Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Menimbang Ulang Islamisasi Psikologi

Afthonul Afif, Penggiat Kajian Psikologi, Tinggal di Yogyakarta.

Kurang lebih dalam satu dasawarsa terakhir wacana islamisasi psikologi turut menyemarakkan dunia keilmuan di Indonesia. Terdapat para ilmuwan psikologi seperti Hanna Djumhana Bastaman, Djamaluddin Ancok, M.A. Subandi dan Fuad Nashori yang mempunyai andil besar dalam mempopulerkan wacana islamisasi psikologi di Indonesia. Berkat kegigihan mereka pula, mata kuliah Psikologi Islam mulai ditawarkan (bahkan diwajibkan) di beberpa Universitas di Indonesia.

Berangkat dari satu asumsi bahwa teori-teori psikologi Barat memiliki banyak kelemahan dan turut menyumbang dehumanisasi peradaban, kerja islamisasi psikologi seakan-akan adalah keniscayaan. Hanna Djumhana Bastaman dalam Integrasi Psikologi dengan Islam (1997) melakukan kerja konstruktif melalui upaya penyempurnaan teori-teori psikologi Barat dengan ajaran Islam. Menurut Bastaman, upaya penyempurnaan memang seharusnya dilakukan, karena teori-teori psikologi Barat tidak cukup mampu merekam seluruh potensi yang dimiliki manusia. Selain aspek tingkah laku, afeksi, dan kognisi, manusia juga memiliki aspek ruhani yang menjadi tumpuan kehidupan beragama. Jadi, hanya dengan memasukkan dimensi ruh dalam teori-teori psikologi Barat, seakan-akan psikologi sudah diislamkan.

Sekurang-kurangnya ada lima model sikap dari para psikolog Muslim dalam merespon wacana Islamisasi psikologi. Pertama, apatis, acuh-tak acuh dalam membicarakan hubungan antara psikologi dan Islam. Sikap unmotivated bersumber pada sikap puas diri terhadap teori-teori psikologi yang sudah ada.

Kedua, fanatik. Mereka berpendapat bahwa dalam agama sudah mencakup segala-galanya sehingga Islamisasi psikologi adalah pekerjaan yang tidak perlu. Agama sudah bersifat lengkap, sains termasuk bagian dari agama. Mereka yang mempunyai sikap seperti ini mengabaikan bahwa sains berhubungan dengan proses pengungkapan, bukan sesuatu yang terberi (given).

Ketiga, sekularistik. Mereka menganggap bahwa tidak ada hubungan antara sains dan agama, sehingga keduanya harus dipisahkan secara tegas. Keduanya memiliki wilayah kajian berbeda, tidak dapat dicampur-adukkan. Keempat, antagonistik. Mereka meyakini agama sekaligus penganut aliran psikologi tertentu. Meskipun mereka menyadari bahwa antara keyakinan agama serta keyakinan psikologinya itu berbeda, dengan mudah mereka dapat berpindah-pindah mengamalkan dua keyakinan yang berbeda.

Kelima, idealistik. Mereka bersikap positif terhadap gagasan dan upaya Islamisasi psikologi, karena mereka mendambakan model pendekatan psikologi yang Islami. Berusaha menyempurnakan teori-teori psikologi kontemporer dengan khazanah ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa dalam ajaran Islam terdapat kebenaran paripurna, adapun sains hanya membahas parsialitas kebenaran tersebut sehingga harus disempurnakan.

Islamisasi psikologi, menurut hemat saya bukanlah kerja ilmiah, apalagi kerja kreatif. Sebab yang dubutuhkan umat Islam dan lebih-lebih oleh para cendikiawannya adalah menguasai dan mengembangkan ilmu psikologi. Islamisasi psikologi hanyalah kerja kreatif atas karya orang lain saja. Manakala seorang ilmuwan berhasil menciptakan atau mengembangkan ilmu, maka orang Islam akan mencoba menangkap dan berusaha mengislamkannya.

Seorang ilmuwan yang ahli, barangkali akan mampu mengubah ilmu tersebut sehingga berbeda dari watak sebelumnya. Kerja Einstein menemukan Teori Relativitas yang berujung pada asumsi yang relativistik atas konsep ruang dan waktu—merupakan koreksi yang revolusioner atas teori Newton yang menganggap ruang dan waktu bersifat absolut. Upaya pembongkaran atas teori lama hanya didasarkan atas semangat keilmuan pada dirinya sendiri, bukan pada asumsi ideologis atau teologis tertentu.

Sejauh yang saya ketahui semangat islamisasi psikologi didasari satu anggapan tentang diskursus psikologi dan Islam. Stereotip yang sering kita dengar adalah adanya dua kebenaran dalam dua wilayah ini. Kebenaran teori psikologi bersifat relatif, sedangkan kebenaran konsep manusia dalam Islam bersifat absolut. Kita dapat membayangkan seandainya setiap diskursus keilmuan mengharuskan untuk diislamkan, barangkali penghargaan Nobel bagi para ilmuwan kreatif tidak dapat kita jumpai lagi, karena ilmu yang telah diislamkan tersebut bersifat absolut, solid, pejal, tak butuh koreksi.

Kalau hendak dirunut ke belakang, sebenarnya antara Islam dan sains tidaklah pernah bertentangan. Hal itu telah ditunjukkan pada era kejayaan peradaban Islam. Agama yang dibawa Muhammad membawa pesan serius bahwa berilmu pengetahuan adalah sekaligus beragama. Tuhan akan mengangkat derajat manusia yang beriman sekaligus berilmu. Tentunya berilmu di sini tidak hanya dapat dibatasi dengan ilmu yang telah diislamkan. Pesan Muhammad kepada umatnya agar senantiasa menuntut ilmu meskipun harus berlayar sampai negeri Cina merupakan spirit bagi pengembangan ilmu, meskipun ilmu tersebut tidak dikembangkan oleh umat Islam. Ilmu itu mempunyai wataknya sendiri dan akan terus berevolusi menurut spiritnya sendiri, tidak perlu diislamkan, karena upaya pengislaman hanya akan membatasi laju evolusi ilmu.

Islamisasi psikologi, tanpa disadari akan membawa konsekuensi yang luar biasa dalam kajian psikologi. Ikhtiar para psikolog Muslim dalam mengislamkan psikologi sedikit banyak telah mengangkat sentimen teologis ke permukaan kembali. Hal ini juga tentunya akan diikuti oleh para psikolog Kristen, Hindu, Budha, dll., untuk merumuskan konsep psikologi menurut kepercayaan mereka. Sehingga lahir psikologi Kristen, Psikologi Hindu, Psikologi Budha, dan psikologi-psikologi lainnya. Hal ini disebabkan oleh adanya sentimen religius yang menganggap bahwa agama yang dipeluknya adalah paling benar, sehingga pengembangan ilmu berdasarkan spirit agama tersebut juga dianggap paling benar.

Hasilnya, kita akan menjumpai disuguhkannya wacana psikologi yang fragmentaris. Psikologi Islam hanya untuk orang Islam (karena orang Kristen, Hindu, Budha sudah mempunyai konsep psikologi masing-masing, sehingga tidak ada gunanya memakai konsep psikologi menurut Islam), Psikologi Kristen hanya untuk orang Kristen, Psikologi Hindu hanya untuk orang Hindu, Psikologi Budha hanya untuk orang Budha. Kalau fakta menunjukkan kecenderungan semacam itu, lantas di mana letak objektivitas ilmu (ilmu psikologi khususnya).

Sudah kita ketahui bersama bahwa spirit pengembangan ilmu adalah untuk kesejahteraan umat manusia, tidak pandang agamanya apa. Ilmu pengetahuan beroperasi dengan bahasa yang universal dan berupaya merambah ranah hakikat, tidak berpolemik dalam wilayah simbol dan label. Ilmu adalah ilmu, sebuah perangkat untuk memahami kehidupan selain agama. Kalau akhirnya ditemukan kesejajaran kebenaran dalam ilmu dan agama, menurut hemat saya hal itu beroperasi dalam ranah hakikat, bukan label semata. Ketika dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa manusia terbuat dari tanah—kemudian dalam ilmu juga membuktikan bahwa dalam tubuh manusia terdapat unsur-unsur mineral yang terkandung dalam tanah—hal itu bukan berarti kebenaran ilmu mengikuti kebenaran Al-Qur’an—karena ilmu dikembangkan dengan penemuan (invention) bukan proses afirmasi begitu saja.

Sebagai catatan akhir, saya hendak berargumen bahwa islamisasi psikologi tidaklah perlu dilakukan. Pekerjaan itu hanya akan menghambat perkembangan ilmu psikologi, karena ilmu psikologi akan berkembang tidak lagi alami, sudah bernuansa ideologis. Anggapan yang mengatakan bahwa Islam telah menyempurnakan konsep manusia dengan dimensi ruh mengisyaratkan bahwa definisi manusia seakan-akan sudah final, karena dimensi yang paling luhur dari manusia telah ditemukan. Lantas, apa urgensi mempelajari ilmu psikologi, ketika manusia itu sudah bukan lagi misteri? Hal ini yang seakan-akan tidak disadari para penggagas Psikologi Islam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: