Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Psikologi Positif Bagi Manusia Indonesia

Afthonul Afif, Penggiat Kajian Psikologi

Pada tanggal 13 Desember 2006 yang lalu, pengelola Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyelenggarakan seminar tentang “Psikologi Positif” dengan pembicara tunggal Prof. Jamaluddin Ancok. Sebagai salah seorang penganjur gerakan psikologi positif di Indonesia, beliau begitu antusias meyakinkan peserta seminar bahwa prinsip-prinsip gerakan psikologi positif sangat kontekstual digunakan sebagai alat untuk memahami kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini.

Mengapa psikologi positif? Apakah mazhab utama dalam kajian psikologi seperti Behaviorisme, Psikoanalisis, juga Psikologi Humanistik sudah kadaluwarsa?

Psikologi Positif adalah sebuah gerakan baru dalam ilmu psikologi yang lebih menekankan pada eksplorasi potensi-potensi produktif dalam diri manusia. Berbeda dengan Behaviorisme dan Psikoanalisis misalnya, yang cenderung pesimis melihat takdir manusia. Kedua mazhab psikologi yang sampai sekarang masih dominan ini terlalu berburuk sangka pada manusia. Paradigma keilmuan yang dibangunnya terlalu bersifat klinis, dan kosekuensinya, tugas ilmu psikologi hanya memahami gangguan-gangguan mental yang diderita manusia, bukan berusaha membantu manusia untuk mengembangkan kemampuannya secara optimal. Menurut Martin Seligman (2002), pendiri gerakan psikologi positif, kedua mazhab ini telah mewariskan ilmu psikologi yang bersifat patogenis.

Jika psikologi patogenis sibuk mempelajari kelemahan dan kerentanan manusia kemudian berusaha memperbaikinya, psikologi positif memusatkan perhatian pada kelebihan dan kekuatan manusia. Alih-alih berusaha memperbaiki apa yang rusak dalam diri manusia, psikologi positif mencoba membangun hidup di atas apa yang terbaik dari diri manusia. Psikologi positif mengidentifikasi kekuatan dalam diri manusia untuk mencapai kesehatan dan kebahagiaan. Bukan hanya terhindar dari penyakit, tetapi juga hidup bahagia. Bukan hanya sekedar hidup (living), tetapi juga bagaimana mengembangkannya (thriving).

Pada saat pelantikannya sebagai Presiden American Psychological Association tahun 1997, Seligman menyampaikan sebuah pidato—yang dianggap sebagai tonggak lahirnya gerakan psikologi positif di dunia. Dalam pidatonya, ia menyebutkan bahwa sebelum Perang Dunia II, sebenarnya ada tiga misi utama psikologi: menyembuhkan penyakit mental, membuat hidup lebih bahagia, dan mengidentifikasi dan membina bakat mulia dan kegeniusan. Setelah Perang Dunia II, dua misi yang terakhir diabaikan sama sekali. Berdasarkan tiga misi inilah, ditegakkan tiga prinsip psikologi positif: (1) studi tentang emosi positif (optimisme, kebahagiaan, kasih sayang, dsb.), (2) studi tentang sifat-sifat positif (kebajikan, kreativitas, kegigihan, keberanian, cinta, dsb.), dan (3) studi tentang lembaga-lembaga positif yang mendukung kebajikan.

Konteks Indonesia

Indonesia adalah negara besar yang memiliki tingkat diversitas budaya tiada duanya. Untuk mengelola negara seperti ini tidak hanya dibutuhkan kecerdasan, tetapi juga jiwa kepemimpinan yang kuat berdasarkan prinsip-prinsip keluhuran budi pekerti. Jika dioperasionalkan lebih lanjut, keluhuran budi pekerti terkait dengan sifat dan sikap yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kebajikan, keberanian, kesederhanaan, juga ketauladanan. Untuk melahirkan pemimpin seperti itu, dibutuhkan iklim budaya dan pendidikan yang memberi ruang bagi optimalisasi sifat-sifat positif manusia, bukan malah mengkerdilkannya.

Mengulang apa yang telah disampaikan Prof. Jamaluddin Ancok, bangsa Indonesia sekarang ini sedang dilanda krisis multidimensi yang serius dan membutuhkan jalan pemecahan yang sifatnya mendasar—sebuah jalan pemecahan yang tidak bersumber dari belas kasihan bangsa lain, melainkan jalan pemecahan yang berbasis pada manusia Indonesia itu sendiri. Dibandingkan dengan bangsa lain, kualitas manusia Indonesia tergolong masih rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh paradigma pendidikan Indonesia yang masih bersifat system oriented, bukan human oriented, juga krisis multidimesi akibat euforia reformasi yang telah menggerus habis potensi-potensi lokal sehingga masyarakat Indonesia tidak lagi memiliki modal sosial yang cukup untuk mengatasi krisis itu.

Untuk bangkit dari keterpurukan, manusia Indonesia harus mampu mengoptimalkan potensi-potensi produktif dalam dirinya. Maka dari itu, dubutuhkan semacam strategi kebudayaan yang mampu membangkitkan optimisme manusia Indonesia. Stereotip yang mengatakan bahwa manusia Indonesia adalah pemalas dan memiliki motivasi berprestasi yang rendah harus dibuang jauh-jauh. Pada titik inilah strategi kebudayaan yang berbasis pada prinsip-prinsip psikologi positif terlihat urgensinya. Pertama, meningkatkan perhatian dan penghormatan pada sifat-sifat positif manusia. Pemerintah dapat mengoptimalkan peran lembaga-lembaga seperti sekolah, perguruan tinggi, keluarga, dan organisasi sosial-kemasyarakatan, sebagai wadah yang mampu membangkitkan dan menumbuhkan sifat dan emosi positif pada diri manusia Indonesia. Nilai-nilai lama yang menghambat berkembangnya potensi-potensi produktif itu harus diredusir, atau setidaknya dimaknai ulang. Misalnya, guru adalah sumber kebenaran sedangkan murid adalah penerima kebenaran. Secara sepintas, kalimat ini terkesan benar dan tidak menimbulkan masalah. Namun dalam praktiknya, hal ini akan menjadi sumber arogansi guru dan menghambat kreativitas murid karena proses belajar tidak dimaknai sebagai belajar bersama.

Kedua, membentuk lembaga atau organisasi yang mampu mendukung berkembangnya nilai-nilai kebajikan. Dalam konteks Indonesia, membentuk tidak harus dimaknai sebagai membuat lembaga baru, melainkan juga mengoptimalkan kinerja lembaga-lembaga yang sudah ada. Sebuah lembaga atau organisasi dapat dikatakan baik ketika ia mampu membantu manusia yang menaunginya untuk mengembangkan sifat-sifat positif dan memangkas sifat-sifat yang negatif. Lembaga seperti ini tentunya tidak memberi ruang bagi bersemainya tindakan seperti korupsi, kolusi, nepotisme, juga otoritarianisme—tetapi lembaga yang mampu menanamkan jiwa pelayanan, melahirkan keberanian untuk berbuat kebenaran dan keadilan, menempa kreativitas, menciptakan iklim kompetisi yang sehat, dan yang tak kalah pentingnya adalah mampu memerankan fungsinya sebagai sumber dukungan sosial (social support) bagi anggotanya.

Meskipun gerakan psikologi positif lahir dari rahim ilmu psikologi, namun pada dasarnya prinsip-prinsip yang ditawarkan bersifat umum sehingga dapat dimanfaatkan dalam bidang-bidang lain seperti ekonomi, kepemimpinan, politik, dan pendidikan. Aspek kemanfaatan ini bersifat luas karena psikologi positif mendasarkan kajiannya pada sifat-sifat positif manusia, sehingga model manusia yang digambarkan adalah manusia yang sehat dan mampu mengoptimalkan kemampuan dirinya.

Adalah belum terlambat bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya dari bangsa-bangsa lain dan menjadi kemudian bangsa yang unggul. Terlebih lagi bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sebenarnya mampu menjadi lumbung nilai bagi praktik-praktik kebijaksanaan. Ketika di Barat terdapat istilah altruism, kita mengenal istilah gotong royong dan tepo sliro. Barat memiliki istilah hard work, kita memiliki istilah rame ing gawe sepi ing pamrih, dan sebagainya. Sebenarnya terdapat banyak sekali sumber-sumber kearifan lokal yang dapat dijadikan sebagai modal sosial bagi bangsa Indoensia untuk terus berbenah memperbaiki dirinya.

Akhirnya, bangsa yang unggul adalah bangsa yang memiliki manusia yang unggul—dan manusia yang unggul adalah manusia yang lahir dari tatanan sosial yang memberi ruang bagi optimalisasi kemampuan-kemampuan produktif dalam dirinya.


Responses

  1. ya, Martin Seligman is awesome


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: