Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Ustazd Muda dan Industri Budaya Massa

Afthonul Afif, Penekun filsafat

Minat masyarakat untuk mengkaji dan memperdalam pengetahuan keagamaan akhir-akhir ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Setidaknya, hal ini dapat dilihat dari semakin tingginya konsumsi masyarakat terhadap buku-buku agama dan semakin menjamurnya kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pengajian, majlis taklim, majlis zdikir, dan sebagainya.

Tidak dapat disangkal, fenomena ini memiliki korelasi positif dengan lahirnya generasi pendakwah baru yang uniknya berasal dari kalangan orang muda. Untuk menyebut beberapa saja, para pendakwah muda seperti Aa’ Gim, ustazd Arifin Ilham, ustazd Jefri al-Bukhori, ustazd Yusuf Mansyur, ustazd Haryono, dan ustazd Subki al-Bughuri, adalah figur-figur kondang yang tentunya tak asing bagi masyarakat Indonesia karena sering muncul di media, khususnya elektronik. Melihat sepak terjang mereka yang sanggup mengambil perhatian masyarakat—dan tidak bermaksud menyederhanakan masalah—bisa jadi kehidupan beragama masyarakat muslim Indonesia untuk masa-masa mendatang akan banyak ditentukan oleh kiprah orang-orang muda (sholeh) ini.

Mereka adalah generasi pendakwah pasca Orde Baru, yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah masyarakat seolah-olah tidak membawa sejarah diri yang runtut. Meskipun sebagai sebuah kecenderungan, spirit keagamaan yang disuar-pendarkan oleh mereka sudah mulai berbibit di tahun-tahun akhir kekuasaan Orde Baru. Liberalisasi kehidupan ekonomi yang memungkinkan investasi asing masuk ke Indonesia dalam jumlah besar telah menciptakan peluang kerja baru dan melahirkan kelas menengah perkotaan yang liberal secara ekonomi namun cenderung konservatif dalam hal kehidupan beragama. Kehadiran para santri dari kalangan pekerja kerah putih (white collar) ini telah melahirkan dinamika kehidupan beragama yang relatif belum pernah dijumpai di masa-masa sebelumnya.

Kehidupan beragama kelas menengah perkotaan dalam hal ini tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang benar-benar independen, karena pada kenyataannya selalu terkait dengan struktur ruang waktu tertentu yang turut membentuknya. Rutinitas harian yang terjadwal rapi dan iklim kompetisi yang tinggi membuat masyarakat perkotaan hidup dalam bayang-bayang tekanan. Orientasi hidup yang selalu tertuju ke persoalan eskternal (prestasi kerja, aktualisasi diri, karir dsb.) juga telah memaksa masyarakat perkotaan untuk tampil berdasarkan mimpi bersama, yang memicu munculnya penurunan kualitas penghayatan terhadap kebutuhan diri pribadi.

Nah, dalam kondisi seperti ini, agama memerankan fungsinya sebagai sarana yang dianggap mampu mengembalikan kualitas kepribadian seseorang. Kondisi ini dengan jeli ditangkap oleh para pendakwah muda tersebut yang notabene juga hidup dalam suasana serupa sebagai ladang dakwah yang potensial. Melalui dukungan media (khususnya elektronik), transformasi bahasa agama yang peduli dengan masalah kehidupan sehari-hari masyarakat terjadi secara besar-besaran karena diproduksi secara massal. Untuk menyebut beberapa saja, tema-tema seperti sabar, ikhlas, tawakkal, ridlo, yang dikemas dengan bahasa populer yang mudah dipahami disertai ilustrasi dalam kehidupan sehari-hari menjadi sajian yang cukup menyejukkan. Bagi mereka yang bergelut dengan pendekatan ilmiah, model pembacaan agama semacam ini mungkin terkesan menyederhanakan masalah (mungkin juga representasi dari eskapisme sosial), namun semuanya akhirnya berpulang pada selera masyarakat dan keberpihakan media.

Fenomena kembali menyingsingnya fajar spiritualitas di tengah hingar-bingar kehidupan perkotaan sebenarnya telah diprediksi oleh John Naisbitt dalam Megatrends 2000 hampir dua dekade yang lalu. Dengan kemajuan di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi, kehidupan manusia modern dirasakan lebih mudah, lebih sejahtera, tetapi pada saat yang sama, kemajuan peradaban dewasa ini juga membuat manusia tidak bahagia, kehilangan makna hidup dan merasa teralienasi. Penyebab teralienasinya manusia dari kehidupannya bersumber pada terputusnya hubungan manusia modern dengan nilai-nilai spiritualnya.

Kehadiran ustazd-ustazd muda yang tanggap terhadap dahaga spiritual masyarakat perkotaan Indonesia secara umum terkait dengan apa yang diramalkan oleh Naisbitt di atas. Manusia modern butuh pegangan, petunjuk jalan, atau semacam obat penenang, agar mereka tidak terjerembab dalam kegersangan hidup di rimba perkotaan. Mereka juga butuh figur, butuh pembimbing, yang sanggup memandu meniti dan melempangkan jalan menuju firdaus. Sebab, kehampaan batin yang dirasakan manusia modern adalah hilangnya vitalitas dan seringkali berujung pada pesimisme—semacam ketidakberdayaan menemukan sumber kebahagiaan secara mandiri. Namun, acapkali ketergantungan terhadap figur panutan pada kondisi ekstrimnya dapat menimbulkan pengkultusan—atau dalam konteksnya yang lebih umum dan sederhana—dapat menimbulkan pengidolaan terhadap figur yang dimaksud.

Di sadari atau tidak, kecenderungan ini tengah terjadi di masyarakat. Ustazd-ustazd muda saat ini telah menjadi idola baru, figur yang paling didambakan, dan simbol kesempurnaan: tampan, kaya, pinter dan alim. Untuk itu, pihak media pun kemudian memperlakukan mereka tak ubahnya seperti artis yang setiap tingkah-laku dan kebiasaannya patut diberitakan. Oleh media dan tentunya kepentingan modal, mereka disulap menjadi public figure baru di mana setiap sisi kehidupannya selalu membawa nilai ekonomis. Pesan-pesan dakwah populer mereka telah mengilhami munculnya sinetron-sinetron religi, kealiman mereka menjadi inspirasi bagi ajang pencarian bakat da’i-da’i muda, ketenaran mereka dimanfaatkan oleh iklan di televisi, dan tentunya, berkah kesempurnaan fisik mereka menjadi tempat terbaik bagi industri fashion memperkenalkan produk-produk terbarunya.

Dalam sebuah tayangan infotainment di salah satu stasiun televisi swasta yang secara khusus mengulas kehidupan para ustazd muda ini beberapa waktu yang lalu, nampak jelas betapa hidup sebagai ustazd muda adalah dambaan banyak orang dan merupakan berkah Tuhan yang tak ternilai: memiliki keluarga sakinah, diidolakan gadis-gadis dan ibu-ibu, memiliki tempat hunian yang indah, berharta benda namun tak melupakan sang Pencipta, dan menyandang popularitas serta menerima sanjung puji dari masyarakat.

Mengapa para ustazd muda ini jauh lebih cepat diterima oleh masyarakat daripada para pendahulunya? Selain karena mereka memiliki ketrampilan memahami bahasa dan psikologi massa, mereka juga sanggup bergaya dan menampilkan diri sesuai dengan selera massa. Para ustazd muda ini adalah generasi pendakwah yang melek mode dan paham betul politik pencitraan. Mereka misalnya, menggunakan inisial agar mudah diingat dan diucapkan massa (misalnya Aa’ Gim untuk K.H. Abdullah Gymnastiar dan UJ untuk Ustazd Jefri al-Bukhori), dan tak jarang melibatkan para artis dan tokoh publik sebagai patner dakwahnya supaya memiliki jangkauan pemirsa dalam skala massa.

Ya, dalam kondisi kehidupan masyarakat modern lanjut seperti sekarang ini, segala sesuatu yang bernilai publik adalah ekspresi selera masyarakat, ekspresi budaya massa, yang secara otomatis akan membawa nilai ekonomis. Sekarang ini susah dibedakan antara agama sebagai aktivitas dan agama sebagai komoditas. Beragama dalam kondisi sekarang ini berarti juga memerankan diri sebagai pribadi massa: memakai baju koko yang sama, mendengarkan dan menonton lagu juga sinetron religi yang sama, menghadiri majlis taklim yang sama, dan mengidolakan ustazd (muda) yang sama. Beragama di tengah penetrasi budaya massa adalah momen—yang hampir tak ada bedanya dengan momen-momen budaya massa lainnya: menonton sepak bola, menonton konser musik, menghadiri kampanye partai, atau mungkin mengkonsumsi makanan dan produk-produk fashion Amerika.

Selalu ada keseragaman selera dalam budaya massa. Baju koko tanpa krah dengan sedikit belahan di dada yang dipakai ustazd Jefri al-Bukhori dalam setiap kegiatan dakwahnya, misalnya, telah menjelma menjadi gaya berbusana massa—diproduksi dan dipasarkan dalam skala massa. Di toko busana sekelas butik, pasar induk skala grossir, hingga penjual eceran di pasar-pasar tradisional, baju koko ala UJ menjadi patner dagang yang sanggup membantu mendulang keuntungan. Belum lagi model kaca matanya yang setiap saat selalu berganti. UJ memang telah menjelma menjadi ikon kesempurnaan anak muda. Tidak mengherankan jika segala atribut yang dipakainya akan menjadi rujukan dalam berbusana.

Hampir tidak ada sisi kehidupan sekarang ini yang luput dari cengkeraman budaya massa. Sentuhan tangannya adalah Midas, yang sanggup menyulap segala sesuatu yang disentuhnya menjadi emas. Budaya massa juga telah mengaburkan batas antara dakwah dan hiburan, antara belajar agama dan bertamasya, antara yang sakral dan yang profan, juga antara ustazd dan selebritis. Budaya massa adalah momen konsumsi—yang oleh Dominic Strinati dalam An Introduction to Theories of Popular Culture (1995), digambarkan sebagai budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari khalayak konsumen massa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: