Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Filsafat, Teropong Untuk Problem Psikologi

Afthonul Afif, Konselor di Centre for Holistic Therapy Yogyakarta.

Filsafat merupakan cara mempertanyakan segala sesuatu sampai ke akar-akarnya. Melalui filsafat, masalah yang sudah dianggap jelas diperkarakan kembali—sehingga banyak orang mencibir bahwa berfilsafat adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia, membuang-buang waktu dan melelahkan.

Memang, berfilsafat membutuhkan kesediaan untuk meluangkan banyak waktu—merefleksikan segala permasalahan hidup dalam ruang sunyi-senyap dan jauh dari keramaian khalayak. Filsafat mengajak kita untuk menguji dan mempersoalkan kembali dogma-dogma yang kita anggap benar, mengajak kita untuk mengambil posisi dan menetapkan pendirian. Tetapi jarang orang yang berani memikirkan kembali keyakinan hidupnya yang telah lama mereka yakini. Sehingga tidak mengherankan apabila berkembang asumsi di masyarakat bahwa filsafat merupakan bidang kajian yang hanya digeluti oleh segelintir orang yang memiliki kemampuan olah pikir dan daya abstraksi yang tinggi.

Namun, akhir-akhir ini muncul gerakan baru dari para filsuf (salah satunya adalah penulis buku ini: Alex Howard) yang berusaha mengembalikan filsafat kepada semangat awalnya, yaitu filsafat sebagai seni kehidupan. Mereka prihatin dengan kecenderungan para filsuf akademik yang selalu mengusung gagasan-gagasan abstrak dan melangit yang hanya membahas tema-tema besar yang sulit dicerna oleh orang awam dan jauh dari hiruk-pikuk keseharian. Mereka menyebut gerakan yang mereka rintis sebagai gerakan filsafat praktis (practical philosophy). Dari mereka inilah kemudian lahir praktek konseling yang disebut konseling filosofis (philosophical counselling). Mereka terinspirasi oleh semangat Socrates yang menelusuri kebenaran melalui pengalaman kongkrit hidup sehari-hari. Socrates menggunakan dialog sebagai metode berfilsafatnya. Filsafat adalah seni berkomunikasi yang memperbincangkan banyak hal dalam ruang publik. Filsafat yang “gandrung” akan kebijaksanaan merupakan esensi filsafat sebagai seni kehidupan—yang mampu melampaui keangkeran dan dinginnya tembok-tembok akademik.

Gerakan filsafat praktis mempunyai kepedulian dan fokus terhadap permasalahan sehari-hari masyarakat modern, seperti stres di dunia kerja, depresesi akibat perceraian, konflik rumah tangga, dan sebagainya. Dunia modern adalah dunia yang penuh paradoks: dunia yang penuh dengan keberlimpahan materi dan kemajuan pesat teknologi namun sekaligus problem-problem patologis kemanusiaan. Manusia modern mengalami kekosongan makna hidup sebagai akibat dari gaya hidup modern yang terlalu mengedepankan kebutuhan fisis-material. Kecondongan pada pemenuhan kebutuhan fisik-material semata membuat kondisi batin masyarakat modern rentan terhadap konflik karena tidak pernah diasah dan pelihara.

Konseling filosofis hadir ditengah kegagapan masyarakat modern dalam mencari makna hidupnya. Selain itu, kehadirannya juga hendak menambal kekurangan perspektif konseling konvensional—konseling psikologis. Konseling filosofis hendak melampaui kebakuan-kebakuan etik dalam praktik konseling psikologis—yang menegaskan perbedaan peran antara seorang konselor dan klien. Ketika dalam konseling psikologis seorang konselor menampilkan diri sebagai kaum profesional dengan segudang pengetahuan tentang patologi-patologi mental klien—untuk selanjutnya menyodorkan langkah-langkah penanganan yang sifatnya instruksional—maka konseling filosofis menawarkan praktik konseling yang lebih moderat. Seorang konselor bukan lagi hadir sebagai pemberi instruksi, melainkan sebagai seorang teman dialog guna mencari problem mendasar dari setiap patologi mental. Praktik konseling pun tidak semata-mata dilakukan di dalam ruang praktik, melainkan dapat dilakukan di mana saja asalkan dapat memberi kenyamanan bagi klien.

Tugas seorang konselor filosofis adalah membantu klien keluar dari situasi tertekan dengan menyodorkan insight filosofis sehingga klien mendapatkan akses untuk meneropong kondisi eksistensial hidupnya. Klien mendapatkan kemerdekaannya dalam memilih wawasan-wawasan filosofis yang sesuai dengan masalahnya. Dengan kata lain, klien ditantang untuk mendiagnosa sendiri masalahnya sampai palung yang terdalam—aktif sebagai seorang penglihat.

Yang lebih radikal lagi, konseling filosofis menerima gagasan bahwa praktik konseling sebenarnya juga dapat dilakukan secara mandiri (auto-counselling)—sehingga istilah klien tidak lagi diperlukan karena setiap person memiliki keaktifan untuk menjadi subjek. Melalui tradisi kebijaksanaan yang diwariskan oleh para filsuf—seorang subjek dapat mencari solusi dari permasalahannya cukup hanya dengan membaca literatur-literatur tentang bagaimana para filsuf meneropong problem-problem kehidupan. Konseling filosofis bukanlah metode, melainkan strategi melihat kehidupan dalam terang wawasan kefilsafatan.

Dalam konseling filosofis, seorang klien (atau subjek) dimanjakan dengan melimpahnya sudut pandang penanganan problem-problem psikologis. Kebijaksanaan hidup yang diwarisi dari Pythagoras sampai filsuf-filsuf kontemporer dapat digunakan sebagai penuntun untuk mendiagnosa problem psikologis (atau tepatnya problem kehidupan)—sebagaimana yang terangkum dalam buku ini. Barangkali kita pernah memiliki masalah dengan ambisi-ambisi kita—dan terlampau susah untuk mengotrolnya. Dengan membaca Machieveli dan Hobbes, kita akan diantarkan pada wawasan tentang salah satu sifat dasar manusia yang destruktif (ambisi)—sehingga sebagai subjek yang aktif, kita dapat mengelola ambisi-ambisi kita. Atau barang kali kita mengalami kehampaan eksistensial akibat rutinitas sehari-hari, maka kita dapat membaca Heidegger, dan mencandra banalitas keseharian dengan mengingat takdir kita sebagai dasein.

Namun ternyata tidak semua orang memiliki kemampuan dalam menerjemahkan pemikiran-pemikiran filosofis dalam kehidupan sehar-hari, sehingga hal yang perlu diperhatikan oleh seorang konselor filosofis adalah bagaimana menerjemahkan bahasa filsafat agar dapat dipahamai oleh orang awam. Filsafat memang bukan ilmu praktis, tetapi filsafat akan memberikan jawaban atas sebuah permasalahan sampai ke akar-akarnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: