Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Meruntuhkan Keampuhan Efek Mozart


Judul: Matinya Efek Mozart
Penulis: Djohan Salim
Penerbit: Galang Press Yogyakarta
Cetakan: I, 2007
Tebal: 157 hlm.


Keampuhan sebuah teori atau hipotesis ilmiah bukan terletak pada sejauh mana teori atau hipotesis itu dapat dibuktikan kebenarannya, melainkan sejauh mana ia mampu bertahan terhadap uji kesalahannya. Pendapat itu dikemukakan oleh Karl Popper, filosof ilmu pengetahuan yang terkenal dengan metode falsifikasinya.

Ya, teori merupakan kerangka konseptual yang terdiri dari asumsi-asumsi logis yang dianggap mampu menjelaskan fenomena atau fakta. Ada kalanya sebuah teori itu terdiri dari sub-sub teori yang menopang-padukan serpihan-serpihan asumsi menjadi satu konsep utuh. Sebagai metode, falsifikasi pada prinsipnya hendak meruntuhkan teori sebagai konsep yang utuh itu, sehingga terlihat terang apakah teori itu akhirnya mampu bertahan atau gugur.

Namun, melalui uji empirik, sebuah teori sering menunjukkan kesalahannya pada bagian-bagian tertentu saja, bukan secara keseluruhan. Agar terhindar dari operasi falsifikasi selanjutnya, bagian-bagian teori yang rentan itu harus dibenahi dan diperkuat kembali.

Sebagai sebuah metode pengujian teori, falsifikasi digunakan secara apik dalam buku ini meskipun secara eksplisit penulisnya tidak menyebutkan operasi falsifikasi dalam membahas keampuhan efek Mozart. Namun, dari alur pembahasannya, penulis telah mendudukkan keampuhan efek Mozart sebagai sebuah hipotesis yang sebenarnya rentan terhadap koreksi, tidak sesolid dan seampuh sebagaimana terlanjur menjadi pendapat umum. Efek musik Mozart yang dianggap mampu meningkatkan kualitas kehidupan manusia di semua aspek pada dasarnya hanyalah sebuah mitos.

Misalnya saja pendapat yang mengatakan bahwa janin yang selama dalam kandungan ibunya senantiasa didengarkan musik Mozart kelak akan tumbuh menjadi anak yang lebih cerdas daripada janin yang tidak didengarkan musik Mozart sama sekali. Padahal, tanpa didengarkan musik Mozart sekalipun, janin telah mengenal tiga elemen dasar musik. Ketiga elemen itu adalah: timbre (warna suara), tempo (irama), dan dinamika (keras-lembut) yang timbul dari nafas dan detak ibu yang teratur. Justru sumber getaran suara dari luar akan merusak dan mendistorsi irama alamiah nafas dan detak jantung ibu itu. Dengan demikian, asumsi yang mengatakan bahwa musik Mozart dapat meningkatkan kecerdasan bayi dianggap gugur (hlm. 28).

Penelitian yang dilakukan Newman dkk. (1994) juga menunjukkan hasil yang sama. Penelitian ini membandingkan skor yang diperoleh dari tes inteligensi Stanford-Binet antara anak-anak yang menyukai musik klasik dan anak-anak yang kurang menyukai musik klasik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak yang menyukai musik klasik justru mendapat skor yang lebih rendah dari pada anak yang kurang menyukai musik klasik. Dari kedua fakta tersebut bisa disimpulkan, pendapat bahwa efek Mozart dapat meningkatkan inteligensi tidak selamanya benar. Keampuhan efek Mozart sebagai hipotesis yang utuh dengan demikian telah terfalsifikasi berkat dua temuan di atas (hlm. 82-84).

Penelitian tentang efek Mozart pada mulanya dilakukan pada 1993 dan publikasi hasil penelitiannya dapat dibaca dua tahun setelah penelitian tersebut. Sebenarnya, para peneliti sama sekali tidak menunjukkan upaya bahwa hasil penelitian mereka adalah yang paling sempurna apalagi dapat meningkatkan kecerdasan secara menyeluruh. Dalam sains, khususnya penelitian, apapun hasilnya, baik signifikan maupun tidak signifikan dengan pilihan metode dan teori yang digunakan, adalah hal biasa.

Ternyata hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal Nature tersebut mendapat perhatian dari sejumlah kalangan industri, termasuk media massa. Lalu, pada 1996 dimuat artikel mengenai musik dan kecerdasan di majalah Newsweek. Majalah Intisari (Indonesia) lalu memuatnya, kemudian menjalar sampai ke surat kabar nasional, majalah keluarga, majalah anak muda, dan bincang-bincang di layar kaca. Promosi dan provokasi musik klasik (terutama Mozart) untuk kecerdasan mulai merebak di hampir seluruh dunia. Bahkan, gubernur wilayah Florida merasa perlu memberikan hadiah CD Mozart untuk warganya.

Melalui buku The Mozart Effect: Tapping the Power of Music to Heal the Body, Strengthen the Mind, and Unlock the Creative Spirit yang ditulis Don Campbell (1997), seorang musisi, bukan peneliti musik Mozart, provokasi keampuhan efek Mozart menjadi semakin lengkap. Ia menafsirkan hasil peneliti lain secara subjektif. Buku tersebut menyatakan bahwa musik Mozart dapat meningkatkan daya pikir, kesehatan, dan kreativitas anak. Intinya menawarkan keajaiban musik Mozart.

Sebagai pembicara, Campbell melakukan konferensi hampir setiap minggu, melintasi negara bagian dari rumahnya di Boulder, Colorado. Ia bekerja dengan menenteng merk “Mozart Effect”, dagangan laris manis berupa buku dan CD, maupun kaset yang menyertai setiap presentasinya. Dengan produk-produk efek Mozartnya, Campbell turut memberikan kontribusi bagi munculnya demam efek Mozart di masyarakat Amerika. Namun, lambat laun, demam itu mereda seiring lahirnya temuan-temuan baru yang memfalsifikasi keampuhan efek Mozart.

Meskipun secara empiris efek Mozart tidak sebombastis promosi produk-produknya, bukan berarti musik Mozart tidak bermanfaat sama sekali bagi kehidupan manusia. Sebagaimana jenis musik lainnya, pengaruh musik Mozart pada dasarnya lebih bersifat afektif, yaitu mampu memicu timbulnya perasaan senang, gembira, tenang, dan nyaman. Namun, musik juga dapat mengaduk-aduk perasaan manusia menjadi kian tak menentu, sehingga muncul perasaan cemas, sedih, dan takut. Apakah respon musik itu kemudian menimbulkan efek yang menyenangkan atau menyedihkan, hal itu tergantung banyak faktor: kepribadian, kondisi, memori, persepsi ruang-waktu, dan sebagainya.

Sekali lagi, karya besar musik Mozart sama sekali tidak berkaitan dengan hal menjadi cerdas, atau mendatangkan kekuatan. Musiknya berbicara tentang bagaimana menjadi manusia dan hidup, seperti salah satu lirik dalam musiknya, in nominee domini. Itu seharusnya yang menjadi efek Mozart sesungguhnya. Impresi seni dalam musik Mozart sangat bagus, gemuruh yang menakutkan dari Don Giovanni, gempita kebahagiaan The Magic Flute, keruwetan harmoni simfoninya, dan akhirnya yang transenden Ave Verum Corpus, La Clemenza di Tito, dan Requiem–di mana semua ini seolah hilang oleh seorang penulis buku bernama Don Campbell (hlm. 128).

Satu hal menarik yang dikemukakan penulis buku ini adalah anggapan yang mengatakan bahwa musik Mozart itu seolah-olah bersifat universal. Padahal, sebuah karya musik–apa pun bentuknya, akan selalu tertawan oleh keterbatasan-keterbatasan faktor sosio-historis tertentu. Dan hal ini sebenarnya ditunjukkan melalui adanya periodesasi dalam perkembangan musik dunia. Musik Mozart dikategorikan sebagai musik klasik abad ke-18, yang berbeda bentuknya dengan musik Jazz atau pun Rock misalnya, yang berkembang pada abad ke-20.

Penulis juga menyindir kecerobohan kita yang selalu menganggap produk pengetahuan apa pun yang dihasilkan oleh bangsa Jerman seolah-olah tidak patut dipertanyakan. Mengapa kita tidak meneliti karya empu musik Jawa: Martopangrawit, Ki Tjokrowasito, Narto Sabdo, atau Ismail Marzuki, Amir Pasaribu misalnya, yang tentu memiliki keunggulan dan kecerdasan lokal yang jauh lebih realistis. Jikalau hasil penelitian dan analisis musiknya secara pedagogis, sosiologis, antropologis, dan psikologis terbukti bermanfaat, mungkin akan jauh lebih tepat bila digunakan oleh orang Indonesia daripada bersikeras menggunakan musik Barat yang tidak semua anak bangsa ini berkesempatan mengapresiasinya dengan baik dan benar.

  • AFTHONUL AFIF, Mahasiwa Psikologi Klinis Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta

  • Responses

    1. saya mempunyai beberapa pertanyaan :
      1.pada paragraf terakhir di baris pertama pada tulisan anda mengatakan bahwa :”Penulis juga menyindir kecerobohan kita yang selalu menganggap produk pengetahuan apa pun yang dihasilkan oleh bangsa Jerman seolah-olah tidak patut dipertanyakan.”yang menjadi pertanyaan saya adalah “kepada siapakah pernyataan di atas?klo ditujukan kepada mozart sepertinya salah.karena setahu saya mozart itu berasal dari viena.
      2.apakah metoda falsifikasi itu mampu dan cocok dalam menganalisa kompleksitas musik mozart itu sendiri?
      3.A Einstein sendiri mengatakan bahwa musik mozart dan beethouven membawa suatu power yang lebih besar dan positif di dalam hidupnya.makanya beliau senang memainkan musik tersebut.kita tahu bahwa A Einstein adalah ilmuwan nomor 1 di abad 20 menurut pengakuan orang-orang jenius dunia.Setiap materi di alam semesta ini memiliki frekuensinya sendiri2.demikian halnya dengan sel2 di dalam tubuh kita.jika memang musik mozart dapat mengganggu seperti yang anda tulis tadi maka adakah buktinya?
      3.seperti yang anda katakan tadi bahwa musik2 Indonesia yang diciptakan oleh si polan,si polin dll lebih realistis.hal itu memang benar karena musik mereka tidak sekompleks dan serumit musik2 mozart dan klasik.ataukah anda sendiri orang yang tidak mampu memahami musik2 karya mozart atau yang sezamannya?maaf bukan bermaksud negatif.
      4.bagaimana mungkin seorang phisikolog mampu mengetes kecerdasan orang yang lebih cerdas dari dirinya sendiri?

      untuk sementara itu saja yang saya tanyakan.terimah kasih telah membaca apa yang saya tulis.


    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    Categories

    %d bloggers like this: