Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Keberanian untuk Mencintai

Oleh: Afthonul Afif*

Tanggal 14 Februari kemarin berjuta-juta muda-mudi di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia, merayakan hari valentine (Valentine day) dengan berbagai macam cara, dari yang sekedar nongkrong di pinggir jalan sambil berbagi coklat, hingga yang menenggelamkan diri dalam pesta perayaan penuh kelatahan yang riuh-gemuruh. Gema perayaannya tidak hanya dirasakan di kota-kota besar saja, tetapi juga sampai di pelosok-pelosok desa sekalipun.

Konon, tanpa pengorbanan seorang serdadu dari zaman Romawi, Saint Valentinus, hari valentine tidak bakal dikenal oleh penduduk dunia. Ada semangat yang merembas sampai sekarang, semangat melestarikan nilai-nilai cinta kasih sebagai potensi luhur yang dimiliki manusia, meskipun cara memperingatinya akhir-akhir ini semakin jauh dari esensi cinta kasih itu sendiri karena terlalu menekankan aspek perayaannya saja.

Cinta adalah potensi kodrati yang paling setia mengiringi perjalanan umat manusia. Cinta mewakili universalitas, sehingga kapan pun dibicarakan akan tetap aktual—dan berdasarkan alasan itulah cinta seharusnya tidak hanya dihubungkan dengan momen valentine saja—karena kehadirannya mampu melampaui sekat-sekat sejarah dan kebudayaan umat manusia.

Sejarah tidak mungkin ingkar bersaksi. Lihatlah, betapa monumentalnya lelaku hidup ahimsha oleh Gandhi dan para pengikutnya yang begitu gigih menyuar-pendarkan budaya welas asih dan cinta kehidupan—sehingga kemerdekaan bangsa India mampu diraih tanpa melalui jalan kekerasan. Dari semangat yang sama, kita juga mewarisi ajaran cinta kasih dari para utusan Tuhan—Isa al-Masih dengan seruan diakonianya, juga Muhammad SAW dengan pesan Rahmatan lil Alamin-nya. Bahkan, konon kehidupan dunia ini tidak bakal mewujud andai kata tidak ada cinta Adam terhadap Hawa dalam bentuk kesediaan memetikkan buah keabadian dari taman Eden—meskipun keduanya akhirnya terlempar dan harus memanggul penderitaan hidup di dunia.

Tulisan ini hanya berusaha “menghampiri” cinta dan tidak bermaksud untuk menuntaskannya, karena yang lebih penting bukanlah meringkus cinta dalam keajegan definisi, melainkan bagaimana memahami cinta itu sebagai pemandu lelaku—sebagai pondasi eksistensi. Meskipun demikian, memahami cinta hanya mungkin dilakukan ketika menghubungkannya dengan sesuatu—sesuatu yang mampu mengafirmasi eksistensinya. Sebagai bentuk ihktiar, tulisan ini berusaha mencari hubungan yang resiprokal antara cinta dan keberanian.

Seperti halnya cinta, “keberanian” menjadi salah satu unsur penting yang terliput dalam bangunan pemikiran para dedengkot filsafat. Sekedar contoh, Heidegger memperkenalkan keberanian untuk membuka diri terhadap Ada, Levinas memperkenalkan keberanian menatap “wajah” yang lain, Sartre menyerukan keberanian untuk mandiri dan hidup otentik, juga Rollo May yang menyerukan keberanian untuk senantiasa “menjadi”. Lantas dalam bentuk yang seperti apa hubungan antara cinta dan keberanian?

Pertama-tama kita harus mendudukkan keduanya sebagai potensi yang benar-benar asasi. Sebelumnya perlu ditegaskan, bahwa pengertian “keberanian” dalam konteks ini melampaui konotasi yang mengarah pada keberanian fisikal—yang identik dengan tindak menjinakkan dan mendominasi. Keberanian lebih merupakan bakat eksistensial yang berfungsi sebagai pengafirmasi berbagai macam momen kehidupan, baik itu yang membahagiakan maupun yang tidak membahagiakan. Dengan bekal keberanian, manusia mampu mengatasi kecemasan yang disebabkan oleh drama kehidupan yang sering menyodorkan situasi-situasi problematik.

Sayangnya, sebagai ilmu yang berhubungan dengan praksis kehidupan manusia, psikologi kurang menaruh perhatian pada kesanggupan manusia untuk menerima tanpa syarat bahwa kehidupan terkadang menampilkan wajahnya yang muram. Ilmu psikologi (terutama psikologi arus utama: Behaviorisme dan Psikoanalisis) hanya mengajarkan manusia untuk mencintai kondisi-kondisi yang menyenangkan (pleasure) saja dan menghindari pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan, seperti kecemasan, kesedihan, dan trauma. Akibatnya, ketika pengalaman negatif tersebut menerpa kehidupan, manusia mengalami kelinglungan eksistensial karena tidak memiliki kekuatan untuk menghadapinya.

Dengan demikian, tidak berlebihan kiranya kita menganggap “keberanian” sebagai potensi yang mampu mengemudikan kehidupan; sebagai daya bagi setiap pengambilan keputusan dan sebagai kekuatan yang mengafirmasi pengalaman-pengalaman negatif. Dengan keberanian, manusia memampukan dirinya memanggul kehidupan yang berwajah ganda—mampu meleburkan bahagia dan nestapa dalam satu nuansa—mengambil posisi “mengiya” dan “menidak” sekaligus—mendamba yang positif juga tak abai dengan yang negatif.

Keberanian sebagai ruh praktik mencintai

Cinta dan keberanian menempati posisi kunci dalam kehidupan manusia, keduanya sebagai potensi yang sama-sama asasi. Sintesis sederhana yang dibuat atas keduanya sering kita dengar dalam ungkapan: “cinta melahirkan keberanian” dan “dibutuhkan keberanian untuk mencintai”. Tetapi sekedar sebagai ikhtiar, penulis berpendapat bahwa yang satu dapat dianggap lebih dahulu dari pada yang lainnya.

Menurut saya, cinta lebih purba dibandingkan keberanian. Cinta adalah potensi spiritual yang tertanam kuat dalam jiwa manusia—ia mendahului semua bentuk pengungkapan verbal. Cinta pertama-tama dirasakan sebagai pengalaman kehadiran, pengalaman akan “perasaan mengingini sesuatu” yang hadir sebelum semua refleksi diniatkan. Rasa syukur akan pengalaman kehadiran tersebut kemudian hadir dalam banyak rupa—wujud dari artikulasi ketakjuban. Semua kebudayaan di dunia ini pasti mengenal dan mempraktikkan cinta dengan caranya masing-masing. Namun, cinta tak bakal berjejak di dunia ini andaikata tidak ada energi yang menggerakkannya. Mengamini pendapat Rollo May, bahwa sejatinya, semua potensi produktif manusia digerakkan oleh energi keberanian, tak terkecuali dorongan mencintai. Bagi May, mencintai adalah lelaku yang tidak pernah sudah, merongrong sekaligus menjamin eksistensi—darinya semua pengalaman terintegrasi dan terus menjadi.

Meskipun pada hakikatnya dorongan mencintai itu sudah tertanam kuat dalam diri manusia—tetapi untuk menjejakkannya dalam kehidupan nyata, dibutuhkan keberanian terus-menerus untuk menguji dan meningkatkan kualitas mencintai itu sendiri. Mencintai adalah proses pengenalan akan yang beda, yang misterius, sehingga untuk mengamalkannya secara otomatis akan bersentuhan dengan wilayah epistemologi dan etika.

Epistemologi mencintai digerakkan oleh keberanian untuk mengenal dan menerima “keberbedaan” yang lain, karena secara naluriah pengenalan akan yang beda tidak hanya menghasilkan pengalaman ketakjuban semata, namun sering kali diikuti dengan ketakutan dan kejijikan—di mana hal itu mendorong kita untuk mencari kompensasi psikis—yaitu dengan menundukkan dan menjinakkan yang beda itu. Hanya dengan keberanian untuk menundukkan ketakutan dan kejijikan itu, kita akan mampu menerima keberbedaan itu. Ketika yang beda itu kita tempatkan sebagai yang asing dan menakutkan, tentunya kita akan enggan mengikatkan diri dengannya. Kita akan mendudukannya sebagai “kamu” yang jahat dan menjijikkan dimata “aku”. Lain halnya ketika kita melihat yang beda itu dalam kemandiriannya dan menghargai setiap momen aktualitasnya, maka, relasi diri yang pada awalnya bersifat “kamu-aku” naik derajatnya menjadi “kita”.

Pengalaman akan keberbedaan atas yang lain juga menyimpan semacam seruan etis. Emanuel Levinas menyimbolkan yang beda sebagai “wajah”. Setiap kita berjumpa dengan wajah yang lain, tanpa disadari kita telah tersituasikan untuk menerimanya tanpa syarat. Keberbedaannya atau dalam bahasa Levinas, alteritasnya, melahirkan dorongan etis dalam bentuk penghormatan dan seruan melestarikan. Keberanian etis dalam konteks ini adalah keberanian untuk mengebiri setiap nafsu penaklukan yang biasanya muncul dalam kalkulasi matematis yang berujung pada perhitungan untung-rugi dan habis-bagi. Dengan demikian, mencintai adalah keberanian menaklukkan diri sendiri.

Sebagai bahan renungan, di tengah-tengah serbuan pengalaman negatif yang bertubi-tubi akhir-akhir ini—kita memang sering kehilangan semangat untuk sekedar memikirkan ketulusan praktik mencintai—atau setidaknya masih memperbincangkannya dalam obrolan sehari-hari. Namun, saya meyakini bahwa kita semua senantiasa memimpikan terwujudnya kehidupan yang lebih damai dan sejahtera. Barangkali bukan sekedar regulasi politik, ekonomi, hukum, atau entah apa lagi, yang mampu menciptakan kesejahteraan dan kedamaian di negeri ini, tetapi keberanian para pemimpinnya untuk mencintai dan menghormati hak-hak rakyatnya.

*Mahasiswa Psikologi Kinis Sekolah Pascasarjana UGM Jogjakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: