Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Memahami Messianisme Gaya Baru

Afthonul Afif, Mahasiswa Psikologi Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta

Bermunculannya sekte-sekte keagamaan baru beberapa tahun belakangan telah menjadi fenomena sosial tersendiri yang jamaknya diasosiasikan sebagai ancaman terhadap kemapanan institusi keagamaan yang telah ada. Keberadaan sekte-sekte keagamaan tersebut juga menimbulkan reaksi keras dari kalangan pemeluk agama resmi karena dianggap telah menodai kesucian dan keutuhan bangunan teologis yang telah terlembaga selama berabad-abad.

Persoalan serius yang dihadapi masyarakat sebenarnya bukan hanya bersumber dari bercokolnya sekte-sekte keagamaan yang dianggap sesat itu, tetapi juga terkait dengan kecenderungan masyarakat yang gemar menempuh jalan pintas dalam menyelesaikan persoalan ini. Dengan lain kata, perasaan terancam akibat hadirnya identitas keagamaan lain seringkali diartikulasikan dalam sikap yang reaksioner-anarkis—baik itu dalam tingkat pembentukan opini publik maupun dalam sikap hidup sehari-hari.

Memang, sebagian besar umat Islam pasti merasa terganggu dengan hadirnya jamaah Salamullah-nya Lia Eden, Qiyadah al-Islamiyah-nya Ahmad Mushaddeq, atau mereka yang Kristiani juga tidak menerima keberadaan sekte Pondok Nabi-nya pendeta Mangapin Sibuea. Namun, apakah hanya dengan memberi label sesat dan merusak tempat berkumpul mereka kemudian secara otomatis permasalahan menjadi selesai?, dan apakah bisa dipastikan sekte-sekte serupa tidak akan muncul lagi kelak di kemudian hari setelah mereka diancam dan diintimidasi?

Dimensi-dimensi yang melingkupi keberadaan sekte-sekte keagamaan itu tentunya jauh lebih luas dari yang kita duga. Keberadaannya tidak dapat dipandang dari perspektif teologis dan hukum formal negara saja, tetapi juga perlu dipahami melalui perspektif lain yang mampu memberi penjelasan situasional mengapa sekte-sekte itu bisa bermunculan. Secara sosiologis, keberadaan sekte-sekte ini adalah fenomena yang wajar karena tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi hampir di seluruh penjuru dunia. Bagi masyarakat Indonesia yang iklim kehidupan beragamanya relatif terlembaga, fenomena ini mungkin wujud abnormalitas, tetapi di negara-negara sekuler Barat hal ini bisa jadi sekedar reaksi terhadap situasi ruang-waktu yang mengasingkan manusia sebagai pribadi, lantaran kehidupan sosial memang kurang menyediakan kanal-kanal bagi penyaluran kebutuhan spiritual. Dalam konteks Indonesia, alasan ini mungkin juga bisa berlaku meskipun berangkat dari persepsi terhadap faktor pencetus yang berbeda.

Faktor pencetus

Secara sederhana, munculnya sekte-sekte keagamaan itu dapat dipahami dari tiga faktor pencetus sebagai berikut: pertama, filosofi kehidupan modern yang menekankan pencapaian-pencapaian kesuksesan material semata. Terdapat pola umum dalam kehidupan masyarakat modern yang meletakkan kebutuhan material di atas kebutuhan-kebutuhan lainnya. Sukses hidup material itu secara lahiriah memang telah menyejaterahkan manusia, namun pada sisi yang lain, terdapat rongga-rongga yang semakin menganga dalam struktur kesadaran manusia lantaran terabaikannya kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih tinggi. Kebutuhan-kebutuhan itu oleh Victor Frankl, salah seorang eksponen psikologi eksistensial, disebut sebagai kebutuhan akan makna hidup dan spiritualitas. Manusia modern, lanjut Frankl, semakin tumpul daya cecapnya terhadap sumber-sumber makna, karena mereka tidak menghayati dirinya sebagai being, sebagai insan yang sanggup mentransendensikan diri.

Ketidaksanggupan menghayati diri sebagai being kemudian menimbulkan penyakit kejiwaan yang disebut frustasi dan kehampaan eksistensial. Dalam kondisi hampa, individu modern rentan terperangkap dalam jeratan sekte-sekte baru, tergiur oleh janji-janji keselamatan yang ditawarkannya karena dianggap dapat membantu mewujudkan konsep diri yang positif (positive self concept) bagi para penganutnya.

Kedua, legalisme bahasa agama. Kemunculan sekte-sekte keagamaan dalam konteks tertentu dapat dianggap sebagai protes terhadap kecenderungan agama resmi yang kaku dan melembaga. Penekanan yang berlebihan pada aspek ritual dan hukum formalnya sering tidak disadari telah mengabaikan aspek penghayatan dalam beragama, sehingga agama bagi para penganut sekte-sekte itu cenderung dipersepsi sebagi lembaga yang lebih banyak menuntut daripada mengakomodir berbagai bentuk ekspresi keberagamaan umatnya. Hal ini sebenarnya sudah disinggung oleh William James dalam The Varieties of Religious Experience (1982), sebuah maha karya dalam studi agama yang nyaris klasik. James menegaskan: I believed that individual religious experiences, rather than the precept of organized religions were the backbone of the world’s religious life. Pernyataan James tersebut bukan sekedar kesimpulan dari penelitian panjangnya terhadap ekspresi-ekspresi pengalaman keberagamaan manusia, melainkan juga bentuk peringatan bagi agama-agama resmi untuk senantiasa merevitalisasi metode dakwahnya agar tidak ditinggalkan oleh umatnya. Fakta menunjukkan bahwa konversi keyakinan pada indivdiu-individu di negara-negara Barat kepada agama Islam, misalnya, pertama-tama bukan ditentukan oleh faktor kerasulan Muhammad, kesempurnaan yurisprudensi hukum Islam, melainkan terpesona oleh keultiman ajaran tasawuf atau mistisisme Islam yang mampu mengantarkan manusia pada perjumpaan dengan yang Ilahi.

Dengan demikian, pilar agama bukan hanya terletak pada kesanggupannya dalam memproduksi seperangkat aturan hukum yang konsisten bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana agama mampu memberikan peluang bagi para pemeluknya untuk meresapi dan menghayati inti ajarannya.

Ketiga, persepsi terhadap pemimpin karismatik. Sudah bisa dipastikan bahwa perhatian masyarakat terhadap sekte-sekte keagamaan tersebut akan tersedot pada sosok pemimpinnya yang karismatik. Seorang pemimpin karismatik dapat membangun sebuah identitas sosial yang kuat atau in-group favoritism bagi para pengikutnya sehingga keanggotaan terhadap kelompok sosial tertentu dipersepsi sebagai social pride. Seorang pemimpin karismatik juga dipersepsi oleh para pengikutnya mampu memberi perlindungan dan rasa aman.

Terkait dengan sekte-sekte tersebut, kepatuhan dan kebanggaan anggota terhadap pemimpinnya sudah mencapai taraf pengultusan karena sang pemimpin dianggap membawa misi suci bagi keselamatan umat manusia. Persepsi kepemimpinan yang fatalistik semacam ini tidak dapat dijelaskan secara mudah karena dalam tindakan pengultusan tersebut terkandung keyakinan messianisme yang tentunya berbasis pada dinamika psikologis yang rumit. Memasrahkan hidup sepenuhnya pada pemimpin yang otoriter dan terjangkit waham kebesaran adalah fenomena yang tidak dapat dinilai melalui kepatutan logika. Keyakinan ini berurat-berakar dalam struktur kesadaran si pengikut di mana mereka sendiri mungkin tidak bisa menjelaskannya.

Namun, tidak mustahil hal ini sebenarnya bentuk dari krisis kepercayaan yang paling akut terhadap figur-figur pemimpin formal yang ada di masayarakat—atau mungkin juga ekspresi kemuakan dan keputusasaan dalam menghadapi ketidakpastian kondisi dunia sehingga diperlukan sikap menghamba pada sosok pemimpin yang sanggup menjanjikan keselamatan paripurna. Dalam perspektif social identity theory, secara naluriah, individu akan memutuskan berafiliasi dengan kelompok sosial tertentu yang sanggup memberikan identitas sosial positif ketika dia berada dalam situasi sosial yang dipersepsi mengancam kenyamanan dirinya.

Uji imunitas

Diterima atau tidak, munculnya sekte-sekte baru tersebut secara tidak langsung merupakan oto-kritik bagi agama-agama resmi yang sudah mapan. Agama-agama tersebut, khususnya Islam, seyogyanya mampu menyikapi kritik tersebut dengan cara yang bijaksana. Sebab, keberlangsungan Islam di masa-masa yang akan datang turut ditentukan oleh bagaimana cara yang ditempuhnya dalam menyikapi setiap situasi yang dianggap mengancam. Tindakan-tindakan reaksioner-anarkis hanya akan memperburuk citra Islam dalam komunikasi sosial, sementara menempuh jalan persuasi dan dialog akan semakin mengukuhkan Islam sebagai agama yang membawa misi damai.

Yang terpenting bagi Islam, juga semua agama, adalah tidak henti-hentinya melakukan oto-refleksi, sebagaimana dirinya menganjurkan kepada umatnya, merevitalisasi perannya dalam setiap dimensi kehidupan agar spirit rahmatan lil-alamin-nya secara tidak langsung dapat menjadi oto-imunitas dalam menghadapi perkembangan dunia yang semakin sulit diprediksi dan semakin penuh dengan deviasi.

Dalam iklim kebudayaan yang demokratis, sudah sepatutnya segala permasalahan sosial hendaknya diselesaikan berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi. Untuk itu, umat beragama harus menanggalkan terlebih dahulu beban teologis dalam melihat keberadaan sekte-sekte baru itu, menempatkannya sebagai fenomena sosial yang terikat oleh situasi ruang-waktu tertentu, dan mengutamakan jalan dialog guna mencari penyelesaian yang seadil-adilnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: