Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Meretas Persekutuan Post-Ontologi

Afthonul Afif

Dikerumuni pelbagai macam pertarungan kepentingan di ruang publik akhir-akhir ini, rasa-rasanya semakin sulit bagi kita membangun hubungan sosial yang dilandasi oleh semangat ketulusan. Ruang sosial yang kita naungi sekarang, menjelma menjadi ajang bagi persaingan untuk meloloskan setiap kepentingan-kepentingan pribadi yang saling menancapkan dominasi. Komunikasi di ruang sosial tampil dalam bentuknya yang penuh kompetisi, di mana antara orang yang satu dengan yang lainnya saling memandang sebagai lawan dan saling mendudukkan sebagai gugusan fungsi yang menyediakan manfaat-manfaat tertentu. Orang lain lantas dihasrati bukan sebagai subjek, melainkan sebagai objek yang harus dikendalikan dan didefinisikan batas-batas fungsinya.

Melihat orang lain semata-mata sebagai objek adalah khas tradisi ontologi, dan juga merupakan asal-muasal dari setiap praktek kekerasan dalam hubungan sosial. Untuk mengantisipasi timbulnya bahaya kekerasan tersebut, kita dapat mengawalinya dengan jalan meretas modus berpikir tandingan (sebut saja modus berpikir post-ontologi) yang sanggup melampaui modus berpikir ontologis yang gemar mendaku esensi dan totalitas. Namun, hal ini tidak berarti kita berangkat dari kondisi nir-persepsi dan nir-refleksi, karena orang lain tetap kita andaikan. Hanya saja, pengandaian yang kita buat harus selalu bersandar pada ketentuan-ketentuan yang dapat menjamin kelainannya. Dan, refleksi yang kita niatkan tidak untuk mendefinisikannya, melainkan untuk melestarikannya.

Dua jenis refleksi

Perwujudan refleksi yang kita niatkan bukanlah refleksi ala cogito cartersian yang bersibuk sendiri dengan prasangka-prasangka yang dibuatnya. Refleksi yang dimaksud memiliki intensi untuk keluar dari dirinya dan berusaha mengatasi kesempitan perspektif yang dimilikinya. Jenis refleksi ini hampir mirip dengan refleksi yang dilakukan oleh ego transendentalnya Husserl yang menelusuri hakikat sesuatu justru dengan jalan menangguhkannya (epoche). Hanya saja, ketika ego transendentalnya Husserl memposisikan proses penangguhan itu sebagai sebuah tahap untuk mencapai kebenaran yang benar-benar murni, lain halnya dalam refleksi post-ontologi. Refleksi post-ontologi senantiasa membatalkan upaya perburuan esensi dan menganggap kebenaran murni pada dirinya sendiri bersifat mustahil—sehingga kegiatan penangguhan itu menjadi satu-satunya proses yang harus diafirmasi. Dengan lain kata, orang lain menurut ego transendentalnya Husserl tetap dihasrati sebagai esensi, sedangkan dalam refleksi post-ontologi orang lain hadir sebagai misteri.

Meminjam gagasan Gabriel Marcel (1889-1973), filsuf eksistensialis Prancis, untuk sampai pada jenis refleksi yang kita kehendaki, terlebih dahulu wajib hukumnya mengetahui jenis refleksi yang harus kita hindari ketika membangun hubungan dengan orang lain. Marcel memperkenalkan dua jenis refleksi yang mendasari hubungan antar-manusia. Refleksi pertama bercirikan subjek terpisah dari objek, karena subjek memposisikan objek sebagai unit analisis yang harus dikendalikan. Subjek mendekati objek sebagai problem yang dapat dianalisis dan dikenali batas-batasnya. Jenis refleksi ini membawa potensi kekerasan yang nyata—sehingga ketika semangat refleksi pertama dipakai untuk meneropong pengalaman manusia yang konkret, misalnya, tentang kehidupan, cinta, kebebasan, dan sebagainya, maka yang terjadi adalah kita akan mendudukkan orang lain sebagai problem yang dapat kita jinakkan. Untuk itu, subjek harus mendekati pengalaman-pengalaman yang bersifat eksistensial ini dalam semangat refleksi kedua.

Dalam refkesi kedua—refleksi post-ontologi, subjek melihat orang lain dengan penuh takjub sehingga orang lain hadir sebagai misteri. Dalam mendekati misteri, subjek dituntut terbuka untuk berpartisipasi. Pertemuan dua subjek yang diresapi ketakjuban yang mendalam akhirnya membuahkan communion (persekutuan) sebagai puncak kehidupan. Namun, pertemuan dua subjek yang bersepakat membangun persekutuan itu bukanlah sebuah momen peleburan dua identitas kesubjekan yang meluruhkan keunikan masing-masing, melainkan sebuah momen tanggung jawab yang diresapi semangat tetap menjaga keunikan subjek lain. Persekutuan itu merupakan momen etis, bukan momen ontologis.

Persekutuan yang dijiwai semangat refleksi kedua hanya akan terwujud ketika kita menghayati seruan partisipasi. Sebagai subjek, kita tersituasikan secara etis untuk menyapa orang lain yang hadir di depan kita, meskipun kita sendiri tidak dipanggil olehnya; mencintai orang lain, meskipun kita sendiri belum dicintai olehnya. Kita tidak butuh untaian konsep-konsep abstrak yang dingin dan obyektif yang lahir dari kerja rasio kita. Kita hanya dituntut mampu menggembalakan suara hati (invocation) agar senantiasa terjaga untuk menyaksikan kehadiran orang lain yang tidak bisa kita sangkal eksistensinya.

Dari Aku-Engkau menuju Kita

Agar hidup kita dapat mencapai kepenuhan tertinggi dalam persekutuan (communion) dengan orang lain, kita harus sanggup menempatkan diri sebagai subjek yang menyadari keterlemparan kita di dunia. Untuk itu, kita wajib memanggul peran sebagai aku yang tidak hanya sekedar berada-dalam-situasi (being-in-situation), melainkan bergerak menuju ke tingkat Ada. Menurut Marcel dalam The Mystery of Being I: Reflexion and Mystery (1960), peralihan itu berlangsung dalam tiga fase: admiration (ketakjuban dan kekaguman), reflexion (refleksi) dan exploration (eksplorasi). Dengan admiration, aku merasa heran dan kagum atas realitasku. Dengan reflexion, aku mulai berpikir secara partisipatif. Dan, dengan exploration, aku memaknai realitasku dengan penuh kebebasan dan tanggung jawab. Bebas, karena kehendak untuk bersekutu murni bersumber dari suara hatiku—dan bertanggung jawab, karena kebebasanku selalu terkait dengan kewajiban melestarikan orang lain.

Selanjutnya, terkait dengan istilah communion di atas, kita tak hanya mengetahui dua jenis refleksi yang mendasari hubungan antar-manusia, tetapi juga mengetahui operasionalisasinya dalam kehidupan nyata melalui bentuk hubungan aku-dia dan hubungan aku-engkau. Hubungan yang pertama terjadi karena cara pendekatan refleksi pertama­: orang lain aku pandang menurut aspek-aspek fungsionalnya saja. Mereka aku posisikan sebagai dia karena mereka bernilai sebatas pada atribut-atribut fungsional yang mereka miliki dan dapat aku manipulasi sesuai dengan kepentinganku. Mereka tampak bagiku sebagai problem, yang bisa kuanalsis, kemudian kumanfaatkan sesuai dengan fungsi-fungsinya.

Sedangkan hubungan yang kedua berlangsung pada taraf yang lebih luhur dan berada pada tahap refleksi kedua. Orang lain tampak bagi aku bukan sebagai orang yang memiliki fungsi-fungsi tertentu—meskipun mereka tetap memilikinya—melainkan lebih aku lihat sebagai misteri. Misteri tersebut aku dekati dengan penuh kekaguman. Untuk memahami misteri itu, aku harus menyediakan diri untuk terbuka agar dikenal olehnya. Pada akhirnya nanti, dengan membuka diri kepada misteri itu, maka aku pun dipersilahkan untuk mengenalnya. Dalam hubungan aku-engkau itulah, orang lain baru tampak bagiku sebagai pribadi yang kepadanya aku tertarik untuk mengenalnya lebih lanjut. Bila demikian, hubungan antar-pribadi bisa terjalin antara aku dan sesamaku yang aku sapa dengan sebutan engkau. Untuk selanjutnya, aku bisa merasakan engkau hadir dalam horizon hidupku dan sebaliknya, aku boleh merasa yakin, aku pun hadir dalam horizon hidupmu.

Melalui hubungan aku-engkau, kita kemudian baru dapat memaknai momen kehadiran (the presence). Istilah ini tidak dapat kita pikirkan secara objektif, misalnya mengkaitkannya dengan kategori ruang dan waktu. Artinya, hadir tidak dapat diartikan sebagai ada-bersama-dengan di suatu tempat tertentu pada waktu yang sama. Seseorang baru hadir bagi yang lain hanya jika dia mengarahkan dirinya kepada yang lain dengan cara yang sama sekali berbeda dari cara dia menghadapi objek-objek. Kehadiran hanya dapat diwujudkan, jika “Aku” berjumpa dengan “Engkau”.

“Kehadiran” ini dapat direalisasikan secara istimewa dalam pengalaman cinta (love experience). Melalui cinta, aku merealisasikan diri bersama engkau untuk mencapai taraf yang lebih tinggi yaitu kita. Kesatuan yang dicapai dalam kita melebihi dua orang yang dijumlahkan satu dengan yang lain. Aku bukanlah satu bagian dan engkau bagian yang lain ketika di sambung menjadi kita. Pada taraf kita, aku dan engkau terangkat dalam suatu kesatuan baru yang tidak mungkin dipisahkan ke dalam dua bagian. Dengan demikian timbullah communion, kebersamaan yang sungguh partisipatif. Aku harus bersedia untuk keluar dan ego-ku dan membuka diri bagi engkau. Communion ini boleh dianggap sebagai kehadiran dalam bentuk yang paling tinggi. Di sini, peralihan dari taraf eksistensi ke taraf Ada menemukan titik terang.

Namun, hubungan ke-kita-an bukanlah momen yang dapat kita ketahui batas-batasnya secara jelas. Ia hanya dapat dihampiri, bukan diringkus dalam kebakuan definisi—karena setiap upaya pendefinisian sama halnya menempatkan orang lain sebagai problem, bukan sebagai misteri. Dengan menghayati momen ke-kita-an ini, kita akan dihinggapi semacam ketegangan eksistensial yang produktif—ketegangan yang muncul dari seruan hati untuk senantiasa mengafirmasi kehadiran orang lain—tetapi di sisi lain mustahil bagi kita dapat mengetahui secara persis batas-batas eksistensinya. Pengandaian ini begitu penting—karena hanya dengan jalan inilah kita sanggup menyelami dimensi-dimensi etis persekutuan tanpa harus terjebak pada upaya-upaya perburuan esensi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: