Posted by: psikotikafif | June 30, 2008

Bahagia Berbekal Kecerdasan Sosial

Judul Buku: Social Intelligence: Ilmu Baru Tentang Hubungan Antar-Manusia

Penulis: Daniel Goleman

Penerjemah: Hariono S. Imam

Cetakan: I, 2007

Tebal: viii+546 hlm

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Sejak digunakannya tes IQ secara luas pada tahun 1920-an di Amerika Serikat, telah lahir di dunia ini semacam jalan pintas untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang. Tingkat kecerdasan seseorang dapat ditentukan hanya dengan mengetahui berapa skor total tes IQ yang diperolehnya. Orang yang memiliki skor total tinggi, berarti dia cerdas. Sebaliknya, bagi siapa saja yang memperoleh skor rendah, maka dia dianggap bodoh.

Melalui buku Emotional Intelligence, yang menurut New York Times sebagai salah satu buku terlaris dunia, Goleman meyakinkan masyarakat dunia bahwa ada yang keliru dalam cara kita mempersepsi apa arti cerdas selama ini. Cerdas bukanlah semata-mata memiliki skor matematika tinggi atau masuk pada level superior berdasarkan tes IQ, tetapi juga terkait dengan kematangan emosi yang dimiliki seseorang, seperti empati yang tinggi, cakap dalam bersosialisasi, memiliki jiwa altruisme, dan sebagainya.

Konsistensi Goleman dalam mengkaji dan mempopulerkan tema Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence) semakin terbukti dengan hadirnya buku Social Intelligence ini. Sebelumnya, beberapa buku dengan label yang sama telah ditulisnya, termasuk Working with Emotional Intelligence dan Primal Leadership, di mana tingkat penjualannya selalu di atas lima juta kopi di seluruh dunia. Namun, pada bukunya yang terbaru inilah banyak kalangan menilai bahwa pencapaian intelektual Goleman menunjukkan daya pukaunya, brilian, karena berhasil mesintesiskan dengan sempurna berbagai macam temuan-temuan mutakhir dalam bidang ilmu psikologi, biologi dan penelitian ilmiah tentang otak.

Gagasan mendasar yang hendak disampaikan Goleman dalam bukunya ini adalah bahwa kita pada hakikatnya tercipta untuk berhubungan dengan orang lain. Jauh dari yang kita sadari, pertemuan kita dengan pasangan, orang tua, teman, atasan, bahkan orang-orang asing dalam kehidupan kita ternyata telah membentuk otak kita dan mempengaruhi pertumbuhan sel-sel dalam tubuh kita, sampai tingkat gen-gen kita, secara baik atau buruk.

Dampak Biologis

Reaksi kita pada orang lain dan reaksi mereka kepada kita ternyata memiliki dampak biologis yang mendalam, dengan mengirimkan sejumlah besar hormon yang mengatur segala hal, mulai dari jantung kita sampai sistem kekebalan tubuh kita. Hal ini menjadikan hubungan baik kita dengan orang lain itu ibarat vitamin dan hubungan buruk kita dengan orang lain ibarat racun. Setiap kali kita terjangkiti emosi-emosi negatif seperti benci dan marah, tanpa kita sadari, tubuh kita memproduksi hormon-hormon yang menghambat pertumbuhan sel-sel kekebalan dalam tubuh kita.

Begitu juga ketika kita sedang dilanda stres, sel T yang berperan sebagai sistem kekebalan dalam tubuh kita mengalami kemerosotan jumlah yang drastis, sehingga tubuh kita menjadi rentan terhadap setiap serangan penyakit. Maka tidaklah berlebihan apa yang ditekankan Goleman dalam buku ini, bahwa semakin berkepanjangan kita mengalami stres, maka semakin pendek usia kita.

Sehat dan sakit, menurut Goleman adalah pilihan sosial. Sebab, dalam struktur otak kita, sebenarnya terdapat basis-basis susunan saraf yang akan aktif ketika kita berhubungan dengan orang lain. Goleman menyebut sususan saraf ini sebagai otak sosial. Kemampuan untuk mengembangkan kecerdasan sosial dalam bentuk menjalin hubungan baik dengan orang lain merupakan jalan termurah untuk mencapai kualitas hidup yang sehat dan bahagia.

Semakin kita memiliki kecerdasan sosial yang baik, maka peluang kita untuk mengalami kehidupan yang berkualitas menjadi semakin tinggi. Sebaliknya, kita akan terperosok dalam kubangan lumpur penderitaan jika kita memelihara tiga sifat yang oleh Goleman disebut “Tiga Sekawan Kelam”, yaitu Narsisisme, Machiavellianisme, dan Psikopat atau menganggap orang lain sebagai objek.

Meskipun buku ini dikemas dalam gaya berbahasa yang ringan juga disertai banyak ilustrasi, tetap saja untuk memahaminya kita masih perlu mengerenyitkan dahi lantaran di dalamnya terdapat banyak istilah-istilah teknis ilmiah yang terkesan asing bagi pembaca awam. Namun, hal ini sepatutnya dimaklumi, karena hanya ada sedikit orang yang mampu menyimpulkan temuan-temuan ilmiah secara jernih dengan gaya berbahasa yang mudah dipahami layaknya Goleman. [Afthonul Afif, Penulis, Mahasiswa Psikologi Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: