Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Homo Fatalis Dan Pengharaman Infotainment

Ide Koran Tempo, Minggu 13 Agustus 2006

Afthonul Afif, Mahasiswa Psikologi Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta

Mengagetkan sekaligus mengherankan. Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (NU) dan Konferensi Besar Alim Ulama yang rampung beberapa pekan lalu ternyata menghasilkan salah satu keputusan yang mengharamkan keberadaan tayangan infotainment di stasiun-stasiun televisi swasta nasional. Sebagian pihak (terutama para pekerja infotainment) melihat fatwa tersebut adalah sikap yang berlebihan, namun tak sedikit di pihak lain menilai keputusan musyawarah tersebut menunjukkan telah kembalinya peran ulama dalam merespon permasalahan yang dianggap remeh-temeh—yang mungkin selama ini terabaikan akibat para ulama lebih menyibukkan diri menyikapi isu-isu politik yang kian tak menentu.

Sebagai pihak yang merasa bertanggung jawab atas kehidupan moral masyarakat, ulama memang memiliki kewajiban meluruskan sesuatu yang telah menyimpang dari kaidah-kaidah moral. Namun, fatwa haram yang terlanjur dikeluarkan tersebut akan terasa reaksioner ketika kita mencermati rasionalitas dibalik lahirnya fatwa itu. Lantaran alasan tayangan infotainment dianggap telah menyebarkan fitnah (lebih kejam dari membunuh) melalui pemberitaan atau gosip yang tak terjamah kebenarannya sehingga menyebabkan kerugian moral bagi pihak-pihak (kebanyakan para artis) yang diberitakan, dan menggiring masyarakat untuk menciptakan wahana pergunjingan, tayangan infotainment kemudian diharamkan.

Para ulama NU yang konon dikenal memiliki kadar toleransi (tasamuh) tinggi dan dalam pengambilan setiap keputusan selalu mempertimbangkan aspek-aspek yang lebih komprehensif (sosial, budaya, ekonomi, dsb,), dalam kasus ini terkesan menghindarinya dan mengambil sikap sangat normatif. Padahal, ketika kita berbicara tentang pihak yang paling dirugikan akibat serbuan tayangan infotainmnet menurut hemat saya bukanlah para artis yang digosipkan (justru mereka seringkali diuntungkan karena bertambah populer), melainkan masyarakat yang menontonnya. Bukan hanya karena alasan menyebarkan fitnah tayangan infotainment itu merugikan, tetapi yang lebih berbahaya sebenarnya adalah adanya transformasi secara besar-besaran citra-citra negatif yang mengkoloni kesadaran penonton yang berujung pada perilaku modelling.

Tingkat kepadatan jadwal penayangan infotainment juga telah mempercepat meluruhnya kaidah-kaidah kepatutan. Sesuatu yang dulu dianggap tabu dan sepele untuk dibicarakan, di tangan produser infotainment justru menjadi berita yang menarik; perceraian, perselingkuhan, putus cinta, pertengkaran anak dengan orang tua, bahkan penyakit flu para artis, dikemas menjadi mesin penggulung keuntungan yang ampuh.

Memang, kita juga tidak bisa memungkiri bahwa tayangan infotainment juga mendatangkan manfaat, tapi perlu diingat hal itu semata bersifat tidak langsung (indirect). Artinya bagi sebagian orang tayangan infotainment mungkin menyadarkan dirinya—bahwa dari pemberitaan-pemberitaan miring para pesohor di televisi ada hal-hal yang tak patut ditauladani.

Namun, sulit membayangkan semua penonton tayangan infotainment mampu mengambil jarak dan merefleksikan citra-citra tertentu yang dicecapnya. Karena jika dicermati, setiap informasi yang disuguhkan infotainment memang mengkondisikan penontonnya terkunci daya kritisnya. Pembawa acara yang rupawan dan mampu menarasikan setiap detail kehidupan pesohor secara tandas dibungkus dengan gosip yang menimbulkan decak kekaguman membawa penonton pada suasana yang kompleks—santai, menghibur, juga terjangkiti ketegangan untuk melibatkan diri. Bukanlah hal yang aneh jika ada penonton sampai mengekspresikan keekstriman respon manakala menyaksikan berita tertentu yang disuguhkan infotainment. Menangis cemburu ketika melihat sang idola mengakhiri masa lajangnya (ada perasaan kehilangan yang menyergap), memaki-maki ketika sang idola dicemarkan nama baiknya, atau pun menangis karena sang idola putus cinta—adalah bentuk-bentuk respon yang sering dijumpai sebagai akibat dari tayangan infotainment.

Secara psikologis, karakter tayangan yang ringan dan menghibur—disertai juga cara pengemasan yang menyeret emosi penonton untuk melibatkan diri dalam alur cerita membuat pikiran tak lagi menanyakan apakah informasi yang diterimanya itu realitas atau gosip dan bermanfaat atau tidak. Citra dan informasi yang disuguhkan infotainment telah terbenam dalam alam bawah sadar penonton—terdesain sedemikian rupa—hingga muncul kondisi ketergantungan tanpa alasan.

Subjek-subjek penonton infotainment merelakan dirinya terhanyut dalam rayuan citra, merelakan dirinya menjadi subsistem tak berjiwa dari industri budaya massa yang digerakkan oleh mesin kapitalisme yang haus keuntungan. Subjek semacam ini sebenarnya sudah kehilangan sifat-sifat kesubjekkannya, bahkan turun martabatnya menjadi objek yang siap dipermainkan. Inilah manusia yang oleh Baudrillard disebut manusia fatalis (homo fatalis)—manusia yang tidak berdaya di dalam kekuasaan objek, sehingga hanyut di dalam mekanisme dan logikanya. Manusia fatalis adalah manusia yang terserap ke dalam logika objek (logika infotainment, fashion, gaya hidup), yang tidak dapat melepaskan diri darinya, dan di dalamnya ia menjadi mayoritas yang diam, yang tak mampu melakukan kritik dan refleksi, dan—seperti sebuah spons—hanya dapat menyerap segala sesuatu, tanpa mampu menginternalisasikannya. Manusia fatalis adalah manusia yang memasuki dunia konsep, komunikasi, sistem informasi, atau objek yang telah berkembang ke arah titik ekstrim, tanpa mampu melakukan refleksi. Dari cirinya yang penuh bujuk-rayu dan digerakkan mesin yang mampu mengobjekkan penonton, infotainment dalam hal ini dapat disebut sebagai kondisi fatalitas—yang menjerembabkan penontonnya menjadi manusia-manusia fatalis.

Sepintas, sulit bagi penonton untuk mengidentifikasi kerugian yang dialaminya akibat penetrasi tayangan infotainment karena mereka tak menyadari telah bercokolnya bentuk-bentuk kekerasan yang mengarahkan mereka menjadi subjek-subjek fatalis. Kekerasan itu bukanlah kekerasan kasar dalam bentuk fisik, melainkan kekerasan yang beroperasi melalui sistem yang rumit karena ranah yang dikoloni adalah sistem yang rumit pula—kesadaran dan alam bawah sadar penonton. Senjata yang dioperasikan untuk melakukan tindak kekerasan itu berupa simbol-simbol artifisial yang memikat—atau secara sosiologis disebut kekerasan simbolik.

Kekerasan simbolik, oleh Bourdieu, adalah jenis kekerasan yang halus dan tak tampak yang menyembunyikan di baliknya pemaksaan dominasi. Dalam tayangan infotainment, kekerasan simbolik dapat beroperasi dalam bentuk gaya hidup (life style), fashion, atau pun cara bertutur para artis yang memistifikasi dirinya sehingga penonton tersihir untuk mengkopinya mentah-mentah. Belum lagi keelokan para pembawa acaranya yang sengaja dipersiapkan untuk menarasikan detail-detail cerita secara meyakinkan membuat penonton terpikat untuk kemudian akan setia menunggu tayangan-tayangan pada episode berikutnya. Rating tayangan yang tinggi, juga memungkinkan barisan-barisan iklan ikut serta dalam upacara penjajahan kesadaran penonton. Iklan-iklan ini memanfaatkan banyaknya pasangan mata yang setia-siaga mengikuti tayangan infotainmnet sampai salam perpisahan sambil menseparasikan bujuk-rayunya dan membangkitkan mesin hasrat penonton untuk mengkonsumsi tanpa batas.

Kondisi fatalitas, manusia-manusia fatalis, dan kekerasan simbolik, adalah istilah-istilah operasional yang sedikit banyak dapat digunakan untuk menganalisis beroperasinya tayangan infotainment. Infotainment, sebagai anak kandung budaya massa yang digerakkan industri budaya massa memang terkondisikan untuk membuang jauh-jauh pertimbangan moral-etis tertentu. Adalah spirit pragmatisme yang menjiwai geliat industri budaya massa yang hanya mengorientasikan dirinya untuk mengakumulasi keuntungan sebanyak-banyaknya, yang menjiwai lahirnya infotainment.

Tidak bisa dihindarkan, pengejaran keuntungan semata telah melahirkan manusia-manusia fatalis sebagai korban. Mengapa korban?—karena penonton tak memiliki cukup kekuatan untuk melakukan respon balik dalam proses komunikasi yang berlangsung satu arah. Ironisnya, kekerasan simbolik yang datang bertubi-tubi itu tak jarang justru dinikmati dan dirayakan terus-menerus. Penonton, adalah korban yang tak menyadari bahwa dirinya telah dikorbankan.

Akhirnya bukan hanya aspek normatif (fitnah) saja yang mestinya digunakan untuk menilai keberadaan tayangan infotainment, karena masyarakat penonton tentunya membutuhkan rasionalisasi yang lebih komprehensif atas berlangsungnya kekerasan-kekerasan halus (soft violences) yang beroperasi melalui kemeriahan tayangan infotainment.[]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: