Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Mewartakan Etika Kepedulian

Afthonul Afif, Mahasiswa Psikologi Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta

Setiap kali saya berjalan di pusat-pusat keramaian dan menjumpai wajah-wajah baru, hampir dapat dipastikan, perasaan ragu dan khawatir selalu menyergap diri saya. Saya berani menduga, perasaan ragu dan khawatir itu hadir dari persepsi atas citra visual wajah-wajah bergegas orang-orang yang saya jumpai. Saya ragu dan khawatir, apakah mereka masih bersedia menolong—atau setidaknya peduli—ketika saya mengalami musibah di tempat-tempat seperti itu?

Mungkin, perasaan semacam itu juga menghinggapi orang-orang di sekitar saya. Dari cara mereka berjalan yang selalu bergegas, juga keengganan untuk bertatap muka dengan orang lain yang hadir di depannya, saya menduga mereka juga khawatir dan takut terhadap setiap bahaya sosial yang kapan saja bisa mengancam. Kekhawatiran, keterancaman, ketakutan atau juga dis-atensi terhadap peristiwa-peristiwa di ruang publik sebenarnya bukan hal yang baru, lebih-lebih di kota-kota besar. Telah banyak penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial yang berusaha menjelaskan fenomena ini. Selain karena ketakutan terhadap tindak kejahatan di ruang publik, ada sebab yang sebenarnya lebih mendasar, yaitu sikap mental yang menempatkan hubungan dengan orang lain harus berlangsung secara efektif dan efisien di ruang publik.

Kebudayaan modern yang digerakkan oleh spirit efektivitas dan efisiensi memang telah mengantarkan manusia menuju kondisi hidup yang penuh dengan kalkulasi untung-rugi. Kehidupan manusia modern ibarat sebuah mesin yang bekerja hanya untuk memperoleh out put-out put yang dapat mendatangkan manfaat-manfaat praktis saja. Hal ini mengkondisikan manusia modern menghayati setiap gerak dan waktu yang dimilikinya sebatas sebagai sarana untuk mendatangkan manfaat-manfaat praktis itu. Begitu pula ketika mereka harus membangun kerjasama dengan orang lain, prinsip efektivitas dan efisiensi juga dijadikan sebagai pedoman dalam mengukur sejauh mana kerjasama itu berhasil. Perjumpaan itu dapat dikatakan berhasil ketika orang lain sebagai patner relasi dalam setiap situasi dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya meskipun perjumpaan itu berlangsung dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Memperlakukan orang lain akhirnya tidak ada bedanya dengan memperlakukan objek-objek. Hubungan dengan orang lain itu hanya wajib dikelola dan dirawat ketika hubungan itu masih menghasilkan manfaat. Di luar dari manfaat-manfaat yang dikehendaki, orang lain itu harus diabaikan—kalau perlu dicampakkan.

Rasionalitas yang beroperasi di balik model relasi di atas adalah rasionalitas ekonomi. Rasionalitas ekonomi menempatkan orang lain sebagai komoditas yang harus diolah agar dapat mendatangkan manfaat-manfaat ekonomis. Jenis rasionalitas semacam ini mengambil inspirasinya dari Descartes yang menyatakan bahwa orang lain adalah hasil konstitusi cogito, sesuatu yang dipikirkan dan dengan cara itu orang lain ada dalam kenyataan. Dalam hubungan sosial, cogito cartersian ini gemar membuat refleksi-refleksi ontologis terhadap orang lain dengan harapan agar orang lain terlihat terang dan objektif. Dengan demikian, orang lain tak lagi menyimpan misteri—karena kelainnannya telah teridentifikasi dalam batas-batas manfaat dan fungsi yang telah ditetapkan. Mereka tak lagi hadir sebagai manusia, melainkan sebagai si pengusaha, si pengacara, si politisi, si kaya, si miskin, misalnya—dengan atribut fungsional yang jelas dan terukur.

Model hubungan subjek-objek ala cartersian ini membawa masalah yang serius, karena sudah dapat dipastikan bahwa semua bentuk prasangka sosial yang sering berujung pada tindak kekerasan bersumber darinya. Segera setelah kita menyadari potensi kekerasan itu, dan menghendaki terciptanya relasi sosial yang lebih adil, kita harus berani merubah kebiasaan-kebiasaan kita yang sering mempersepsi orang lain sebagai objek.

Etika kepedulian

Pada ranah refleksi, jalan yang pertama-tama dapat kita tempuh untuk memperbaharui pemahaman kita terhadap model hubungan yang lebih adil dengan orang lain adalah membuat pengandaian-pengandaian terhadap model hubungan itu. Jalan ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena sudah sejak lama telah lahir teori-teori etika yang berusaha memberi petunjuk bagaimana mewujudkan keadilan sosial yang berbasis pada hubungan antar-individu. Persoalan mengapa sampai hari ini kita masih sulit untuk berbuat adil kepada orang lain menjadi pertanyaaan serius yang tidak dapat dijawab ketika kita masih bersikukuh mempertahankan teori-teori etika yang lahir dari tradisi pencerahan.

Etika yang lahir dari tradisi pencerahan mengusung semangat keadilan universal yang menyandarkan dirinya pada hal-hal seperti kewajiban, kontrak sosial, fairness, dan otonomi—yang mana hal-hal tersebut baru dapat dijadikan sebagai pedoman jika prasyarat-prasyaratnya telah dirumuskan dalam bahasa yang tidak terikat dengan kesementaraan peristiwa. Sebuah teori etika haruslah murni bersifat netral karena hanya dengan syarat itulah ia akan dapat dipahami dan disepakati oleh semua orang. Individu, sebagai subjek etika juga harus tunduk pada imperatif-imperatif rasional yang berisi prasyarat-prasyarat tertentu sebagai bahasa bersama umat manusia.

Namun, sekarang ini, kita tak lagi membutuhkan etika yang hanya berbentuk sistem peraturan saja, yang menekankan universalisme (sebuah prinsip bersifat moral jika memiliki kapasitas untuk diberlakukan secara umum) sebagaiamana dikemukakan Kant—atau sistem moral etika yang terbentuk melalui kesepakatan diskursif bebas paksaan dari para aktor komunikasi sebagaimana dikemukakan oleh Habermas. Kondisi sekarang ini jauh lebih menuntut keprihatinan dan kepedulian kita untuk terlibat aktif dalam memecahkan problem konkret sehari-hari—sehingga setiap pengandaian etis yang kita buat harus diberangkatkan dari kepedulian terhadap nasib orang lain—bukan dalam bentuk rumusan-rumusan abstrak yang nir-realitas. Jenis etika yang bersifat situasional dan kontekstual ini disebut sebagai etika kepedulian (ethics of care) yang dipopulerkan oleh Carol Gilligan dalam bukunya yang berjudul In a Different Voice: Psychological Theory and Women’s Development (1993).

Etika kepedulian, lanjut Gilligan, memfokuskan pada individu-individu konkret dengan segala kebutuhannya, dalam rangka menciptakan hubungan sosial yang berdasarkan prinsip kesalingtergantungan dan hubungan emosional. Orang lain lebih membutuhkan kepedulian, empati, hubungan konkret, daripada sistem-sistem peraturan yang abstrak. Cara pandang etika kepedulian terhadap individu bukan lagi sebagai individu rasional atomistik yang mandiri dan terpisah dari orang lain, melainkan individu yang senantiasa terbenam dalam pusaran nilai-nilai sosial di mana ia bertumbuh.

Seorang individu dikatakan sanggup melaksanakan dorongan etis tidak diukur dari tindakan-tindakannya, melainkan pada kesediaannya untuk menunggu, bersabar, percaya, dan mendengarkan kesaksian orang lain. Sikap-sikap yang dianggap khas milik perempuan ini, menurut Gilligan, lebih dibutuhkan bagi upaya mewujudkan keadilan sosial—karena krisis keadilan yang terjadi dewasa ini sebenarnya tidak bersumber dari ketidaktahuan orang-orang tentang bagaimana cara berbuat baik, tetapi tidak dimilikinya kepekaan terhadap kondisi-kondisi yang menyebabkan absennya keadilan sosial itu sendiri. Jika demikian, sumber keadilan sosial adalah suara hati (invocation), bukan pertimbangan-pertimbangan rasional. Etika kepedulian adalah gema suara hati seorang perempuan yang rindu akan spontanitas perjumpaan dan kehangatan hubungan yang menurut analisis-analisis rasional kaum laki-laki dianggap sebagai potensi kemanusiaan yang lebih rendah.

Kekhasan etika kepedulian terletak pada tugas utama yang dibawanya yaitu bukan untuk menciptakan teori-teori tentang keadilan, melainkan memfokuskan diri pada pertanyaan-pertanyaan bagaimana kita sebagai individu mampu mengenali kebutuhan-kebutuhan konkret orang lain. Untuk itu, parameter moralitas tidak lagi terletak pada sikap yang tidak berpihak, melainkan kepedulian yang justru berpihak, kehangatan hati dan sikap yang nyata-nyata menjunjung tinggi hak-hak orang lain dalam situasinya yang paling unik.

Dengan demikian, perjumpaan dengan orang lain tidak lagi berlangsung dalam penghayatan ontologis, melainkan murni perjumpaan etis. Artinya, perbuatan baik yang kita tujukan untuk orang lain tersebut berlangsung tanpa syarat, terhadap orang yang sudah kita kenal maupun yang belum kita kenal. Kita juga tidak perlu mengetahui apa alasan di balik perbuatan baik yang kita lakukan, karena bertanya mengapa kita berbuat baik kepada orang lain sama halnya kita membutuhkan syarat-syarat khusus agar perbuatan baik itu terlihat masuk akal—atau hanya kepada orang-orang tertentu saja kita wajib berbuat baik. Pendek kata, kita berbuat baik karena kita peduli.

Akhirnya, dalam kondisi kehidupan yang penuh sesak dengan pertarungan kepentingan-kepetingan praktis-sesaat akhir-akhir ini, memposisikan etika keadilan sebagai pemandu bagi kehidupan kita tidak hanya akan melahirkan optimisme terhadap masa depan dunia yang lebih adil, tetapi juga merupakan kewajiban etis yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: