Posted by: psikotikafif | July 22, 2008

Ciuman dan Tragi Sebuah Generasi

ciumanPada tahun 1895, Lumière bersaudara memperkenalkan sinematograf untuk pertama kalinya di dunia. Satu tahun setelahnya, The Widow Jones, film yang diproduksi Broadway, rumah produksi yang dipimpin Thomas Edison, menyuguhkan adegan ciuman untuk kali pertama bagi publik Amerika. Waktu itu, pengaruh puritanisme Victorian masih cukup kuat, sehingga adegan ciuman yang hanya berlangsung tak lebih dari 25 detik itu tetap melahirkan kontroversi di seantero Amerika.

Bahkan di tahun 1930, sebuah aturan—yang kemudian disebut sebagai Hollywood Code—secara rinci mendefinisikan ciuman, di mana ciuman erotis yang menggunakan bibir dan lidah harus dihindari. Si pembuat aturan tersebut menghendaki bahwa ciuman yang boleh ditampilkan dalam sebuah film hanyalah ciuman yang mewakili dorongan cinta yang hakiki, bukan ciuman vulgar yang mengumbar berahi. Baru tiga dekade lebih setelah itu, tepatnya tahun 1968, secara resmi Hollywood Code dihapus.

Penggalan sejarah di atas mengingatkan saya pada kasus yang hampir serupa. Beberapa tahun yang lalu, publik Indonesia sempat dihebohkan oleh film Buruan Cium Gue—yang di dalamnya juga menyuguhkan adegan ciuman para pemainnya. Meskipun hanya tampil di layar film, adegan tersebut tetap menyulut kontroversi, terutama bagi sebagian masyarakat yang khawatir norma-norma kepatutan akan meluruh dari bumi Indonesia. Atas nama agama dan moralitas, film tersebut akhirnya ditarik dari peredaran.

Barangkali yang dikhawatirkan sebagian masyarakat Indonesia bukanlah tindakan mencium itu sendiri, melainkan bagaimana—atau dengan cara seperti apa tindakan tersebut ditampilkan. Saya menduga, ciuman yang dimaksud adalah ciuman erotis yang dapat mengundang syahwat—sebuah praktek yang menyatukan bagian-bagian tertentu dari mulut—ketika bibir ketemu bibir dan lidah ketemu lidah. Sebab, ciuman sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia. Hanya saja, ketika ditilik sejarahnya, ciuman dengan menggunakan bibir memang kurang populer di Indonesia.

Dalam Serat Centhini misalnya, kitab yang sering disebut sebagai Kamasutra-nya orang Jawa, teknik berciuman menggunakan bibir akan sulit dijumpai. Dalam kitab tersebut, disebutkan berbagai teknik ciuman untuk merangsang pasangan, seperti ciuman pipi, hidung, alis, mata, susu, leher, perut, telinga, dan sebagainya. Namun, ciuman dengan menggunakan bibir dan lidah tak disebutkan sama sekali. Hal inilah yang mungkin membuat masyarakat Indonesia memaklumi adegan ciuman yang dilakukan oleh Roy Marten, Rhoma Irama, Lidya Kandauw, atau Rano Karno, pada film-filmnya di tahun 1980-an, karena pada umumnya ciuman yang meraka lakukan tidak menggunakan bibir dan lidah.

Ciuman tanpa melibatkan bibir dan lidah oleh Alfred Wallace, seorang evolusionis awal, disebut sebagai The Malay Kiss. Ciuman model ini juga lazim ditemukan di kawasan Asia lainnya, kecuali India. Bahkan, di China dan Jepang, dua bangsa yang memiliki peradaban yang dianggap lebih maju, ciuman mulut jarang dipraktekkan pada zaman dulu (Malinowsky, The Sexual Life of Savages in Northwestern Melanesia, 1929: 330).

Dari secuil data tersebut, saya memberanikan diri untuk membuat sebuah hipotesis bahwa resistensi sebagian masyarakat Indonesia terhadap adegan ciuman menggunakan bibir tidak seratus persen didasarkan atas alasan moral atau agama, tetapi mungkin juga karena kegagapan berhadapan dengan sebuah tradisi asing, yaitu tradisi Barat. Padahal, ketika kita meninjau sejarahnya, ciuman menggunakan bibir di dunia Barat (terutama Eropa) tidak selalu bernuansa erotis.

Menurut Keith Thomas, ciuman di Eropa memiliki riwayat yang panjang, sehingga ciuman merupakan praktek yang sangat umum di sana. Pada abad pertengahan, misalnya, orang Eropa telah mengenal ciuman dengan mulut—yang biasa dipraktekkan dalam upacara-upacara, baik upacara keagamaan maupun upacara sekuler—yang dimaksudkan sebagai ungkapan kedekatan hubungan sosial, politis, dan individual (Harvey, The Kiss in History, 2005: 191). Adalah lazim waktu itu, bagi sang penerima tamu mencium mulut tamunya sebagai semacam kode etik penyambutan. Tradisi ini berlangsung hingga sekarang, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa ciuman mulut telah jauh mengalami transformasi, terlebih lagi ketika struktur ruang mulai terbagi—antara yang publik dan yang privat.

Tentang hal ini, Eva Illouz, dalam bukunya yang berjudul Consuming the Romantic Utopia: Love and the Cultural Contradictions of Capitalism (1997), cukup cermat menggambarkannya. Mengambil unit analisis kehidupan romantis anak muda di Amerika, dia memperkenalkan istilah ”islands of privacy”. Yang dimaksud dengan pulau-pulau pribadi itu adalah tempat-tempat yang dipersepsi bernuansa privat, namun sejatinya keberadaannya tetap di tempat umum, seperti bioskop, kafe, klub, mobil, dan lain-lain. Di tempat-tempat ini, imajinasi ruang-waktu terbentuk secara—dan dihayati dengan motif-motif yang khas—sehingga sanggup menjamin kenyamanan individual. Secara sosiologis, hal ini mengkondisikan orang lain untuk tidak campur tangan—di satu sisi—dan memberikan kesempatan bagi relokasi praktek bermesraan—dari rumah ke tempat lain untuk menghindari pengawasan orang-orang dekat, anggota keluarga misalnya.

Apa yang dikemukakan oleh Eva Illouz di atas, sedikit banyak juga berlaku di Indonesia. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Martin Slama, Antropolog sosial dari Austria. Meskipun hampir sebagian besar anak muda di Indonesia menganggap ciuman di tempat umum adalah tindakan yang kurang terpuji, namun ketika mereka ditanya di mana tempat yang kira-kira paling pas untuk melakukannya, jawaban sebagian besar responden menjurus pada pulau-pulau pribadi-nya Illouz, seperti alun-alun kota, bioskop, taman, dan lain-lain. Tak ayal lagi, fenomena ini secara tidak disadari telah menunjukkan ambiguitas sikap generasi muda Indonesia saat ini. Di satu sisi mereka menolak adegan bermesraan di tempat umum, namun di lain sisi, mereka mengafirmasi tindakan tersebut ketika dilakukan di tempat umum yang dibubuhi tanda kutip. Namun, hal ini tidak bisa semena-mena dianggap sebagai inkonsistensi, karena mereka tidak sepenuhnya menyadari hal tersebut, karena situasi yang mereka hadapi ternyata jauh lebih pelik dibandingkan dengan situasi semasa generasi kakek-nenek atau bapak-ibu mereka.

Mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit. Di satu sisi mereka dituntut mampu memegang teguh norma-norma lama yang menabukan bermesraan di tempat umum, namun di lain sisi mereka juga butuh suasana intim untuk saling mengenal satu sama lain (yang tak jarang melibatkan kontak fisik yang intens, termasuk memraktekkan ciuman bibir) agar kelak mereka tidak keliru dalam memilih pasangan. Belum lagi ketika faktor infrastruktur kebudayaan massa turut dipertimbangkan, yang semakin memberi peluang bagi terciptanya momen keintiman lebih lanjut. Merujuk pada fenomena ini, saya akhirnya mengambil sikap berbeda dengan sebagian orang yang mengatakan bahwa cara anak muda Indonesia saat ini dalam membangun hubungan pranikahnya sudah kelewat batas atau bentuk pemberontakan terhadap norma-norma generasi sebelumnya.

Dengan demikian, berbicara tentang ciuman tidak perlu terburu-buru menghubungkannya dengan penilaian-penilaian moral tertentu. Sebab, sebagai sebuah ekspresi kebudayaan, ia nyaris muncul dengan sendirinya, berawal dari dorongan instingtif yang kemudian berusaha mencari bentuk. Sehingga, menilainya dengan standar-standar moral tertentu dapat dikatakan sebagai keteledoran. Cara yang semena-mena mengutuk ciuman di tempat umum sebagai tindakan asusila juga patut dicurigai. Sebab, dalam diskursus ciuman, terdapat kekuatan-kekuatan yang sengaja maupun tidak, saling bersaing untuk memenangkann penguasaan atas kehidupan di ruang privat maupun di ruang publik. Dengan lain kata, baik yang mengutuk maupun yang menolelir praktek ciuman di ruang publik, masing-masing memiliki dalih yang secara langsung maupun tidak, terkait dengan hasrat untuk menguasai opini publik.

Justru yang menurut saya jauh lebih penting adalah melakukan kajian komparatif-investigatif, yang menempatkan ciuman sebagai sesuatu yang manusiawi, atau obyek kajian tentang salah satu bentuk eksperimentasi hidup berbudaya. Mengapa kita sebagai orang Indonesia kurang terbiasa melakukan ciuman dengan menggunakan bibir, sedangkan orang Eropa tidak? Mengapa kita nyaris tidak berusaha mencari jawab tentang penilaian bahwa ciuman menggunakan bibir (terlebih lagi dilakukan di tempat umum) memiliki valensi negatif secara moral? Apa alasannya? Sejak kapan ciuman di tempat umum mulai diperkarakan? Kenapa ciuman di tempat umum dalam situasi tertentu diperbolehkan (misalnya dalam tradisi omed-omedan di Bali), sedangkan di situasi yang lain tidak? Pemakluman seperti apa yang berlaku di dalamnya? Pertanyaan-pertanyaan ini memang sengaja diajukan (tanpa sebuah jawaban), agar kita lebih serius berpikir kenapa kita sering membenci praktek kebudayaan yang kita ciptakan sendiri.

Afthonul Afif, Peneliti Sosial, Tinggal di Yogyakarta.


Responses

  1. Halo Mas, kebetulan saya sedag menulis tentang “privatisasi ruang publik dalam kasus ciuman romantis”.

    Saya tinggal di Yogyakarta juga. Apakah bisa bertemu untuk share ide?

    Sebelumnya trims atas bantuannya.
    Salam,
    Adriani


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: