Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Visi Holistik Kehidupan Postmodern

Wiwik Sudiati*

Barangkali kita akan mudah bersepakat bahwa diskursus yang sampai sekarang masih menyita perhatian serius bagi para peminat studi kebudayaan adalah polemik seputar postmodernisme. Istilah ini menimbulkan gairah dan harapan karena dianggap dapat membukakan jalan bagi terwujudnya kualitas kehidupan yang lebih baik. Pola umum yang digulirkan gerakan intelektual ini memperlihatkan semangat kritis dalam mengoreksi berbagai kebangkrutan yang terjadi dalam peradaban modern. Peradaban modern diyakini telah menimbulkan berbagai bentuk kemerosotan kualitas kehidupan yang disebabkan oleh world view yang totaliter dan manunggal.

Di Indonesia pada umumnya postmodernsime diperbincangkan pada tataran filosofis atau sosiologis. Itu pun dengan lebih menekankan pada tendensi dekonstruktifnya saja. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari kiblat yang terlampau mengarah ke pemikir-pemikir postmodernisme Prancis.

Menurut Bambang Sugiharto (1996), gerakan postmodern dapat dikelompokkan menjadi dua kubu yang satu sama lainnya saling bertolak belakang, kubu “Dekonstruktif” dan kubu “Konstruktif” atau revisionis. Dalam kubu dekonstruksionis dapat dimasukkan pemikir-pemikir seperti Derrida, Lyotard, Foucault, dan juga Rorty. Sedang pada kubu konstruksionis atau revisioner dapat dimasukkan pemikir-pemikir seperti David Ray Griffin, Frederic Ferre, D. Bohm, dari pewaris filasafat proses Whitehead; dan juga F. Capra, G. Yukav, I. Prigogine, dari tradisi fisika yang berwawasan holistik. Perbedaan keduanya terletak dalam cara pandang yang berbeda dalam melihat kebangkrutan world view modern. Kubu dekonstruksionis melihat peradaban modern telah melahirkan banyak malapetaka kemanusiaan karena cara berpikir yang rasional-totaliter. Sedangkan kubu konstruksionis melihat kebangkrutan peradaban modern karena cara berpikirnya yang serba dualistik, membuat pemisahan tegas antara yang material dan yang spritual.

Sebagai sebuah visi kebudayaan dan peradaban, postmodernisme mengusung semangat perubahan world view yang melingkupi segala aspek kehidupan. Untuk itu, perlulah kiranya kita juga melihat implikasi-implikasinya dalam wilayah spiritualitas. Artinya, bukan hanya melihat postmodernisme dari sudut filosofis-dekonstruktifnya tetapi juga dari sudut filosofis-konstruktifnya.

Spiritualitas dalam perspektif postmodern memiliki konotasi pada disposisi mental dan komitmen yang dibentuk oleh konstelasi nilai dan makna, produk gambaran dunia tertentu. Spiritualitas postmodern memberikan visi pada pergerakan berbagai bidang seperti ekonomi, politik, sosial budaya yang tentunya memiliki perbedaan corak world view dengan modernisme.

Secara umum, spiritualitas postmodern yang diusung para pemikir dari kubu konstruksionis mempromosikan sebuah pandangan dunia yang berwatak holistik-integralistik yang lebih mementingkan perspektif sistem yang utuh dalam melihat kehidupan daripada sekedar melihatnya sebagai mekanisme hubungan yang parsial antara komponen penopang kehidupan itu sendiri. Setiap entitas penopang kehidupan digerakkan oleh spirit yang mengikatkan diri dengan entitas-entitas lain. Itu artinya bahwa terdapat kesaling-hubungan untuk menciptakan semacam ko-eksistensi guna mewujudkan keteraturan kosmos dalam skala yang lebih besar. Dengan demikian, manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari sistem yang integral dari ekosistem kosmos. Untuk itu, manusia harus memiliki tanggung jawab untuk melestarikan kosmos, bukan malah mengeksploitasinya.

Memprioritaskan keseimbangan

Semangat di atas telah memberikan pendasaran bagi para pemikir postmodern untuk mengembangkan disiplin turunan yang berhaluan postmodernistik. Dalam ekonomi misalnya, ada Herman E. Daly yang menawarkan pemikiran Ekonomi Keadaan Tunak (EKT) sebagai alternatif terhadap model ekonomi yang mengejar pertumbuhan semata. Suatu ekonomi keadaan tunak adalah sebuah sistem ekonomi yang memiliki pasokan pelaku dan barang yang konstan. Dua hal ini, (manusia dan barang) konstan jumlahnya, tetapi tidak statis.

Kelahiran harus menggantikan kematian dan produksi harus menggantikan depresiasi. Dalam tataran yang lebih rendah laju masukan dan keluaran haruslah seimbang, sehingga harapan hidup manusia dan keawetan materi selalu seimbang. Setiap kali kegiatan ekonomi mengakibatkan ekosistem kosmos tidak seimbang, pencemaran lingkungan misalnya—kegiatan ekonomi juga harus diarahkan untuk mengatasi masalah tersebut. Ekonomi mempertahankan dirinya layaknya organisme yang mampu merehabilitasi kerusakan pada dirinya melalui metabolisme.

Kehidupan ekonomi yang bersifat tunak tersebut berkorelasi dengan bagaimana cara manusia memenuhi kebutuhannya. Upaya pemenuhan kebutuhan lebih didasarkan atas pertimbangan fungsi primer dari barang tersebut, bukan pada fungsi tersiernya. Pemenuhan kebutuhan dalam skala kelompok lebih didahulukan daripada kebutuhan yang mendahulukan kepentingan individu. Hal ini tentunya juga akan mempengaruhi bagaimana masyarakat postmodern dalam membangun kehidupan sosialnya. Kehidupan yang berbasis pada komunitas lebih mengemuka daripada kehidupan yang berbasis pada individualisme. Sehingga visi sosial postmodern senantiasa berupaya melestarikan semangat kekeluargaan dan altruisme (David Ray Griffin, Sacred Interconnections: Postmodern Spirituality, Political Economy, and Art, 1999).

Visi sosial yang berbasis komunitas akan memberikan arahan pada para pemimpin politik untuk menelorkan kebijakan politik yang menaruh perhatian besar pada masyarakat dan kehidupan. Politik adalah wahana sosial yang berurusan dengan setiap proses pengambilan kebijakan untuk kepentingan dan demi keberlangsungan kehidupan bersama. Itu artinya setiap hal yang berkaitan dengannya haruslah juga mengusung semangat yang sama.

Di bidang lainnya, misalnya pertanian, world view postmodern akan menawarkan model pengolahan tanah yang bersifat organis. Penggunaan pupuk organis daripada kimiawi akan lebih mampu mempertahankan kemampuan produktivitas tanah karena tidak membunuh organisme-organisme pengurai. Pertanian postmodern ditopang oleh teknologi pertanian yang ramah lingkungan dan mengedepankan tenaga manusia daripada mesin sehingga juga bersifat padat karya

Yang tak kalah pentingnya, para ilmuwan postmodern juga memerankan fungsi sentral bagi terciptanya masyarakat postmodernistik yang berkeadilan. Sains dan teknologi yang berwawasan ekologis menjadi pilihan prinsip satu-satunya bagi para ilmuwan postmodern dalam berkarya. Itu artinya, bahwa setiap eksplorasi ilmiah haruslah didasarkan atas spirit untuk mempertahankan keseimbangan kehidupan kosmos bukan mengeksploitasinya layaknya para ilmuwan dan teknokrat yang bervisi modernistik.

Sampai disini, sungguh terasa cukup lengkap apa yang ditawarkan para pemikir postmodern yang bervisi holistik bagi terealisasinya kehidupan manusia yang lebih baik dan seimbang. Sebagai spirit, postmodern telah merambah berbagai bidang kehidupan dan berupaya menyodorkan jalan alternatif terhadap kebuntuan—bahkan kebobrokan jalan hidup modernisme. Pendek kata, postmodernisme memang bernyali dan bervisi.

Tetapi sebagai sebuah perspektif yang masih diperdebatkan, postmodern menghadapi resiko pertaruhan yang serius. Selain akan menghadapi tantangan yang serius dari pengikut setia world view modern, ia juga akan dicemooh sebagai sesuatu yang reaksioner belaka ketika terbukti tidak teruji kebenarannya. Dengan perasaan harap-harap cemas, kita tunggu perkembangan selanjutnya.

*Wiwik Sudiati, Peminat Studi Kebudayaan, Tinggal di Yogyakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: