? Sayang sekali, buku ini tidak menyediakan cukup jawaban atas pertanyaan ini.

Johannes Hammerle dalam Asal-Usul Masyarakat Nias (2001) mengajukan sebuah jawaban. Menurut dia, orang Nias mendiami kawasan yang secara topografis membuat mereka harus tetap selamat. Hidup di kawasan terpencil dengan sumber daya alam yang terbatas membuat persaingan antarsesama orang Nias menjadi kuat. Karena telah menjelma mejadi pola perilaku, suasana persaingan itu menjalar hingga ke semua lini kehidupan orang Nias, yang selanjutnya berujung pada persaingan memperebutkan prestise di ruang sosial.

Setelah ajaran Kristen mulai menancapkan pengaruhnya di Nias sejak akhir abad ke-19, ritual-ritual adat yang tidak sesuai dengan iman Kristen mulai ditinggalkan. Kristen melarang pembunuhan antarsesama manusia, mengutuk tradisi pemujaan roh leluhur, melarang mendirikan menhir dan membuat patung untuk mengenang leluhur yang sudah meninggal, dan melarang pesta-pesta besar karena terlalu boros.

Transformasi adat ini berlangsung cukup massif. Keajaiban dalam pengabaran Injil terjadi pada 1916 ketika digelar Fangefa Sebua (Pengampunan Besar) atau Fangesa Sebua (Pertobatan Massal) yang dimotori oleh misionaris Kristen (zendeling). Sejak peristiwa tersebut, orang-orang Nias mulai berani menghanyutkan patung-patung perwujudan nenek moyang mereka, menhir, patung-patung dewa, dan benda-benda peninggalan leluhur lainnya ke sungai.

Keberhasilan misi Kristen di Nias juga banyak ditentukan oleh strategi yang cerdik dalam mengkonversi ritual-ritual adat sehingga makna ritual tersebut bergeser. Contohnya adalah diberlakukannya ritual fanano buno (menanam bunga) sebagai ganti famaoso dalo (mengangkat tengkorak kepala orang yang sudah meninggal).

Contoh lainnya adalah tradisi lompat batu di Nias. Tradisi ini berkembang bersamaan dengan hadirnya para zendeling di pulau ini. Tradisi ini sengaja diciptakan untuk menghapus tradisi berburu kepala. Simbol kehebatan yang pada awalnya ditentukan oleh seberapa banyak jumlah kepala yang berhasil dipenggal berusaha diganti dengan kemampuan menaklukkan tumpukan batu yang menjulang.

Namun, resistensi terhadap agama baru juga muncul. Hal ini disebabkan oleh ketidaksetujuan sebagian orang Nias terhadap agama Kristen yang cenderung membenci adat. Gerakan resistensi di Nias lazim disebut sebagai Fa’awosa. Gerakan ini telah melahirkan sekte-sekte yang memadukan berbagai unsur kepercayaan, seperti ajaran Kristen, Islam, dan unsur-unsur budaya megalitik. Menurut catatan Kantor Urusan Agama Nias, sampai tahun 2006, sedikitnya telah berkembang 58 sekte di Nias. Hal ini menunjukkan bahwa orang Nias belum mengikhlaskan adat yang mereka warisi dari leluhurnya lenyap ditelan kehadiran agama baru.

Kehadiran buku ini menurut saya tepat waktu, karena setelah gempa besar dan tsunami melanda Nias pada 2004, perhatian masyarakat luar tersedot pada fenomena tersebut, sehingga kekayaan tradisi yang berkembang di Nias luput dari perhatian. Buku ini adalah semacam reportase etnografis penulisnya yang berusaha menampilkan identitas kebudayaan orang lain dengan derajat analisis dan empati yang tinggi.

Latar belakang penulisnya yang berasal dari budaya Sunda-Jawa sepertinya tidak menjadi kendala dalam mengakrabi budaya lain. Ini terbukti dengan kelincahannya dalam mengisahkan budaya Nias secara cair dengan bahasa sehari-hari yang nyaris tanpa pretensi ilmiah. Yang jelas, buku ini akan membawa pembaca memasuki relung-relung sejarah kebudayaan Nias yang terentang dari zaman prasejarah hingga masa kini.

Afthonul Afif, peneliti di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: