Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Membaca Orientasi Cinta

Ide, 26 Juni 2006

Afthonul Afif, Mahasiswa S2 Psikologi UGM Yogyakarta

Perjumpaan dengan teman-teman yang memiliki problem seputar hubungan antar pribadi dan kendala-kendala mencintai membawa saya pada perenungan tentang bentuk-bentuk dari praktek mencintai. Kasus yang sering saya temukan sehubungan dengan hal tersebut adalah hambatan-hambatan kepribadian yang kerap muncul mewarnai hubungan antar pribadi—yang tampak berkorelasi dengan orientasi mencintai.

Mencintai adalah kegiatan diri, yang sedikit banyak ditentukan oleh watak kepribadian seseorang. Pribadi yang rasional barangkali cenderung melihat cinta sebagai objek konseptual yang dapat dibuat batas-batasnya. Pribadi yang berwatak melankoli akan mengamalkan cinta dengan penghayatan dan peleburan diri yang narsistik. Bahkan bisa jadi, cinta hanyalah sekedar persoalan hubungan seksual semata bagi pribadi-pribadi tertentu.

Istilah kepala, dada, dan perut, dalam tulisan ini, saya gunakan untuk membedakan bentuk-bentuk dari orientasi mencintai. Kepala, dada, dan perut, hanyalah simbolik sifatnya. Kepala mewakili rasio, akal budi, dan dunia konsep. Dada mewakili fungsi hati, perasaan, dan ungkapan-ungkapan yang sifatnya sentimentil. Sedangkan perut mewakili potensi yang dianggap paling rendah dalam kebudayaan manusia, yaitu nafsu. Identifikasi ini tidak dimaksudkan sebagai pembatasan atas bentuk orientasi mencintai. Hanya saja, memahami bagaimana manusia mempraktekkan potensi cinta dalam dirinya adalah hal yang penting dilakukan. Sebab tak dapat disangkal bahwa problem serius manusia modern seperti frustasi eksistensial, depresi, hampa makna, sering bersumber pada kegagapan manusia modern dalam mengenal dan mengamalkan potensi cinta dalam dirinya (Fromm, The Art of Loving, 1956).

Cinta sebenarnya adalah sesuatu yang sulit didefinsikan, keberadaannya hanya bisa dihampiri, tak bisa ditangkap. Berkaitan dengan cara menghampiri inilah kemudian melahirkan kecondongan orientasi mencintai. Pribadi yang menghampiri cinta menggunakan fungsi kepala/rasio, akan melahirkan cinta yang berjarak, sebab cinta diletakkan sebagai objek yang bisa dikupas dan kuliti. Cinta yang pada hakikatnya adalah sesuatu yang alamiah diletakkan sebagai problem yang merangsang pengetahuan. Cinta hanya semata-mata menjadi persoalan yang menarik untuk dipikirkan. Pribadi yang memiliki orientasi mencintai seperti ini, cenderung menjauh dari keterlibatan mencintai. Kalaupun dia memikirkan cinta dalam kaitannya dengan orang lain, sebenarnya bukan orang lain itu yang menjadi orientasi cintanya, tetapi pikirannya sendiri.

Pribadi yang terlalu berorientasi ke kepala hanya tangkas membahas cinta dalam ruang senyap kesendiriannya. Dia akan gagap ketika harus berbagi dengan orang lain, karena penghayatan cintanya tidak didasarkan atas perjumpaan dengan orang lain secara kongkrit. Artinya, kurang dimilikinya kesediaan untuk berbagi, menjalin hubungan antar pribadi yang bernaung dalam model relasi “Kita”. Cinta yang berorientasi ke kepala dalam terang filsafat Marcel masih terpelihara dalam model relasi “Aku-Engkau”. Engkau adalah problem benakku, sehingga Aku memiliki kebebasan untuk memikirkan Engkau dengan caraku sendiri. Engkau akan tetap diam dalam kebisuanmu meskipun aku telah menganggapmu sebagai sesuatu yang dapat kujamah-jamah sesukaku (Micelli, Ascent to Being. Gabriel Marcel’s Philosophy of Communion,1965). Ketika kita menjumpai pribadi yang terlalu banyak menyodorkan konsep-konsep ideal tentang cinta, tetapi diekspresikan dengan mimik muka dingin dan mengambil sikap berjarak (terkadang sok suci), besar kemungkinan pribadi tersebut menggunakan “kepala” sebagai orientasi cintanya.

Cinta yang berorientasi ke kepala adalah cinta yang Platonik, rasional, serta berjarak. Berkebalikan dengan cinta yang berorientasi ke kepala adalah cinta yang berorientasi ke dada. Cinta ini syarat kesan sentimentil, melankoli, penuh kegiatan penghayatan dan keterlibatan yang berlebihan, sehingga kontrol diri sering terabaikan. Pribadi yang memiliki orientasi cinta jenis ini menganggap cinta adalah potensi yang tidak perlu dipikirkan tetapi harus dihayati dan dirasakan. Dia rela melakukan persekutuan dengan orang yang dicintainya meskipun keutuhannnya sebagai pribadi, kebebasannya, menguap karena terbakar dorongan peleburan. Kehanyutan kepribadian yang berdampak pada hilangnya kesadaran dan akal sehat malah sering ditambal dengan sebuah alasan yang terkesan luhur, “Cinta itu butuh pengorbanan”.

Pribadi dengan orientasi cinta ke dada juga sangat pandai mendramatisir setiap ritme emosinya. Dorongan emosi yang sebenarnya sangat sepele bisa diungkapkan dengan ekspresi tindakan yang terkesan agung dan luhur—sebagai bentuk pengorbanan. Perasaan cemburu adalah sesuatu yang wajar karena setiap orang memilikinya. Tetapi ditangan pecinta yang berorientasi ke dada, ungkapan cemburu dapat diekspresikan melalui tindakan yang berlebihan, misalnya menyakiti diri, mengkonsumsi obat-obat penenang, dan sebagainya.

Menurut Fromm (1956), cinta yang berorientasi ke dada adalah cinta yang kekanak-kanakan, yang menghanyutkan dan melupakan diri, melenyapkan kewaspadaan diri, sehingga autentisitas kepribadian runtuh dalam irama kejatuhan—irama falling-in—bukan irama kesiagaan—irama standing-in. Kalau dalam cinta yang berorientasi ke kepala pribadi pecinta terlampau berjarak (sehingga kurang ada penghayatan atas objek cintanya), sedang dalam cinta yang berorientasi ke dada, pribadi pecinta justru tidak mampu mengambil jarak, sehingga yang bersangkutan tertarik-tarik—dan kemudian tenggelam dalam dorongan cintanya.

Jenis orientasi cinta yang paling dianggap rendah, banal, tanpa penghayatan adalah cinta yang berorientasi ke perut. Plato dalam Politeia, menempatkan perut sebagai simbol bersarangnya nafsu-nafsu rendah, libido, insting binatang, atau ketika ditarik ke struktur masyarakat, perut merupakan simbol bagi kasta terendah yang liar, bodoh.

Ironisnya, dalam kebudayaan yang memuja ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, justru ekspresi cinta yang berorientasi ke perut semakin dirayakan. Seharusnya ketika mengikuti alur pemikiran Plato, semakin tinggi tingkat pengetahuan masyarakat, seharusnya semakin tinggi pula kualitas penghayatan akan praktek mencintai. Bukan sebaliknya, mencintai seakan-akan hanya berurusan dengan kenikmatan menubuh-mendaging yang banal dan vulgar.

Pribadi yang berorientasi pada perut biasanya melupakan hal-hal yang ontologis-teleologis sifatnya; makna, hakikat, dan tujuan. Seks dianggap sebagai dorongan manusiawi yang lumrah, tidak perlu dihayati, direnungkan—hanya sekedar dinikmati. Seks seakan-akan menjadi satu-satunya sarana ekspresi mencintai dan peleburan diri.

Tetapi tidak dapat disangkal, inilah geliat zaman yang mengantarkan anak manusia untuk sekedar melihat dirinya sebagai seonggok materi yang terombang-ambing dalam penjara budaya materialisme. Pendapat ini bukan berarti menganggap seks sebagai sesuatu yang hina dan kotor, tetapi hendak mendudukkan bahwa persoalan mencintai bukan hanya sekedar terwakili dalam upacara hubungan seksual.

Mencermati ketiga bentuk orientasi mencintai di atas, sebenarnya potensial ditemukan orientasi-orientasi mencintai turunan dimana terdapat penonjolan dari salah satu bentuk orientasi mencintai padahal yang menjadi dorongan utama dalah orientasi mencintai yang lainnya. Mungkin kita pernah menjumpai orang yang sebenarnya memiliki orientasi cinta ke perut namun terkesan ke kepala atau dada. Untuk sekedar merayakan hasrat seksualnya, yang bersangkutan dengan lihai membungkusnya dengan menciptkan momen peleburan buatan sehingga pasangannya larut dalam irama kebohongan tersebut. Seorang penyair misalnya, mungkin dapat dengan mudah memanfaatkan keindahan dan kedahsyatan syairnya untuk menjerat mangsanya—kemudian melumat-lumat tubuhnya.

Ingatan kita, esok hari, atau entah kapan waktunya, adalah saksi bahwa cinta seringkali menggugah kesadaran kita akan makna kebijaksanaan—atau sebaliknya, menegur kita akan bahaya kemunafikan.

Cinta adalah problem serius anak manusia. Kehadirannya akan tetap eksis selagi mahluk yang bernama manusia masih bercokol di dunia. Cinta menurut hemat saya lebih penting dari sekedar demokrasi, politik, lembaga dewan atau yang lainnya. Cinta adalah asas, sumber inspirasi, dan nafas peradaban. Bunda Teresa, Dalai Lama, putri Diana, ataupun musisi rock de Bono, adalah anak-anak manusia yang mampu merekam geliat zaman karena mereka bersedia mempraktekkan cinta.


Responses

  1. orang2 yg bemslh dgan cinta.AF1 no absen 13


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: