Posted by: psikotikafif | July 3, 2008

ALIENASI HARMONI JAZZ DI “TELINGA DANGDUT”

(menanggapi artikel Dr. Heru Nugroho tentang ‘Memahami Musik Jazz’)
Oleh: Doni Riwayanto <Doni_riwayanto@yahoo.co.id>

Suatu anggapan bahwa jazz memiliki sofistikasi tinggi sehingga memerlukan kapasitas intelegensia yang lebih dari pada memahami musik non jazz, boleh jadi merupakan sebuah klaim yang sewenang-wenang. Namun fenomena lebih diterimanya harmoni dangdut daripada harmoni jazz, bukan semata-mata suatu kebiasaan telinga seseorang menerima harmoni tersebut. Bahkan kita mesti bertanya lagi ‘Harmoni jazz yang mana? Ragtime, swing, bebop, free jazz, fusion atau yang lain?’ Pemahaman tentang hal ini akan semakin membuka mata, dengan strategi apa mensosialisasikan jazz di tanah air tercinta? Karena untuk jadi pemenang, kita mesti memandang dunia (dalam hal ini musik jazz) lebih lengkap lagi. Historis, ideologis, dan gramatik musik jazz sendiri. Pendekatan historis-pun jangan hanya terpaku ‘dari mana’ dan ‘kenapa dia lahir’, tetapi juga ‘bagaimana dia dibesarkan’. Masalah gramatik musik, penulis disini akan fokus memperlihatkan aspek-aspek yang Mempengaruhi kenapa harmoni jazz susah diterima ‘telinga dangdut’ (maksudnya telinga kita semua yang hidup di negeri dangdut).

Tonalitas dan Modalitas Sebagai Dasar Pembentukan Harmoni Jazz

Pertama kali adalah menyepakatai soal definisi harmoni. Secara umum harmoni sering disebut dengan kata lain: keselarasan, keserasian, kesesuaian, dan semacamnya. Di dalam kajian musikologis sering diartikan sebagai keselarasan antar nada. Lebih khusus lagi keselarasan antar pitch. Baik yang berbunyi secara vertikal (yang kemudian menjadi akord), ataupun yang berbunyi secara horisontal (yang kemudian menjadi melodi).

Musik jazz konvensional (mainstream jazz) dibangun di atas harmoni tonal, yang dikombinasikan dengan harmoni modal. Kenyataan ini mengingatkan kita akan sebuah realitas bahwa jazz dibangun dari perpaduan dua budaya yang berbeda di Amerika, kulit hitam – kulit putih. Yang berbanding lurus dengan tradisi harmoni tonal – tradisi harmoni modal. Tradisi improvisasi – tradisi komposisi. Fenomena ini di gambarkan secara gamblang oleh kemunculan big-band di era dan gaya swing, suatu jenis musik yang pertama kali dapat diterima oleh kedua ras yang berbeda di Amerika. Gaya-gaya sebelum itu seperti ragtime, new-oerleans, dixieland, dan kansasn-style, hanya berlaku di kalangan kulit hitam saja.

Namun free jazz, dibangun dengan pembaruan yang sangat mendasar, yaitu pembebasan atas nilai-nilai tonal (free tonality) atau meminjam istilah Arnold Schoenberg ‘atonal’. Karena free jazz memang sering dibandingkan dengan perkembangan ‘musik seni’ yang merupakan perpanjangan dari perkembangan sejarah ‘musik tradisional Barat’ (renaesance, barok, klasik, romantik, modern, postmodern). Oleh karena itu, segampang itukah ‘telinga dangdut’ menerima harmonisasi free jazz yang mengadopsi estetika atonal? Karena nada-nada penyusun musik dan tonalitas adalah natural dan inherent. Ini dibuktikan oleh hadirnya fenomena akustik dengan overtoneseries yang dicetuskan oleh Phytagoras.

Sedikit melenceng dari tema, sebenarnya saya cukup keberatan dengan klaim bahwa free jazz merupakan tonggak perkembangan jazz postmodern, mengingat free tonality sebagai karakter utamanya. Bitonal, polytonal, atonal, free-tonal, dan semacamnya merupakan buah dari rasionalisasi atas tonal, kemudian membawanya terjebak lebih jauh dalam hitungan yang terlampau matematis (meski begitu tidak semua musik yang malakukan distorsi terhadap tonal otomatis menjadi terlampau matematis, hanya sebagian saja!). Bukankah pendewaan atas rasio merupakan fenomena modernisme? Yang kemudian digugat oleh postmo. Sementara twelve-tone, tone-row, dodecaphonic, atau serial music, sebagai bentuk utama musik atonal – free tonal merupakan fenomena paling ekstrem dari intelektualisme musik (barat) modern. Bagaimana mungkin free jazz yang mengambil estetika musik modern dapat dikatakan sebagai tonggak postmo? Ironis memang, karena salah satu proyek postmodern didalam musik adalah dekonstruksi atas intelektualisme (yang kebablasan) dalam musik modern.

Mungkin kita jangan dahulu terlalu jauh melihat harmonisai free jazz yang free tonal itu. Pertama kita akan memahami harmoni jazz konvensional. Salah satu aspek pendukung harmoni jazz diambil dari sistem tonal. Tonalitas sendiri dapat diartikan sebagai suatu sistem tatanan nada-nada sesuai dengan hubungan hirarki antar pitch terhadap pusat nada yang disebut tonik. Tonik sendiri berawal dari nada terrendah dari suatu tangga nada, yang kemudian dikembangkan menjadi akord. Tonik berfungsi sebagai ‘pusat grafitasi’ bagi nada maupun akord lain di sekitarnya. Pergerakan nada maupun akord yang membentuk suatu frase dimotori oleh tegangan dan daya tarik menarik antara sifat conconant dan dissonant dari akord maupun nada. Pergerakan akord dari conconant ke dissonant dan kembali lagi ke conconant, disebut sebagai kadens. Kadens inilah yang menjadi pedoman dasar bagi penetapan suatu nada menjadi tonik dalam suatu frase musik.

Sementara modalitas merupakan tata aturan pergerakan nada-nada yang telah dikembangkan sejak abad pertengahan, di mana pergerakan nada tidak disandarkan pada kadens. Tetapi dalam setiap modus masing-masing memiliki kecenderungan pergerakan yang dipengaruhi oleh nada finalis dan nada dominan. Di dalam jazz, modus digunakan sebagai salah satu materi untuk menggembangkan improvisasi, dimana modus-modus tersebut digunakan di atas suatu akord-akord. Sehingga memunculkan aturan bagi penempatan modus terhadap akord. Pengaturan ini berbentuk penetapan bahwa dalam suatu tipe akord tertentu dapat dimainkan modus-modus tertentu. Tipe akord sendiri dibagi dalam tiga bentuk, mayor 7, minor 7, dan dominant 7. Dimana dalam tiap tipenya dikembangkan dengan nada-nada tambahan yang intervalnya semakin jauh. Teknik ini disebut sebagai chord superimposition.

Dari kedua tradisi tersebut, mengakibatkan harmoni yang dikembangkan dalam jazz menjadi begitu rumitnya (ditinjau dari kajian musikologis). Sementara secara praktis akord-akord yang muncul akan terdengar sangat dissonance. Jika tidak yakin buktikan saja. Cobalah memainkan akord C mayor (yang berisi nada C, E, G), kemudian bandingkan dengan akord C mayor 13 (yang berisi nada C, E, G, B, D, F#, A). Atau ketika anda memainkan akord dominant, umpamanya G7, gantilah akord tersebut dengan tritonenya: D(7. Jujur secara naluriah, telinga seluruh manusia di dunia (bukan cuma ‘telinga dangdut’ kita) akan setuju kalau akord C mayor lebih mudah dicerna ketimbang C mayor 13.


Musik dalam Belenggu “Rezim Industri Musik”

Inilah yang terjadi. Dangdut, pop/rock, dan hampir seluruh musik yang dibesarkan oleh ‘rezim industri musik’ memiliki struktur harmoni yang relativ lebih sederhana. Paling hanya triad mayor dan triad minor, sedikit dominant 7, triad diminished-pun jarang. Bahkan musik rock hanya mengeksploitasi power chord (yang hanya berisi dua nada: 1 dan 5) yang dimainkan oleh gitar dengan sound distortion yang pecah. Tentu ungkapan ini bukan bukan ditujukan untuk
mendiskreditkan musik-musik tersebut. Saya sama sekali tidak mengatakan bahwa musik-musik tersebut buruk dan tidak bermutu. Tetapi kenyataan bahwa musik-musik tersebut disusun dengan gramatik yang sangat sederhana, adalah benar adanya. Kita semua tentu tahu, sederhana tidak identik dengan buruk dan tidak bermutu (rupanya kajian tentang ‘mutu’ inipun membuka peluang perdebatan pula). Kesederhanaan gramatik ini bukan tanpa alasan tentunya. Pihak label rekaman tentu ingin produknya laris di pasaran. Segala carapun ditempuh termasuk penyederhanaan gramatik musik, dan biasanya jurus ini cukup ampuh. Artinya apa? Ketika suatu musik disederhanakan gramatiknya, lazimnya membuat musik tersebut semakin mudah dicerna. Dan ini merupakan keniscayaan dari perkembangan industri musik, kalau tidak ingin menyebutnya sebagai pemberangusan kreativitas.

Jazz sendiri bukannya tidak dibesarkan oleh industri musik. Pada awalnya justru jazz besar dari industri musik yang berupa entertainment (kelahiran swing). Kita tahu benar bahwa combo-combo jazz yang ternama pada waktu itu banyak lahir dari pub, night-club, dan semacamnya. Tetapi lama kelamaan kondisinya menjadi sama juga. Di mana komersialisasi hampir selalu diikuti dengan kompromi pada pasar dan relatif diikuti penurunan mutu karya. Adalah suatu kenyataan yang menyakitkan ketika Duke Elington (1899-1974) menyaksikan swing menjadi karya yang latah dan tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Kemudian dia berjuang untuk menunjukkan agar musiknya dapat diterima sebagai musik hiburan sekaligus ‘musik seni’. Atau jangan lupa pada reaksi masyarakat terhadap bebop, ketika pertama kali bebop muncul dengan gramatik musik yang lebih luas dan rumit, sebagai jawaban musisi-musisi jazz negro atas keprihatinan mereka terhadap swing. Dimana masyarakat tidak serta merta menerima musik yang ‘keras’penuh dengan chromaticism dan dissonance ini. Cobalah kita lihat ketika Charlie Parker (1920-1955) mengungkapkan bahwa dia bosan mendengar akord-akord yang klise, kemudian lambat laun mendengar akord-akord yang lebih luas dan rumit, kemudian sedikit demi sedikit dia dapat memainkannya. Charlie musisi besar yang belajar musik dari Schoenberg, Webern, Strawinsky (musisi-musisi kontemporer ‘musik tradisional Barat’), itupun tidak dapat dengan serta merta mencerna harmoni yang lebih lebar dar rumit. Dan
kenyataannya memang tidak mudah.

Mungkin kita juga perlu mengingat ketika Miles Davis (1926-1992) ‘dipaksa’ oleh label rekamannya Columbia untuk merubah gaya musiknya agar ‘lebih dapat diterima masyarakat’ karena penjualan album-album Davis mulai mengalami penurunnya (ketika itu sedang booming gaya jazz rock). Dan akhirnya Davis menyederhanakan musiknya, seperti yang terjadi pada musik-musik jazz rock yang lain. Kemudian albumnya laris manis bak kacang goreng yang penjualnya menggunakan dukun penglaris. Di sini kita lihat, dalam musik jazz-pun terjadi fenomena perbedaan gramatik, yang mengakibatkan musik yang memiliki gramatik
lebih sederhana menjadi lebih mudah diterima serta dicerna oleh siapapun, tanpa membedakan ‘gedongan’ dan ‘Kampungan’.

Kesimpulannya adalah: dalam tahap-tahap tertentu, dalam masyarakat dimana jazz lahirpun, tidak mudah mensosialisasikan perkembangan harmoni yang cenderung semakin rumit ini (Memang tidak semua gaya jazz disusun atas harmoni yang rumit, jazz-rock/fusion contohnya. Banyak komposisi fusion yang menahan satu akord sepanjang berpuluh-puluh birama. Bandingkan dengan bebop yang dalam kondisi tempo sangat cepat, menaruh dua akord dalam satu birama, dengan akord dissonance pula).


Harmoni Jazz vs Harmoni Dangdut

Penulis percaya, bahwa musik merupakan semacam bahasa dari suatu budaya. Di mana jika musik tersebut ‘dibiasakan’ pada suatu komunitas tertentu, maka lambat laun komunitas yang bersangkutan akan terbiasa terhadap musik tersebut. Namun logika perbandingan harmoni jazz dengan harmoni dangdut bagi masing masing komunitasnya, tentu tidak bisa segegabah itu. Kalau tidak percaya sekali lagi dengarkan dan bandingkan akord C mayor dengan C mayor 13.
Apakah ‘ketidak nyamanan’ akord C mayor 13 ini hanya merupakan ‘relativitas budaya’? Atau lebih karena nada-nada penyusun musik dan tonalitas adalah natural dan inherent.
Kita mungkin juga perlu mempertimbangkan bahwa akord-akord yang menyusun dangdut, dan akord-akord yang menyusun jazz, sama-sama dibangun di atas budaya harmoni tonal. Jadi siapa bilang harmoni dangdut dan harmoni jazz adalah dua budaya yang berbeda? Dan yakinkah kita jika ‘orang New-Oerleans’ akan asing mendengar harmoni dangdut? Coba perdengarkan pada orang tersebut triad mayor dan triad minor (akord-akord yang biasa digunakan dalam harmoni
dangdut). Pasti si ‘orang New-Orleans’ itu tidak akan asing dengan akord tersebut. Dan ternyata kata kuncinya cuma satu, ‘harmoni’. Mungkin penggunaan kata ini tidak cukup tepat.

Mengatur Strategi

Sekarang persoalannya adalah, dengan strategi apa mensosialisasikan jazz di tanah air tercinta? Ini tentu bukan persoalan mudah yang dapat dicetuskan oleh satu orang. Mungkin setelah mengatasi persoalan elitis dan eksklusifisme yang melingkupinya, salah satu hal yang mesti dipertimbangkan adalah kenyataan bahwa gramatika musik jazz memang relativ lebih rumit dibanding musik populer lain (meskipun tidak semua gaya jazz memiliki gramatika yang rumit, namun yang sering disebut sebagai inti musik jazz biasanya memiliki gramatika yang rumit). Oleh karena itu proses pembelajaran apresiasi atas musik jazz mesti dilakukan bertahap, mulai dari yang sederhana (easy listening) terus meningkat sampai free jazz yang free tonality itu (padahal musik-musik atonal biasanya hanya bisa diapresiasi dengan rasio bukan dengan rasa). Tidak mudah memang. Semoga kita tidak cukup naif untuk terlampau heroik membela ‘kaum yang lemah’ agar bisa menikmati free jazz. (*/dari berbagai sumber/WartaJazz.com)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: