Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Pemaknaan Positif atas Bencana

Ide, Minggu 2 Juli 2006

Afthonul Afif, Relawan Gempa di Yogyakarta

Bencana di ujung dunia mana pun pastilah menyisakan kepiluan yang mendalam. Tak terkecuali bencana gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Mei lalu yang mengakibatkan kerugian tak terperikan. Gempa dahsyat di pagi buta tersebut menyisakan kerugian material dan mental sekaligus. Sebagai relawan yang turut berpartisipasi dalam penanggulan trauma pasca bencana bagi para korban, penulis menemukan berbagai jenis kemerosotan psikologis yang butuh penanganan serius.

Setelah empat pekan berlalu, gejala-gejala yang berkaitan dengan gangguan-gangguan psikologis kian nampak dan mengkhawatirkan—justru ketika semua pihak menganjurkan para korban untuk segera memulai kehidupannya yang baru. Kemurungan dan keputusasaan akan mudah dijumpai pada setiap raut wajah para korban. Mereka sulit diajak bicara dan mengalami kelinglungan akut ketika ditanya mengenai rencana mereka ke depan pasca bencana. Hal itu dapat dimaklumi, di samping ingatan-ingatan kepiluan karena kehilangan keluarga dan harta benda sulit ditundukkan, mereka juga disergap semacam kebingungan dan keputusasaan yaitu dengan cara seperti apa mereka harus memulai kehidupan baru ketika sesuatu yang berharga dalam hidup mereka larut ditelan bencana.

Namun yang sungguh mengagumkan, gempa bumi tersebut (sebagaimana bencana-bencana lainnya) ternyata juga menyuguhkan kisah-kisah yang meneguhkan wawasan dan patut dijadikan panutan. Di tengah-tengah para korban yang tak berdaya tersebut—ternyata nasib masih menitahkan individu-individu tangguh untuk menjadi ilham bagi sesamanya dalam menanggung penderitaan tak terelakkan. Meskipun mereka juga harus menanggung beban berat penderitaan, namun kemampuannya untuk segera bangkit dan mangais kembali kebahagiaannya sungguh luar biasa. Ironisnya, tak semua di antara mereka ini memiliki keunggulan kognitif, tapi mereka dianugerahi ketangguhan afektif.

Atas ketangguhan mental mereka ini penulis teringat seorang psikolog humanistik keturunan Yahudi, Victor Frankl. Frankl adalah salah satu saksi hidup kekejaman rezim Nazi dalam kamp konsentrasi Auswich di mana ia sanggup menanggung penderitaan tiada tara berkat keyakinan hidup yang ia formulasikan dalam filsafat hidup logoterapi. Logoterapi merupakan panduan hidup bagi mereka yang menghendaki kehidupan autentik dalam segala situasi—tak terkecuali dalam balutan penderitaan. Dalam situasi yang sulit manusia harus mampu menjadi dewa bagi dirinya sendiri—mampu menempatkan penderitaan secara negatif. Penderitaan tidak semata-mata dianggap sebagai jebakan menuju kehancuran, melainkan juga petunjuk bagi penggalian makna kehidupan. Penderitaan dan kesulitan hidup adalah milik kehidupan, sebagaimana halnya nasib dan kematian. Tak satu pun di antaranya yang dapat dikurangi dari kehidupan tanpa menghancurkan maknanya (Frankl, The Doctor and The Soul, 1968). Frankl menjadi pelita bagi saudara sebangsanya yang melewati hari-hari dalam cengkeraman kematian.

Dalam balutan penderitaan yang pekat, mereka, para korban bencana membutuhkan kehadiran sesama korban yang sanggup tampil sebagai Frankl-Frankl baru—yang tetap gigih mewartakan jalan hidup model logoterapi. Mereka ini tidak harus hadir dari para konselor profesional, pemuka agama, tokoh masyarakat, atau pun pejabat pemerintahan. Siapa pun mereka—yang tetap mampu hidup bermakna dalam tindihan derita—dan mampu menularkan semangatnya kepada sesama korban adalah pelita di tengah gulita.

Memang, sungguh sangat sulit bagi korban menerima dengan lapang dada kehilangan anggota keluarga dan harta benda, namun akan menjadi lebih sulit ketika penderitaan dan bencana tersebut dinafikan kehadirannya. Semuanya sungguh-sungguh terjadi. Bukan sikap yang berpura-pura tabah, juga bukan sikap yang melupakan, yang membantu korban lekas beranjak dari duka nestapa. Tetapi takdir itu harus segera diafirmasi—menerimanya dengan jalan beda. Memang, menganjurkan korban menerima takdirnya begitu saja adalah tindakan yang terkesan tidak bertanggung jawab dan meremehkan. Juga mungkin mengafirmasi penderitaan tanpa syarat akan terlihat sebagai tindakan yang mengagung-agungkan penderitaan. Tetapi akan lebih membahayakan bagi korban ketika kegiatan pendampingan selalu difokuskan pada upaya-upaya menjinakkan ingatan-ingatan korban—karena pada dasarnya amat sulit bagi korban melawan ingatan-ingatannya—terlebih lagi ketika pengalaman itu kuat menghujam dalam benaknya. Anjuran agar korban untuk segera melupakan pengalaman pahitnya justru akan memperpanjang durasi trauma.

Lagi-lagi dalam duka-derita akibat bencana dibutuhkan mereka yang mencontohkan sikap sanggup menerima penderitaan tanpa harus membenci dan melupakannya. Ketika dimaknai secara mendalam, penderitaan sebenarnya dapat menghindarkan manusia dari sikap apatis, dari kekakuan secara psikologis. Selama manusia masih memiliki pengalaman duka-derita, ia sebenarnya masih hidup secara psikis. Sesungguhnya, manusia menjadi dewasa dalam penderitaan, tumbuh karena penderitaan—penderitaan membuat manusia lebih kaya dan lebih kuat (Frankl, Psychoterapy and Existentialism, 1967).

Penderitaan ketika dipatutkan dalam keserbamungkinan maknanya akan menjadi jalan bagi lahirnya harapan-harapan baru. Lahirnya harapan-harapan yang bersumber dari kesadaran diri tentu tidak diperoleh secara cuma-cuma. Selalu saja disertai tegangan-tegangan, tarik-ulur antara berhenti dan melanjutkan, dan juga antara pesimisme dan optimisme. Adalah Rollo May, yang juga eksponen gerakan psikologi humanistik, menilai bahwa ketegangan adalah sumber kreativitas. Ketegangan bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Manusia tidak memerlukan keadaan homeostatis dalam segala kondisi, melainkan ia lebih membutuhkan sejumlah ketegangan yang kuat seperti yang ditimbulkan oleh sifat menuntut yang inheren dalam makna eksistensi manusia.

Harapan-harapan yang diniatkan dengan penuh sadar berhubungan erat dengan makna hidup. Individu yang mampu mempertahankan atau memproduksi makna dalam hidupnya adalah individu yang akan tetap survive di tengah deraan penderitaan. Bahkan, harapan sering kali terkait, dan terkadang menentukan hidup mati seseorang. Harapan adalah keputusan di mana hanya ada sedikit bukti yang mendukung keputusan itu. Kenyataan mungkin lebih berat menunjukkan arah sebaliknya, yang mungkin membuat seseorang memutuskan, “Aku berhenti. Aku menyerah. Aku tidak dapat berbuat lebih baik lagi.”

Begitu pentingnya peran harapan dalam kehidupan, sehingga tidaklah berlebihan ketika penulis mengatakan bahwa kehidupan seseorang adalah harapan. Bila ada harapan, maka ada hidup yang indah, kreatif, peka, dan bersemangat. Sebaliknya, bila tidak ada harapan untuk masa depan, maka tidak ada kekuatan untuk saat ini. Pribadi yang berpengharapan adalah mereka yang mampu memahami aspirasi dan kekuatan pikirannya. Penderitaan yang ditanggungnya tidak dianggap sebagai kehancuran namun hanya tanda untuk mencari kemungkinan hidup yang lain. Pribadi yang berpengharapan akan senantiasa memiliki kekuatan dalam menghadapi setiap duka-derita kehidupan sehingga mereka akan lebih dekat dengan kesempatan untuk memenangkan kembali kehidupan—sebab mereka memiliki tanggung jawab pribadi yang kuat dan keyakinan dalam dirinya. Harapan dan penderitaan adalah dua sisi dari sesuatu yang satu dan sama—bagian yang integral dari kehidupan yang sesungguhnya—sehingga menghendaki yang satu akan tumbuh tanpa mengalami yang lainnya adalah penolakan terhadap kehidupan itu sendiri.

Akhirnya—meskipun recovery mental para korban memang harus diawali dari sumber-sumber kekuatan mereka sendiri, misalnya melibatkan individu-individu korban sebagai tenaga dalam kegiatan pendampingan—namun hal ini juga tidak mengurangi tanggung jawab semua pihak dalam menguatkan faktor-faktor yang turut membantu pemulihan kehidupan korban dari beban berat akibat bencana. Selain recovery dialamatkan pada penguatan dunia psikologi korban, faktor-faktor eksternal seperti tersedianya living cost sementara yang memadai, pembanguanan infrastruktur yang rusak dan tentunya segera dibuatkan tempat hunian yang layak bagi korban sehingga korban akan lebih segera dapat memulai aktivitasnya seperti sedia kala.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: