Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Filsafat Cinta

Ide, 20 Februari 2005

Afthonul Afif, Konselor di Centre for Holistic Therapy Yogyakarta.

Tanggal 14 Februari kemarin seluruh muda-mudi di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali di Indonesia, beramai-ramai merayakan hari valentine (Valentine day) dengan berbagai macam kegiatan, mulai dari sekedar nongkrong ramai-ramai sambil bertukar bunga di pinggir jalan sampai dengan menenggelamkan diri dalam pesta perayaan penuh kelatahan yang riuh-gemuruh. Gema perayaan valentine tidak hanya dirasakan di kota-kota besar saja, tetapi juga sampai di seluruh pelosok-pelosok tanah air.

Konon, tanpa pengorbanan Saint Valentinus dari Roma, hari valentine tidak bakal dikenal oleh penduduk dunia. Ada semangat yang merembas sampai sekarang, yaitu pelestarian semangat cinta kasih sebagai potensi luhur yang dimiliki oleh manusia, meskipun cara memperingatinya akhir-akhir ini semakin jauh dari esensi cinta kasih itu sendiri karena terlalu menekankan aspek perayaannya saja.

Namun sungguh naif apabila potensi cinta kasih yang dimiliki manusia hanya melulu dihubungkan dengan momen perayaan valentine saja, sehingga tanpa valentine, istilah cinta seakan-akan mustahil dikenal oleh umat manusia. Membicarakan cinta sama halnya membicarakan riwayat manusia. Peristiwa kejatuhan Adam dan Hawa ke dunia contohnya, konon disebabkan oleh cinta Adam yang begitu besar kepada Hawa yang merengek-rengek minta dipetikkan buah dari pohon pengetahuan dan keabadian. Juga tanpa cinta kasih, keduanya mungkin tidak akan mampu melangsungkan kehidupan dunia yang asing—dan tidak akan mampu melahirkan keturunan bagi generasi umat manusia selanjutnya.

Seturut dengan perkembangan peradaban, cara manusia dalam mengekspresikan cinta pun mengalami perubahan—tapi bukan berarti kualitas cinta dengan sendirinya bertambah tinggi. Justru dalam kebudayaan modern dimana rasionalitas dijunjung tinggi, kualitas cinta malah mengalami penurunan yang luar biasa. Dalam cengkeraman budaya kapitalistik yang hanya menekankan orientasi pasar dan sukses material seperti sekarang ini, relasi cinta antar manusia pun akhirnya mengikuti prinsip-prinsip pasar. Kualitas keintiman hubungan antar pribadi hanya diukur dari seberapa banyak jenis atribut-atribut tertentu yang mampu dipertukarkan. Seseorang diinginkan karena ia juga menginginkan, dengan mempertimbangkan segala aset dan potensi yang dimiliki oleh masing-masing, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Jadi, dua sosok manusia akan jatuh cinta jika mereka telah menemukan objek terbaik mereka di pasaran, dengan mengingat batas-batas nilai tukar yang mereka miliki. Bagi laki-laki zaman sekarang, gadis yang menarik tak ubahnya bingkisan yang selalu mereka inginkan. Dan sebaliknya, bagi perempuan, lelaki yang menarik adalah hadiah yang selalu mereka dambakan. Arti “menarik” di sini tak lain adalah kumpulan dari sikap manis serta populer—model karakter yang selalu dicari dalam pasar-pasar kepribadian.

Sikap semacam ini jika dirunut ke akar kebudayaan modern terletak pada pandangan yang masih dipertahankan sampai sekarang. Dalam persoalan cinta, kebanyakan orang pertama-tama melihatnya sebagai persoalan dicintai daripada mencintai atau kemampuan untuk mencintai. Oleh karena itu persoalan terpenting bagi kebanyakan orang adalah bagaimana agar dicintai, bukan bagaimana mampu mencintai. Dorongan untuk mendapatkan dan menerima lebih dominan daripada dorongan menghasilkan dan memberi.

Pada akhirnya cinta cenderung diposisikan sebagai objek bukan sebagai kemampuan. Kebanyakan orang menganggap mencintai bukanlah persoalan yang sulit. Justru yang lebih sulit adalah mencari objek yang tepat untuk dicintai dan mencintai. Pola pikir semacam ini mengkondisikan orang berada dalam situasi mental yang rapuh. Ketika orang telah berhasil mendapatkan objek yang dicintainya, ia akan berupaya semaksimal mungkin menggali segala kesenangan dari objek tersebut. Tetapi pada suatu saat—ketika ia terpisah dari objek yang dicintainya, ia akan memburu objek lain sebagai penebus atas keterpisahannya dengan objek yang dicintainya.

Erich Fromm (The Art of Loving, 1958) berpendapat sikap mental yang haus akan perolehan semacam ini dapat menjerumuskan orang dalam jurang masokhisme dan sadisme. Pribadi masokhis berusaha tetap mempertahankan situasi kesatuan dengan pribadi lain yang ia anggap dapat memberikan kesenangan dan perlindungan. Pribadi semacam ini tidak memiliki kemerdekaan dalam menentukan pilihan hidupnya. Ia senantiasa dalam kendali yang lain—tapi anehnya ia menikmati situasi ini. Seorang lelaki tau wanita yang rela mengorbankan apa saja miliknya agar kesatuan dengan orang yang dicintainya tetap terjaga meskipun ia harus mengorbankan keutuhan pribadinya—adalah contoh kongkrit dari pola perilaku pribadi masokhis.

Sedangkan dorongan memburu objek kenikmatan yang bersifat aktif akan melahirkan pribadi yang sadistik. Seorang yang sadistik ingin melepaskan diri dari kesendiriannya serta perasaan terkungkungnya dengan cara menjadikan orang lain sebagai bagian dari dirinya. Dia berusaha mengukuhkan dirinya dengan cara membenamkan yang lain dalam dirinya. Pribadi-pribadi sadistik mengalami ketergantungan dengan pribadi-pribadi yang tunduk kepadanya; ia tidak bisa hidup tanpa pengakuan dan ketundukan dari yang lain.

Jika pribadi sadistik mengukuhkan eksistensinya dengan cara memperbudak yang lain, maka sebaliknya, pribadi masokhis mengukuhkan dirinya dalam situasi perbudakan oleh yang lain. Sekilas hal ini menunjukkan perbedaan, tapi ketika kita mau teliti, keduanya melakukan hal yang sama—meleburkan diri tanpa integritas dengan yang lain.

Sumber dari kedua jenis patologi cinta di atas berakar pada anggapan bahwa cinta seolah-olah berhubungan dengan hasil akhir yang dapat dinikmati—bukan pada kemampuan berproses terus-menerus. Pribadi yang menganggap pengalaman mencintai sebagai momen perolehan, ia cenderung larut dalam—dan lupa diri karena menganggap cinta sebagai objek. Ia berada dalam kubangan kelupaan sehingga sulit bangkit. Berbeda dengan ketika pengalaman mencintai diletakkan sebagai upaya memahami terus-menerus orang yang dicintai untuk mencapai taraf persekutuan objektif—dan sadar bahwa hanya dengan memberi sesuatu yang bernilai agar persekutuan dapat diupayakan—pribadi yang bersangkutan akan senantiasa waspada terhadap setiap kemungkinan yang akan terjadi. Sehingga perlu diluruskan bahwa ungkapan yang lebih tepat untuk menggambarkan pengalaman mencintai bukanlah falling in (terjatuh dalam) tetapi standing in (bersiaga dalam) love.

Bersiaga dalam cinta

Berlawanan dengan kesatuan simbiotik yang patologis, cinta yang matang adalah kesatuan dengan sesuatu atau seseorang di bawah kondisi tetap saling mempertahankan integritas dan individualitas masing-masing. Cinta adalah kekuatan aktif yang bersemayam di dalam diri manusia; kekuatan yang mampu merobohkan tembok yang memisahkan manusia dan sesamanya; cinta adalah cara untuk mengatasi problem isolasi dan keterpisahan, dengan tanpa mengorbankan integritas dan keunikan masing-masing. Ada paradoks dalam cinta, dimana dua pribadi melebur menjadi satu tetapi tetap memiliki kedirian masing-masing (become one and yet remains two)(Fromm, 1958).

Cinta berhubungan dengan aktifitas tertentu. Tetapi akan berbeda maksudnya ketika dihubungkan dengan aktifitas yang selama ini dipahami oleh orang awam. Aktifitas dalam kacamata awam selalu dihubungkan dengan gerak fisik berkaitan dengan pekerjaan yang mengejar target-target tertentu.

Sementara aktifitas yang dimaksud adalah aktifitas pada tingkatan yang lebih tinggi, aktifitas jiwa. Orang yang berdiam diri dan berkontemplasi meskipun terlihat pasif, namun pada hakikatnya batin dan jiwanya tetap aktif dan siaga. Aktifitas cinta terletak pada wilayah afeksi—afeksi yang aktif sehingga senantiasa siaga dalam (standing in) bukan terjatuh dalam (falling in). Dalam karakter umumnya, aktifitas cinta selalu berhubungan dengan kemampuan memberi. Maksud dari memberi sendiri tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan.

Bagi pribadi yang reseptif, eksploitatif, memberi berarti memberikan sesuatu dan mengorbankan sesuatu—sehingga dalam kadar tertentu dapat dikategorikan sebagai upaya memiskinkan diri. Sementara bagi orang-orang yang berkarakter produktif, tindakan memberi memiliki makna yang sama sekali lain. Tindakan memberi adalah potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam tindakan memberi, manusia-manusia berkarakter produktif mengalami dirinya sebagai mahluk yang berkelimpahan, yang penuh berkah, dan oleh karenanya mereka selalu merasa gembira. Memberi bagi manusia berkarakter produktif lebih menggembirakan daripada menerima. Bukan karena hal tersebut merupakan bentuk kerugian, tetapi dalam tindakan memberi terdapat ungkapan tentang kehidupan (aliveness).

Dalam tindakan memberi ada sesuatu yang dilahirkan, dan bagi mereka yang berpartisipasi di dalamnya saling berterima kasih atas kehidupan yang mereka lahirkan tersebut. Dalam hubungan cinta kasih hal ini berarti bahwa cinta adalah upaya untuk senantiasa tampil siaga dalam suatu persekutuan yang dijiwai oleh semangat saling memberi.

Cinta adalah keberanian

Kesiagaan dalam cinta bukan berkonotasi menunggu secara pasif—melainkan siaga partisipatif. Kesiagaan dalam cinta mensyaratkan pribadi yang terlibat untuk berani bergumul dengan hakikat eksistensi masing-masing. Eksistensi yang lain merupakan wilayah yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan besar ketika kita menghendaki selubung eksistensinya tersingkap yang kemudian mempersilahkan kita masuk bersekutu dengannya.

Ketertarikan kita dengan yang lain dan kemudian mencintainya muncul dalam diri kita, karena kita telah bertemu dengannya secara pribadi. Pertemuan kita dengan orang lain telah melahirkan sebuah kehadiran bersama (co-presence). Kehadiran berasama itu menumbuhkan persekutuan (communion) yang menjadikan hubungan kita dengan orang tersebut sebagai hubungan pribadi. Hubungan inilah yang memaksa kita untuk berani jujur pada diri—jujur menerima bisikan untuk mencintai orang tersebut.

Sebagai pribadi, kita terpanggil untuk menunjukkan senyatanya bahwa kita mencintai orang tersebut. “Cinta itu datang bagaikan sebuah himbauan. Ia datang seperti suatu panggilan dari Aku ke Aku yang lain…Justru karena aku bertemu pribadi orang lain itu, maka ketertarikanku untuk mencintainya muncul bukan karena orang itu memiliki banyak hal yang menarik bagiku, melainkan aku mencintainya karena ia adalah ia” (Marcel, Metaphisical Journal, 1952).

Dengan demikian, cinta berasal dari inti kedalaman manusia yang memanggil manusia dalam ikatan hubungan Aku-Engkau dengan pribadi yang telah menyapa kita.

Lantas mengapa cinta membutuhkan keberanian dan kejujuran? Langkah awal untuk memahami pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita harus membedakan cinta sebagai objek dan cinta sebagai kegiatan. Kegagalan kebanyakan orang dalam memahami cinta justru ketika mereka berusaha meletakkan cinta sebagai sesuatu yang kongkrit dan terukur—sebagai objek. Ketika cinta diletakkan sebagai objek (memang seakan-akan ada yang benar-benar nyata), sebenarnya kita bukan mendekati inti dari cinta itu sendiri, melainkan hanya berputar-putar mengelilingi daerah perifernya saja. Contohnya, kita menganggap bahwa hubungan seksual adalah puncak dari ungkapan cinta—dan hanya dengan itu kita dapat memasuki perseketuan cinta (dengan cara ini kita mengobjekkan cinta)—padahal ternyata setiap kali hubungan seksual selesai kita laksanakan, selalu ada sesuatu yang belum tersingkap—selalu ada yang kurang. Dan itu tentu benar kiranya karena cinta tidak dapat direduksi hanya sekedar sebagai hubungan seksual. Barang kali akan lebih tepat ketika kita menganggap hubungan seksual hanyalah salah satu bentuk manifestasi cinta.

Sungguh akan terasa lebih pas ketika kita meletakkan cinta sebagai sebuah kegiatan. Sebagai kegiatan, cinta merupakan suatu proses gerakan batin yang tidak kelihatan. Dalam mencintai, terkandung suatu nuansa kontinuitas mencintai. Sebagai kegiatan, cinta bukanlah sesuatu yang kongkrit, tetapi sebagai misteri—dan justru karena itulah cinta menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena cinta merupakan misteri, maka hanya dengan melibatkan diri penuh keberanian masuk ke dalam misteri itu, kita bisa memahami misteri cinta.

Tidak ada jalan lain untuk memahami misteri cinta selain kita ambil bagian, terlibat dan bergumul di dalamnya. Karena cinta tertanam dalam setiap eksistensi, termasuk dalam diri kita sendiri, pertama-tama sebagai pecinta, kita harus jujur pada seruan batin (invocation) diri sendiri sebelum akhirnya melibatkan diri dengan eksistensi orang lain. Berangkat dari kejujuran diri, diharapkan kita juga mampu jujur pada orang lain. Jujur pada orang lain bukan hanya sekedar membiarkan mereka mengetahui cara kita berada, melainkan juga dengan keberanian menerima kehidupan orang lain membentangkan dirinya di hadapan kita.

Perjumpaan dengan orang lain dalam bingkai cinta akan mengantarkan kita memasuki kehidupan yang sebenarnya—kehidupan yang melampaui sekat-sekat egoisme—kehidupan yang bersumber dari seruan hati untuk mengupayakan perseketuan dengan sesama manusia hingga akhirnya melempangkan jalan kita menuju persekutuan dengan Ada yang transenden—Ada tanpa batas.

Sebagai sesuatu yang terberi (given), hidup merupakan horizon yang tidak dapat dikenali batas-batasnya secara jelas—dan salah satu jalan untuk mengenali batas-batasnya sehingga dapat dipahami oleh manusia adalah dengan cinta.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: