Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Engkau, Izinkan Aku Menyapamu!

(Rubrik IDE Koran Tempo, Minggu 26 Desember 2004)

Afthonul Afif, Penggiat Kajian Psikologi

Sejarah filsafat Barat modern ditandai dengan kepercayaan yang berlebih atas kemampuan rasio. Rasio dikukuhkan menjadi satu-satunya instrumen yang digunakan untuk mencapai kebenaran. Karena sifat rasio yang cenderung mengambil jarak terhadap segala hal, maka konsekuensi logisnya adalah pengetahuan yang diproduksi olehnya merupakan formulasi dari segala sesuatu yang dipikirkan. Sehingga, pengetahuan adalah hasil akhir dari keberjarakan rasio dalam memperlakukan objek pengetahuan.

Watak rasio yang berjarak seperti ini dapat dilihat dari pemikiran-pemikiran para filsuf modern. Descartes, begawan filsafat modern yang terkenal dengan semboyannya, “aku berpikir, maka aku ada” (I think, therefore I am) menganggap subjek berasio adalah sumber segala kebenaran. Rasio memiliki kapasitas meragukan dirinya sendiri—dan ini berarti bahwa setiap upaya mengkonsepsikan kebenaran merupakan proses pembenahan yang tiada henti guna mencapai kebenaran final yang meyakinkan dan sepenuhnya rasional. Puncak rasionalitas Barat menjelma dalam pemikir-pemikir idealis Jerman—salah satu yang terbesar adalah Hegel. Hegel begitu optimis dengan kapasitas rasio dalam meraih kebenaran. Melalui proses dialektik, rasio senantiasa membenahi dirinya untuk mencapai rasio/ide universal yang seakan-seakan berhasil merangkum kebenaran semesta. Watak pengetahuan yang rasional juga tercermin dalam fenomenologi Husserl melalui kesadaran intensionalnya—dan juga dalam Habermas melalui “rasio komunikatif”-nya. Meskipun di tangan Habermas rasio berjarak berusaha dilampaui dan menawarkan bentuk rasio yang terlibat—bukan berarti watak dominasi rasio hilang dengan sendirinya.

Bentuk operasional dari kerja rasio berjarak ditemukan dalam tekonologi. Teknologi merupakan hasil praktis perenungan akal budi dalam melihat, mengukur, dan memanipulasi alam. Cirinya adalah segala sesuatu harus diposisikan sebagai objek agar dapat diamati dan dikonsepsikan. Alam akhirnya menjadi bongkahan-bongkahan objek formulatif dari kerja rasio berjarak.

Bahaya terbesar dari bekerjanya rasio yang berjarak adalah ketika semangatnya merembas sampai ranah hubungan antar manusia. Manusia akhirnya tidak ada bedanya dengan objek-objek mati yang bisa diamati dan dikonsepsikan. Selagi hubungan antar manusia masih diletakkan dalam wilayah epistemologis (bukan etika), konflik antar manusia akan sulit di redam.

Keberatan atas mentalitas teknologis yang mereduksi manusia hanya sekedar sebagai objek formulatif terlihat jelas dalam pemikiran filsafat Gabriel Marcel (1889-1973). Marcel prihatin akan kecenderungan zaman modern, yaitu fakta bahwa setiap orang makin tergoda memandang diri sendiri—dan lebih-lebih orang lain—sebagai kumpulan fungsi. Identitas pribadi manusia makin lama makin disejajarkan begitu saja dengan sederetan fungsi yang dimilikinya. Marcel menilai, tendensi seperti itu merupakan produk dari sebuah proses panjang, terutama sejak ditemukannya mesin-mesin yang ahirnya mengganti kedudukan manusia dalam menciptakan barang. Disitu kedudukan manusia sebagai seorang pribadi yang otonom dan unik serta bernilai pada dirinya sendiri, disisihkan, dilupakan dan akhirnya diingkari. Nilai dan harga diri manusia kini lebih banyak ditentukan oleh kedudukan atau fungsinya dalam masyarakat. Ini tidak hanya berlangsung dalam lapangan-lapangan hubungan antar manusia dalam masyarakat saja, melainkan juga dalam hubungan antar pribadi.

Situasi yang memprihatinkan itu dinamainya “Dunia yang terpecah” (The Broken World). Dalam dunia yang terpecah itu, berlangsunglah devitalisasi nilai seorang pribadi. Akhirnya yang tampak bukanlah individu-individu yang utuh dan unik secara pribadi, melainkan individu-individu yang tercabik-cabik—yang tenggelam dalam kecenderungan memandang dirinya dan orang lain hanya sebagai individu impersonal yang hidup dalam kerumunan—atau dalam istilah Heidegger terjebak dalam situasi Das man.

Realitas konkret seperti diatas telah mendorong Marcel untuk memikirkan kembali prinsip-prinsip filosofis kedudukan manusia dan hubungannya dengan orang lain. Penyelidikan filsofis semacam itu, tidak didahului dengan sebuah abstraksi rasional, melainkan justru dengan refleksi partsipatif terhadap kenyataan konkret. Peran rasio dalam pemikiran Marcel bukan seperti rasio berjarak sebagaimana terdapat dalam tradisi filsafat Barat modern, melainkan rasio partisipatif yang terlibat dan menggumuli. Marcel lebih tertarik mengembangkan sebuah filsafat yang mengambil situasi konkret sebagai titik tolaknya.

Menurut Marcel usaha seorang filsuf bisa diilustrasikan sebagai berikut: ia memanggil makhluk yang sudah hadir, walaupun ia sendiri tidak dipanggil; mencintai makhluk yang sudah hadir, walaupun ia sendiri belum dicintai. Buah pemikiran seorang filsuf bukanlah untaian konsep-konsep bastrak yang dingin dan objektif yang lahir dari kerja rasionya, melainkan dari keterlibatan sang filsuf sendiri yang dengan bebas merengkuh realitas untuk mencintai kebenaran. Orang harus menghargai keberadaan orang lain yang tidak bisa disangkal eksistensinya. Dari kesadaran, di luar berdiri pula makhluk-makhluk serupa yang menunggu untuk disapa. Orang harus menghadirkan sebuah keinginan untuk mencintai sesamanya—karena tanpa itu, pengetahuannya akan terisolasi dalam ego-nya sendiri.

Marcel memperkenalkan dua buah model refleksi yang menandai hubungan intersubjektif. Refleksi pertama bercirikan subjek terpisah dari objek. Subjek menganalisis, menguraikan objek dan sebagainya. Dengan kata lain subjek mendekati objek sebagai problem. Marcel mengingatkan—janganlah sekali-kali semangat refleksi pertama dipakai untuk meneropong pengalaman manusia yang konkret, misalnya, tentang kehidupan, cinta, kebebasan, dan sebagainya. Bidang pengalaman seperti itu jangan kita perlakukan sebagai problem. Sebab ketika yang lain diposisikan sebagai problem, muncul kecenderungan kita untuk menganalisisnya, bahkan menguasainya. Subjek harus mendekati pengalaman-pengalaman yang bersifat eksistensial ini dalam semangat refleksi kedua. Dalam refkesi kedua, subjek melihat yang lain dihinggapi rasa kekaguman sehingga yang lain hadir sebagai misteri. Dalam mendekati misteri, subjek dituntut terbuka untuk berpartisipasi. Pertemuan dua subjek yang diresapi kekaguman yang mendalam akhirnya membuahkan communion (persekutuan dan persatuan) sebagai puncak kehidupan.

Aku dan Engkau: Hadir Bersama

Agar hidupku dapat mencapai kepenuhan tertinggi dalam persekutuan dan persatuan (communion) dengan orang lain, saya harus sanggup melampaui keterlemparanku di dunia yang tidak saya sadari, menuju taraf hidup yang tidak sekedar bersifat pra-refleksif. Saya harus menuju ke tingkat kesadaran yang semakin penuh. Dari hanya sekedar berada-dalam-sitausi (etre-en-situation), menuju ke tingkat Ada. Menurut Marcel, peralihan itu berlangsung dalam tiga fase: admiration (keheranan dan kekaguman), reflexion (refleksi) dan exploration (eksplorasi). Dengan admiration, saya merasa heran dan kagum atas realitasku, dengan reflexion, saya mulai berpikir secara partisipatif, dan dengan exploration, saya memeluk realitasku secara bebas.

Kemudian, berhubungan dengan istilah communion diatas itulah, Marcel membedakan dengan tegas dua model hubungan antar manusia: hubungan aku-dia dan hubungan aku-engkau. Hubungan yang pertama terjadi karena cara pendekatan refleksi pertama­: orang lain saya pandang menurut aspek-aspek fungsionalnya. Dia, tampak bagi saya sebagai dosen, mahasiswa, resepsionis hotel, sopir, dan sebagainya. Mereka saya posisikan sebagai dia karena mereka bernilai sebatas pada atribut-atribut fungsional yang mereka miliki dan dapat saya manipulasi sesuai dengan kepentinganku. Mereka tampak bagi saya sebagai problem, yang bisa saya analsis, kemudian saya manfaatkan sesuai dengan fungsi-fungsinya.

Sedangkan hubungan yang kedua berlangsung pada taraf yang lebih luhur dan berada pada tahap refleksi kedua. Orang lain tampak bagi saya bukan sebagai orang yang memiliki fungsi-fungsi tertentu—meskipun mereka tetap memilikinya—melainkan lebih-lebih saya lihat sebagai misteri. Misteri tersebut saya dekati dengan penuh kekaguman. Untuk memahami misteri itu, saya harus menyediakan diri untuk terbuka agar dikenal oleh misteri itu. Pada akhirnya nanti, dengan membuka diri kepada misteri itu, maka saya pun dipersilahkan untuk mengenalnya. Dalam hubungan aku-engkau itulah, orang lain baru tampak bagi saya sebagai pribadi yang kepadanya saya tertarik untuk mengenalnya lebih lanjut. Bila demikian, kontak antar pribadi bisa terjalin antara aku dan sesamaku yang saya sapa dengan sebutan engkau. Untuk selanjutnya, saya bisa merasakan engkau hadir dalam dalam horizon hidupku dan sebaliknya, saya boleh merasa yakin, aku pun hadir dalam horizon hidupmu.

Melalui hubungan aku-engkau, Marcel kemudian memperkenalkan istilah baru: kehadiran (la presence). Istilah ini tidak dapat kita pikirkan secara objektif, misalnya mengkaitkannya dengan kategori ruang dan waktu. Artinya, hadir tidak dapat diartikan sebagai ada-bersama-dengan di suatu tempat tertentu pada waktu yang sama. Dua orang baru hadir yang satu bagi yang lain bila mereka mengarahkan diri yang satu kepada yang lain dengan cara yang sama sekali berbeda dari cara mereka menghadapi objek-objek. Kehadiran hanya dapat diwujudkan, jika “Aku” berjumpa dengan “Engkau”.

“Kehadiran” ini dapat direalisasikan secara istimewa dalam pengalaman cinta (love experience). Melalui cinta, aku merealisasikan diri bersama engkau untuk mencapai taraf yang lebih tinggi yaitu kita. Kesatuan ontologis yang dicapai dalam kita melebihi dua orang yang dijumlahkan satu dengan yang lain. Aku bukanlah satu bagian dan engkau bagian yang lain ketika di sambung menjadi kita. Pada taraf kita, aku dan engkau terangkat dalam suatu kesatuan baru yang tidak mungkin dipisahkan ke dalam dua bagian. Dengan demikian timbullah communion, kebersamaan yang sungguh partisipatif. Communion ini boleh dianggap sebagai kehadiran dalam bentuk yang paling tinggi. Di sini peralihan dari taraf eksistensi ke taraf Ada telah selesai.

Mencintai selalu mengandung suatu seruan hati (invocation) kepada sesama. Dalam cinta aku menyerukan kepada engkau supaya bersatu menjadi kita. Karena itu pada pihak aku perlu suatu kesediaan (disponibilitie) untuk mendengarkan dan menjawab seruan dari engkau. Aku harus bersedia untuk keluar dan ego-ku dan membuka diri bagi engkau.

Prinsip-Prinsip Communion

Supaya hidup dapat dijalani secara sepenuhnya, perlu ditinggalkan taraf hidup pra-refleksif dan selanjutnya menuju ke kesadaran yang sungguh-sungguh. Dari sekedar kesadaran eksistensial meningkat menuju ke kesadaran ontologis, yaitu kesadaran akan Ada. Tetapi, apakah artinya Ada? Bagi Marcel, ada selalu berarti berpartisipasi. Atau, ada selalu berarti ada-bersama.

Menurut Marcel, ada-bersama untuk kepentingan bersama akan menjadi kokoh apabila ditopang oleh prinsip-prinsip filosofis sebagai berikut: Pertama, transendensi. Keinginan manusia untuk mencapai transendensi pertama-tama muncul sebagai akibat ketidakpuasannya terhadap situasi primordialnya sendiri: eksistensinya yang berada pada taraf pra-refleksi. Manusia senantiasa berusaha mencapai kepenuhan diri. Hal ini tidak dicapai melalui berpikir sebagaimana Descartes, melainkan diraih melalui kesediaan berpartisipasi. Maka dari itu, tuntutan untuk mencapai transendensi tidak dapat diartikan sebagai keinginan untuk mengatasi hal-hal yang bersifat empirik. Sebaliknya transendensi harus dipikirkan sebagai sebuah pengalaman yang nyata. Sehingga, letak permasalahan bukan bagaimana manusia harus mengatasi pengalamannya, melainkan bagaimana bisa naik dari tingkat pengalaman eksistensial menuju pengalaman yang murni dalam Ada.

Kedua, memahami dasar-dasar metafisis persekutuan. Situasi kodrati manusia yang tidak dapat disangkal adalah kenyataan bahwa dia selau hadir-bersama dengan yang lain. Marcel mensejajarkan istilah hadir-bersama dengan Mitsein-nya Heidegger. Kebersamaan yang terungkap dalam Mitsein itu kiranya dapat menjelaskan nuansa yang sama seperti yang terdapat dalam dasar setiap hubungan dan persekutuan antar manusia: esse est co-esse (ada bersama-dengan). Dengan ciri keterbukaan yang menandai eksistensinya, manusia selalu merasakan dalam dirinya unsur dorongan dan keterarahan untuk terbuka pada orang lain—dan ini merupakan struktur kemanusiaan yang tidak dapat dipungkiri. Ketiga, kehadiran. Kehadiran yang dimaksud Marcel bukanlah suatu hal yang dapat dianalisis strukturnya dengan refleksi pertama. Kehadiran bukan merupakan suatu problem, melainkan misteri yang menyelimuti pihak-pihak yang mengikatkan diri dalam naungan hubungan antar pribadi. Karena kehadiran merupakan misteri, yaitu suasana yang menyelimuti ikatan hubungan antar pribadi, maka hanya dengan jalan berpartisipasi dengan sang misteri itu sendiri sajalah, kita dapat memahami nuansa kehadiran.

Keempat, intersubjektivitas. Istilah intersubjektivitas dipakai Marcel karena dianggap cocok untuk melukiskan apa yang bergerak di dasar lubuk hati manusia. Sebab hanya dengan gerakan dasar itulah pengertian mengenai kesetiaan, kesaksian dan harapan dapat berkembang. Intersubejektivitas merupakan horizon dimana hubungan antar pribadi aku-engkau bisa berlangsung. Horizon itu menyediakan lubang kemungkinan, dimana aku-engkau bisa saling berkomunikasi membentuk persekutuan dan persaudaraan antar manusia.

Kelima, berpartispasi dalam Ada. Sebagai cara berada, Ada selalu berarti ada-bersama. Tindakan berpartisipasi itu mengangkat cara berada yang primordial, yaitu taraf eksistensi menuju Ada. Peralihan dari cara berada yang masih primordial ke tingkat Ada itu mencapai puncaknya dalam ikatan hubungan pribadi dengan orang lain dalam persekutuan atas dasar cinta. Dan keenam, harapan pada yang lain. Setiap bentuk partisipasi dengan orang lain mensiratkan adanya sebuah harapan untuk mengatasi setiap perasaan terasing dan putus asa. Tetapi harapan itu tidak semata-mata kita sandarkan pada kemampuan kita sendiri. Sebaliknya, dalam harapan itu, saya seolah-olah telah menaruh kepercayaan tertentu pada subjek lain yang mengatasi kita. Bertolak dari pengalaman konkret itu, harapan sejati akan muncul dari keberhasilan seseorang dalam mengalahkan ego-nya, sehingga perasaan putus asa yang bersarang di ego dapat dilampaui.

Penutup

Meskipun pemikiran Marcel lahir dalam kurun waktu yang sudah cukup lama, namun semangatnya terasa tetap aktual, lebih-lebih dalam zaman modern yang terjangkiti virus pragmatisme. Segala sesuatu dilihat menurut fungsinya, termasuk dalam hubungan antar pribadi. Bentuk partisipasi akhirnya menjadi bersyarat, karena ini atau itu. Manusia tidak merasakan kehadiran yang lain sebagai pribadi, melainkan sebagai entitas yang memiliki fungsi. Sehingga ketika fungsi yang dibutuhkan telah dianggap selesai, yang lain akhirnya dicampakkan. Sungguh-sungguh mengkhawatirkan.

Sebagai bahan renungan, beranikah kita memutuskan sikap untuk menerima yang lain tanpa melihat fungsinya? Atau, mampukah kita secara lapang dada dan terbuka untuk melihat kehidupan ini sebagai horizon yang terlimpah bagi kehadiran-bersama?

Bahan bacaan

Gabriel Marcel, 1952, Man against Mass Society, transl. By G.S. Frasser, Chicago, Henry Regnery Compagny.

Gabriel Marcel, 1960, The Mystery of Being I: Reflection and Mystery, transl. By G.S. Frasser, Chicago, Henry Regnery Compagny.

K. Bertens, 2001, Filsafat Barat Kontemporer Prancis, Gramedia Jakarta.

Vincent Micelli, 1965, Ascent to Being. Gabriel Marcel’s Philosophy of Communion, New York-Rome, Desclee Compagny.

Mathias Haryadi,1994, Membina Hubungan Antar Pribadi Berdasarkan Prinsip Partisipasi, Persekutuan, dan Cinta Menurut Gabriel Marcel, Kanisius Yogyakarta.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: