Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Wajah Kebenaran Post-Metafisik

Afthonul Afif, Mahasiswa Psikologi Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta

Pemikiran filsafat di era posmodern, menunjukkan perhatian yang besar terhadap posisi bahasa. Bahasa tidak sekedar dianggap sebagai alat bagi kegitan berfilsafat, tetapi sudah menjadi tujuan dari kegiatan itu sendiri. Tidak ada lagi kebenaran ontologik yang melampaui bahasa. Kebenaran hanyalah semacam kemungkinan-kemungkinan yang lahir dari bentuk-bentuk permainan bahasa. Pembalikan ke arah bahasa (linguistic turn) ini menandai berakhirnya kejayaan filsafat yang begitu berhasrat memproduksi gagasan-gagasan absolut bagi tercapainya pemahaman semesta yang tuntas dan padu. Satu abad yang lalu, filsafat masih berkutat dengan tema-tema besar seperti “akal budi”, “subjek rasional”, “roh”, dan “kesadaran”. Namun, sekarang, di era posmodern, filsafat menempatkan “bahasa” sebagai pusat kajiannya.

Kecenderungan semacam itu bukan berarti filsafat telah mengalami frustasi—kemudian kehilangan kekuatannya dalam memproduksi gagasan-gagasan yang mendasar. Namun, agaknya filsafat mulai menyadari dan menginsyafi bahwa dirinya selama ini telah membuat kesalahan serius dengan melihat dunia dalam ketunggalan manifestasi dan mengabaikan kejamakan nuansanya. Konsekuensi dari pertobatan ini mungkin mengkhawatirkan—karena telah lahir gambaran dunia baru yang serba retak, tak pernah selesai, dan tak bisa dipahami sepenuhnya. Namun di sisi lain, hal ini juga merekahkan kembali harapan—harapan bagi berpendarnya hak-hak yang selama ini tersisihkan. Dengan kata lain, filsafat semakin arif dan akomodatif—juga semakin realistis.

Filsafat yang rendah hati itu lahir dengan nama-nama baru, seperti posstrukturalisme, hermeneutika, dan neopragmatisme. Posstrukturalisme yang “bengal” dan “urakan” itu telah meruntuhkan struktur-struktur pemahaman dan kebenaran yang terlihat solid dan padu. Hermeneutika dengan relatif lebih anggun menampilkan wajah kebenaran dalam rantai tafsir yang tiada putusnya. Dan neopragmatisme, begitu gigih menyerukan solidaritas meskipun harus bertumpu pada pijakan yang tak satu.

Namun, kelak, bukan hanya jenis filsafat yang lincah melayangkan koreksi, tapi mungkin jenis filsafat yang bersedia menyapa peristiwa-peristiwa aktual sehari-hari saja yang akan mendapatkan tempat di hati masyarkat. Artinya, filsafat tidak lagi mengisolasi dirinya dari praktik-praktik komunikasi sehari-hari. Filsafat tidak lagi membuat pengandaian-pengandaian abstrak tentang bagaimana seharusnya masyarakat bertindak, melainkan lebih menekankan bagaimana sebuah tindakan itu mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Pada titik ini, berdasarkan pertimbangan subjektif, saya menganggap neopragmatisme lebih memiliki perhatian terhadap tata pergaulan yang paling memungkinkan mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Richard Rorty, filsuf neopragmatis nomor wahid, telah menyinggung berkali-kali, bahwa pragmatisme telah menyediakan sebuah prinsip “cara bertindak” yang paling masuk akal dalam dunia yang retak-retak seperti sekarang ini.

Pemikir seperti Rorty mungkin bisa dianggap sebagai pemikir paling penting yang merubah orientasi filsafat. Filsafat, yang sejak Yunani Kuno senantiasa berorientasi “ke dalam”, ke dalam subjek reflektif yang selalu mendaku kebenaran—diserongkan ke arah filsafat yang berorientasi “ke luar”, di mana berfilsafat tidak lagi terjadi antara subjek dengan kesadarannya sendiri, tetapi antara subjek-subjek yang berusaha mencari simpul kebenaran intersubjektif melalui komunikasi intensif. Namun, pola komunikasi yang diharapkan neopragmatisme Rorty berbeda dengan pola komunikasi rasional model Habermas yang bersifat Kantian dan mengutamakan komunitas ilmiah semata. Neopragmatisme Rorty menghendaki formulasi komunikasi yang dibangun di atas perubahan personal yang melibatkan sebanyak mungkin partisipasi.

Subjek-subjek rasional Habermasian yang masih berkutat dengan prinsip-prinsip universal kebenaran, dalam istilah Rorty disebut sebagai “subjek metafisik”. Subjek metafisik yakin ada kebenaran objektif, dan filsafat bertugas membuat kategori-kategori kebenaran itu. Kebenaran menurut mereka bukan sekedar masalah kosa kata, melainkan kebenaran objektif di luar bahasa. Kebalikan dari subjek metafisik adalah “subjek ironi”. Subjek ironi menyadari bahwa pandangan dunia dan keyakinan-keyakinannya tergantung dari kosa kata akhir yang mereka pakai, namun bahwa kosa kata akhir itu terbentuk dalam sebuah proses sejarah yang kebetulan dan dapat juga berubah. Subjek ironi sadar akan ciri keserbamungkinan (contingency) keyakinan-keyakinannya bahkan yang paling mendalam, karena ia selalu sadar keserbamungkinan kosa kata akhir yang dimilikinya.

Subjek ironi meyakini tidak ada kebenaran di luar bahasa. Bahkan lebih radikal lagi, menganggap kebenaran itu tak lebih dari sekedar kosa kata yang dapat berubah setiap saat. Konsekuensinya, subjek ironi harus berani menanggung kehidupan dunia tanpa pusat, di mana kebenaran selalu tampil dalam banyak rupa. Kebenaran itu selalu bersifat nonrealis, nonesensialis, nonrepresentasionalis, dan nonfondasionalis.

Menurut Rorty (1989), kebenaran-kebenaran yang masih mendaku esensi, fondasi, dan bentuk representasi, hanya memaksakan pandangan-pandanganya dan sejauh ini justru kontraproduktif dengan upaya menemukan kebenaran itu sendiri. Karena tidak mungkin sebuah kebenaran itu dapat dicapai melalui cara menyisihkan kebenaran-kebenaran lain di luar kategori-kategori yang dimilikinya. Dengan demikian, tidak ada sikap yang paling relevan di depan wajah dunia yang serba retak ini selain merayakan pluralisme: sikap tetap percaya pada kebenaran (kosa kata akhir) namun juga mengakui bentuk-bentuk kebenaran lainnya. Pada titik inilah, Rorty menangkis tuduhan relativistik yang sering dialamatkan kepadanya.

Karena subjek ironi lebih mengorientasikan kegiatan filsafatnya ke luar daripada bersibuk dengan praduga-praduga kebenaran yang dimilikinya, maka dengan demikian subjek ironis harus sekaligus bersifat liberal. Namun Rorty menegaskan, subjek liberal yang digagasnya bukanlah subjek produk pencerahan yang masih membawa misi universalisasi nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, dan rasionalitas. Untuk menjadi subjek liberal, kita tak perlu lagi menandaskan nilai-nilai tersebut. Kita hanya cukup berkomitmen untuk tidak berbuat kejam kepada orang lain. Dengan kata lain, jangan membuat orang lain menderita dan jangan membuat orang lain merasa terhina.

Lantas, dapatkah subjek ironis yang memahami ciri keserbamungkinan (contingency) segenap kosa kata akhir yang diyakininya—sekaligus menjadi subjek liberal yang harus menghargai orang lain dengan segenap keyakinan-keyakinan metafisik yang dianutnya? Bukankah pengertian kosa kata akhir yang bersifat serba-mungkin akan selalu menempatkan keyakinan-keyakinan orang lain sebagai sesuatu yang remeh-temeh?

Dengan persiapan yang cukup, Rorty sudah mengantisipasi jika pertanyaan di atas diajukan kepadanya. Subjek ironis-liberal tidak akan berbuat baik kepada orang lain berdasarkan keyakinan-keyakian atau pamrih-pamrih tertentu. Misalnya karena Tuhan, karena kasihan, dan lain-lain. Penilaian dan penerimaan terhadap orang lain harus berlangsung tanpa syarat. Subjek ironis-liberal bersikap ironis dalam moralitas pribadi dan bersikap liberal dalam moralitas publik. Lebih jelasnya, terhadap dirinya ia akan bersikap skeptis dan ironis, tetapi terhadap orang lain ia berkomitmen untuk tidak bersikap kejam. Dengan demikian, Rorty menyerang pandangan metafisik-liberal yang menganggap bahwa berbuat baik selalu didasari pengandaian-pengandaian metafisik tertentu.

Subjek ironis-liberal harus berani hidup di luar pengandaian-pengandaian metafisik tertentu. Lebih baik menyongsong dunia baru dengan sikap terbuka, daripada meratapi lenyapnya titik pusat itu. Justru situasi ini sangat menguntungkan secara moral, karena situasi ini melahirkan jiwa komunitas dalam diri kita. Ketika kita mengakui tiadanya titik berangkat, kita menyadari bahwa pertemuan dan percakapan dengan sesama manusia, merupakan satu-satunya sumber bimbingan. Rorty menegaskan bahwa kesadaran akan fakta ini menolong kita berpindah dari konfrontasi kepada percakapan (conversation) dalam kehidupan kita.

Di balik penolakan Rorty terhadap segala macam titik berangkat yang objektif, ia sebenarnya menolak epistemologi. Sejak pencerahan, filsafat telah dipengaruhi anggapan bahwa kita sanggup menemukan sebuah pijakan rasional bersama untuk mengikat perbedaan dan keanekaragaman pendapat manusia. Berdasarkan anggapan ini, para filsuf berusaha menggariskan kerangka universal untuk menilai wacana manusia dengan sebuah teori pengetahuan yang mampu melampaui sekat-sekat sejarah dan kebudayaan.

Sebagai penutup, coba kita hayati ungkapan Rorty yang begitu santun menggambarkan wajah dunia yang retak tanpa titik pusat—menyeru kepada kita untuk membangun etika bersama di luar ketentuan-ketentuan metafisik—dan, mengafirmasi kemajemukan dengan rasa syukur dan ketakziman. Rorty berucap: “Jika kita menyerah dan tidak lagi berharap (untuk menjadi mesin yang diprogram secara pasti), kita akan kehilangan “kenyamanan metafisik” (meminjam istilah Nietzsche), tetapi kita akan memperoleh kesadaran yang diperbarui tentang komunitas. Kelekatan kita dengan komunitas—masyarakat, tradisi politik, warisan intelektual—semakin mengental ketika kita melihat komunitas ini sebagai milik kita bersama, dan bukan hasil karya alam kodrati, bukan ditemukan sebagai salah satu dari antara karya-karya manusia lainnya. Akhirnya, kaum pragmatis menegaskan kepada kita, yang terpenting adalah loyalitas kita kepada sesama manusia lainnya untuk melawan kegelapan, bukan berharap untuk menemukan kebenaran” (The Consequence of Pragmatism, 1982).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: