Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Idul Fitri dan Apresiasi Liyan

Oleh: Afthonul Afif, Alumnus Psikologi Klinis Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta

Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Sebuah momen yang ditunggu-tunggu seluruh umat Islam sedunia—momen yang menyadarkan kita bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan yang dihasilkan dari proses penaklukan atas yang lain—melainkan kemenangan yang bersumber dari niat tulus memaafkan.

Kemenangan yang diraih melalui momen Idul Fitri adalah kemenangan yang tak lazim, atau lebih tepatnya istimewa. Kemenangan yang sekali lagi—tidak didapatkan dari praktik mendominasi dan keketatan kompetisi—melainkan lahir dari proses pengendalian diri dan penghayatan momen partisipasi. Ini adalah kemenangan bersama, kemenangan umat manusia. Tulisan ini berusaha merefleksikan momen Idul Fitri dalam kaitannya dengan faktisitas manusia yang selalu hadir bersama (co-present) dengan yang lain.

Tak sulit bagi kita membuat pengandaian bahwa persoalan mendasar yang senantiasa hadir dalam kehidupan manusia adalah bagaimana mereka menjalin interaksi dengan sesamanya. Sebagai makhluk sosial, manusia ditakdirkan memiliki ikatan primordial dalam bentuk keharusan menerima kehadiran orang lain guna menyelenggarakan kehidupan bersama.

Seiring perkembangan kebudayaan, tata cara manusia dalam menjalin komunikasi dengan sesamanya pun semakin kompleks. Hal ini disebabkan oleh semakin kompleknya bentuk aspirasi manusia. Dalam masyarakat primitif misalnya, hubungan antar individu masih bersifat sederhana, sebatas pada kerjasama untuk mencari dan mengelola sumber pangan untuk kelangsungan hidup bersama. Dalam kerangka teori Maslow, kehidupan masyarakat primitif didominasi oleh upaya pemenuhan kebutuhan yang bersifat fisik-material semata. Mereka belum mengenal jenis aspirasi yang lebih tinggi, misalnya, kebutuhan akan aktualisasi diri dan kebutuhan berserikat. Akibatnya sumber-sumber konflik yang muncul dalam masyarakat primitif pun berkisar pada perebutan akan penguasaan kebutuhan fisik-material tersebut.

Selanjutnya, jika kita melihat bagaimana bentuk-bentuk konflik yang muncul dalam kehidupan masyarakat kita dewasa ini, kita akan menemukan betapa setiap ranah kehidupan begitu mudah terjangkiti potensi konflik akibat semakin kompleksnya aspirasi manusia. Dari lembaga yang memiliki fungsi sosial sederhana, seperti keluarga, RT, hingga lembaga yang memerankan fungsi massif seperti DPR, Lembaga Kepresidenan, dan sebagainya, tidak cukup memiliki imunitas untuk terhindar dari potensi konflik.

Sungguh terlihat ironis, dengan semakin berkembangnya kemampuan akal budi manusia dalam memenuhi dan mengelola berbagai jenis aspirasinya, ternyata tidak serta merta diikuti dengan kemampuannya dalam mengelola dan mengendalikan setiap potensi konflik—yang berbuntut pada semakin memudarnya ikatan persekutuan dan kohesivitas sosial. Kalau kita jeli, hal ini sebenarnya bisa ditelusuri dari struktur ikatan sosial yang ada—di mana struktur ikatan sosial itu lebih bersifat mekanistik-fungsional yang penuh kalkulasi matematis. Jenis ikatan sosial yang memiliki sifat seperti itu, mengkondisikan setiap individu dalam masyarakat melihat sesamanya sebagai kumpulan fungsi yang dapat dimanfaatkan. Akibatnya, ketika orang lain tidak memiliki fungsi strategis yang diinginkan, maka secara otomatis mereka akan terdepak dari jalinan kerjasama sosial.

Lebih-lebih dalam ranah hubungan antar individu, potensi konflik lebih mudah mengental karena setiap kepentingan memiliki momentum untuk tampil lebih segera. Untuk menimbang sejauh mana individu tertentu memiliki manfaat bagi kita, kita dapat menyampaikan secara langsung segala kepentingan, tanpa melalui mekanisme administratif yang rumit. Ungkapan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan relatif dapat diekspresikan secara terbuka. Tetapi hal itu tidak lantas menghilangkan kesangsian akan keikhlasan partisipasi orang lain dalam kehidupan kita. Masalahnya, kita sudah terbiasa membawa sekian banyak syarat manakala kita hendak menjalin hubungan dengan orang lain hanya karena ketakutan bahwa orang lain pun telah mengambil sikap yang sama terhadap diri kita—sehingga sangat sulit mengharapkan terciptanya hubungan sosial yang terbebas dari hasrat “menghendaki”. Kesangsian dan keragu-raguan dalam menilai sikap orang lain sejujurnya adalah manifestasi dari pesimisme akut—apakah mungkin, “aku” dapat memberikan penilaian positif kepada “kamu” ketika di benakku selalu terbersit ingatan bahwa “kamu” hanya bersedia berhubungan denganku ketika “aku” di matamu memiliki fungsi yang dapat “kamu” manfaatkan?

Sumber dari segala bentuk konflik sosial pada dasarnya terletak pada bagaimana aspirasi antar individu itu dipelihara dan dipraktikkan dalam ruang sosial. Sekarang kita tak sekedar mendiami ruang sosial yang dijadikan ajang bagi perburuan kebijaksanaan—sebagaimana terjadi pada zaman Yunani kuno—di mana masih ada manusia seperti Socrates yang gigih mengajak penduduk kota Athena untuk beradu pikir guna meraih pendapat yang paling bijaksana. Berbeda dengan kondisi ruang sosial saat ini, yang penuh sesak dengan beragam kepentingan yang saling menancapkan dominasi. Ruang sosial yang kita naungi sekarang tak lebih sebagai arena bagi beroperasinya nalar fungsional yang menggerus habis social trust—padahal tanpanya sebuah kerjasama sosial yang mutualis-resiprokal mustahil terwujud.

Akibatnya—tidak lagi mengherankan—ketika ruang sosial yang rapuh tersebut hanya menjadi habitat bagi persaingan untuk saling mendominasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. Padahal sudah menjadi common sense bahwa hasrat untuk mendominasi orang lain adalah sumber dari kebencian dan malapetaka. Sekarang, hubungan antara individu yang satu dengan yang lainnya disemaikan di atas semangat mendominasi dan memfungsikan. Peran sosial individu tidak lagi dinilai dari hakikat kemanusiaannya yang membutuhkan penerimaan tanpa syarat (apa pun perannya, dia tetap manusia yang harus dihormati dan dihargai), melainkan didasarkan atas kontribusi fungsionalnya semata. Ambil contoh, seorang mantan atlet tidak perlu lagi diperhatikan nasibnya karena dia sudah tidak lagi memberikan kebanggaan bagi bangsanya.

Bercokolnya nalar fungsional dalam masyarakat kita sekarang ini menyebabkan mewabahnya simstom kecurigaan—padahal kecurigaan itu sendiri adalah akar kebencian. Niscaya sudah “menjadi” wajar ketika perasaan benci berkecamuk di dalam hati kita—ketika fungsi yang melekat pada orang lain ternyata tidak muncul sebagaimana kita mengharapkannya. Pikiran yang muncul kemudian adalah bagaimana secepat mungkin kita melenyapkannya karena kebodohan dan ketidakbergunaannya. Akhirnya, bagi mereka yang mendapat perlakuan nista seperti itu, secara naluriah akan melakukan pembelaan diri. Pembelaan diri yang bersumber dari kebencian dan penolakan akhirnya berbuntut pada munculnya perasaan dendam.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari betapa kita telah terbiasa memelihara nalar fungsional dalam membangun hubungan dengan orang lain. Walhasil, kita pun tak dapat menyalahkan orang lain ketika kita akhirnya menjadi sasaran kebencian, permusuhan dan dijadikan objek dendam baginya. Apabila kita menghendaki terhindar dari sasaran kebencian dan dendam, tidak ada cara lain yang harus ditempuh selain merubah perspektif ontologis kita atas orang lain. Artinya harus disuarakan bentuk antitesis murni dari bercokolnya logika bersyarat atas orang lain tersebut.

Jauh-jauh hari Emmanul Levinas telah mengingatkan kita, “orang lain” harus diletakkan dalam keberlainannya—alteritasnya. Kita harus melihat orang lain sebagai subjek yang mandiri—yang selalu menangguhkan setiap keinginan kita untuk menguasainya. Kalau orang lain hanyalah objek bagi kita, maka kelainannya, kediriannya, akan lenyap. Kita harus berani menerima bahwa pembentukan identitas kita selalu sudah berdasarkan sebuah peristiwa asali yang terulang setiap kali kita bertemu dengan orang lain. Setiap kali kita bertemu dengan orang lain, terjadi sesuatu yang mendasar: Kita jadi bertanggung jawab atasnya. Kita harus menerima bahwa diri kita berada dalam situasi terdakwa ketika bertemu orang lain. Orang lain merupakan tantangan—bahkan sebuah panggilan. Kehadirannya memaksa kita meletakkannya sebagai sebuah misteri yang menegasi semua bentuk refleksi, definisi yang kita buat—karena hanya dengan syarat-syarat itulah kita sanggup menerima orang lain tanpa syarat.

Terkait dengan model aspirasi di atas, Idul Fitri dapat dimaklumatkan sebagai momen partisipasi tanpa syarat. Momen partisipasi inilah yang membuka jalan bagi suatu pertemuan primordial, di mana antara kita dan orang lain tertakdirkan hadir bersama untuk melestarikan kehidupan. Kehidupan dibangun di atas pondasi persekutuan antara kita dengan orang lain—sehingga kehidupan hanya bisa dimaknai sebagai horizon bagi kehadiran bersama. Selagi hubungan kita dengan orang lain masih dinodai dengan berbagai macam persyaratan, maka pada saat itulah sebenarnya kita telah menyemaikan bibit-bibit permusuhan dan kebencian di atas muka bumi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: