Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Antara Subjek Habbermasian dan Hobbesian

Afthonul Afif, Mahasiswa Psikologi Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta

Kemampuan mempersepsi dimensi keruangan adalah salah satu modal utama yang dimiliki manusia dalam membangun sebuah dunia yang lebih utuh, selain kemampuan mempersepsi dimensi kewaktuan. Persepsi keruangan memungkinkan lahirnya pemahaman terhadap gerak dan aktivitas, karena konsep ruang itu baru memiliki makna ketika berjejal peristiwa hadir di dalamnya. Namun dalam konteks ini ruang tidak serta merta dilihat sebagai kontinum peristiwa aktual semata—karena manifestasi ruang selalu tampil dalam wajah ganda, memberi asosiasi pada dimensi empiris dan dimensi psikologis. Dimensi empiris ruang itu merujuk pada tempat bagi bersemainya setiap peristiwa, sedangkan dimensi psikologisnya merujuk pada asumsi-asumsi kualitatif bahwa peristiwa-peristiwa keruangan itu memiliki makna.

Di sisi lain, ruang juga dapat dilihat dari sifatnya. Dari sisi sifatnya ini, ruang juga tampil dalam dua bentuk, yaitu ruang privat dan ruang publik. Dalam konteks tertentu, ada sebagian orang, baik disadari maupun tidak, telah mereduksi persepsi keruangan menjadi sekedar manifestasi kebendaan dan mengutamakan sifat privatnya dibanding sifat kepublikannya. Orang-orang semacam ini cenderung malas memberi makna pada peristiwa-peristiwa yang meruang karena sensitivitas terhadap dimensi kepublikan dalam dirinya tertimbun oleh dimensi privatnya. Akibatnya, dimensi kepublikan ruang hanya ditempatkan sebagai sarana bagi tegaknya dimensi privat keruangan. Masa depan ruang publik terancam eksistensinya jika subjek-subjek yang berkancah di dalamnya memiliki perangai semacam itu.

Ruang publik itu ibarat wadah. Wadah itu mempunyai kualitas kepublikan karena di dalam dirinya sanggup menampung berbagai entitas dengan aneka ragam kepentingannya. Dengan demikian, ruang publik memiliki tingkat kepublikan terkait dengan keluasan daya tampungnya terhadap aneka ragam kepentingan publik yang terdapat di dalamnya. Semakin besar daya tampungnya dan semakin besar daya serapnya, semakin baik kualitas kepublikan sebuah ruang. Sebaliknya, semakin kecil daya tampungnya dan semakin seragam yang diserapnya, semakin buruk kualitas kepublikan ruang tersebut. Yasraf Amir Piliang menyebut yang pertama sebagai ruang publik maksimal (maximalism of public sphere), dan yang kedua sebagai ruang publik minimal (minimalism of public sphere).

Secara teoritis, ruang publik maksimal adalah bentuk yang paling ideal karena sanggup menjamin terciptanya tatanan sosial yang demokratis dan beradab. Namun sejauh ini, yang dilakukan pihak-pihak berkepentingan di dalam ruang publik hanya berupaya mewujudkan ruang publik mendekati ideal—atau justru sebaliknya, menciptakan ruang publik minimal. Untuk mewujudkan ruang publik ideal, selain kita harus membayangkan terlebih dahulu hanya terdapat kepentingan murni publik, kita juga harus membayangkan keberadaan subjek-subjek rasional sebagaimana digambarkan Habermas, yang sanggup membangun kontrak sosial berdasarkan rasionalitas komunikatif dan etika politik bebas paksaan. Namun, membayangkan kondisi dan subjek-subjek semacam itu dalam kondisi sekarang ini tentulah tindakan yang tidak realistis (kalau bukan berarti mustahil).

Kalau pun masih ada subjek-subjek Habermasian yang memiliki cita-cita luhur mewujudkan ruang publik maksimal, jangan harap mereka itu berasal dari kalangan para pengambil kebijakan publik. Sebab, ruang publik yang ada sekarang ini kebanyakan disesaki oleh subjek-subjek Hobbesian yang berperangai layaknya serigala yang siap menerkam mangsanya selagi lengah. Antara subjek yang satu dengan yang lainnya tidak lagi memiliki visi sebangun guna menciptakan iklim dialog yang komunikatif dan bebas paksaan, tetapi subjek-subjek tersebut menempatkan kepentingan-kepentingan pribadi mereka untuk dilombakan dalam kompetisi memperebutkan dominasi di ruang publik. Bukankah kondisi seperti ini jelas terlihat dari sikap berpolitik para politisi kita yang selalu saling terkam-menerkam untuk memperebutkan jarahan di ruang publik? Atau yang paling jelas terlihat adalah kebiasaan para pejabat kita yang memanfaatkan fasilitas publik untuk kepentingan pribadinya. Hampir sebagian besar penyelenggara negeri ini tak lagi mampu membedakan antara kepentingan ruang publik, ruang privat, ruang keluarga, dan ruang organisasi, karena jabatan yang diembannya dianggap taken for granted memiliki dimensi kepublikan, sehingga apa pun yang mereka lakukan seakan-akan mewakili kepentingan publik. Subjek-subjek yang menempatkan kepentingan pribadinya untuk menguasai kepentingan publik inilah yang menurut Christopher Lasch disebut sebagai subjek-subjek minimalis.

Subjek minimalis terlampau memuja citra dirinya, menganggapnya sebagai gambaran dirinya yang sebenarnya, sehingga baginya tidak ada perbedaan antara dirinya sebagai fenomena objek dan fenomena citra, fantasi tentang dirinya, dan realitas dirinya yang sebenarnya. Subjek minimalis hidup di dalam dunia fantasi yang tak bertepi, akan tetapi ia melihat fantasi itu—dan perwujudannya dalam visualisasi citra—sebagai realitas dirinya yang sesungguhnya.

Secara definitif, Christopher Lasch dalam The Minimal Self (1984) menyebutkan ciri-ciri subjek minimalis sebagai berikut: pertama, subjek yang memiliki kekerdilan visi, yaitu pandangan dan perspektif hidup yang semata-mata didasari dorongan untuk bertahan hidup; kedua, ekspresi diri minimum, yaitu ekspresi diri yang tidak didasari atas kepenuhan tindakan akibat kerdilnya visi hidup yang dimiliki; ketiga, impersonalitas dan anonimitas tindakan, yaitu kecenderungan untuk berlindung di balik kekuatan lembaga atau massa; dan keempat, sensibilitas minamalis, yaitu kecenderungan untuk menutupi minimalitas diri dengan citra-citra rekaan yang sengaja dibuat.

Ketika dirunut sampai pada unit analisis kepribadian subjek, minimalisme sikap sebenarnya fungsi dari minimalisme psikis. Pada tingkat psikis istilah minimalisme dikaitkan dengan keadaan psikis pada diri seseorang atau kelompok sosial, yang mengalami semacam minimalitas perspektif dan visi. Minimalisme dalam pengertian psikis di sini digunakan untuk menjelaskan jurang (gap) yang terbentang antara hasrat atau keinginan yang kuat untuk survive dan eksis di dalam dunia kehidupan—seperti ingin diakui, memeroleh kedudukan, kompetensi, dan kecakapan diri tidak mendukung untuk itu, sehingga membiarkan diri tampil dalam kemampuan diri yang minimal tersebut, untuk mendapatkan sesuatu yang sebetulnya menuntut kemampuan maksimal.

Idealnya, harus ada lebih banyak subjek yang mampu bertumbuh secara maksimal agar ruang publik maksimal dapat terwujud. Tetapi, kita juga harus menyadari bahwa pada kenyataannya subjek-subjek minimalis sampai sekarang masih berkuasa—dan dengan leluasa melenggang di dalam ruang publik.

Sampai di sini kita dapat berhipotesis bahwa ruang publik sebenarnya bukanlah ruang objektif Newtonian yang hanya berfungsi sebagai tempat bagi bersemainya serangkaian peristiwa. Ruang publik sebagai sebuah manifestasi bukan juga arena yang pada dirinya sendiri mampu memfasilitasi lahirnya kontrak sosial yang partisipatif-komunikatif dan bebas dari paksaan sebagaimana dicita-citakan oleh Habermas. Memang melalui pemikiran Habermas, momentum kesubjekan telah merekah kembali, karena subjek diasumsikan mampu membangun ruang publik ideal di atas prinsip kesejajaran peran dalam komunikasi sosial. Namun konsep komunikasi Habermas tetap tak beranjak dari idealisme Kantian, di mana tindakan manusia dalam bentuk apapun tetap harus tunduk pada imperatif-imperatif tertentu. Artinya, sebelum masyarakat komunikatif itu terbentuk, ruang publik yang memiliki dimensi kepublikan murni harus terlebih dahulu ada.

Seturut dengan hipotesis di atas, ruang publik itu juga bukan ruang hampa, melainkan ruang yang senantiasa tercipta—bersifat dinamis karena kita tak mungkin membayangkan eksisnya interes manusia yang tanpa beda. Meskipun di dalam ruang publik terjadi silang menyilang berbagai kepentingan, yang satu sama lainnya mungkin saja berkonflik, tetapi pada tingkat tertentu akan terbentuk aspek-aspek kepublikan yang dimiliki bersama sebagai modal bersama dari berbagai kepentingan yang berbeda itu.

Dengan demikian, apakah ruang publik itu akan berkembang maksimal atau minimal, tergantung subjek-subjek berkepentingan yang berada di dalamnya. Kita tidak dapat membayangkan hanya ada subjek-subjek Habermasian, tetapi akan lahir malapetaka ketika hanya ada subjek-subjek Hobbesian. Konflik dinamis antara dua model kesubjekan itu—yang menurut saya akan mendasari dan menstimulasi lahirnya ruang publik mendekati ideal. Jadi, ruang publik yang memiliki derajat kepublikan murni pada dirinya sendiri itu tidak ada. Ruang publik, meminjam istilah Richard Rorty—adalah jenis solidaritas yang kontingen—bahasa bersama komunitas manusia yang memiliki manfaat namun selalu bersifat sementara.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: