Posted by: psikotikafif | July 25, 2008

Menguak Dunia Klenik di Balik Kekuasaan Soeharto

Judul: Dunia Spiritual Soeharto: Menelusuri Laku Ritual, Tempat-Tempat dan Guru Spiritualnya
Penulis : Arwan Tuti Artha
Cetakan: I, 2007
Tebal: 197 hlm.
Penerbit: Galang Press, Yogyakarta

Soeharto, atau sering disebut Mr. Number One semasa pemerintahan Orde Baru, adalah salah satu kepala negara yang menjabat paling lama di dunia, 32 tahun. Ini hitungan waktu yang sangat panjang bagi pemerintahan di zaman modern.

Para pengamat berpendapat, ada dua pilar utama yang menopang kekuasaan Soeharto dan Orde Baru. Pertama, pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi di bawah bendera liberalisasi ekonomi, seperti membuka diri terhadap investasi asing dan utang luar negeri. Kedua, stabilitas politik dengan militer sebagai mesin pendisiplin yang akan menggilas setiap kekuatan yang mengancam stabilitas kekuasaan Soeharto.

Namun yang membuat para pengamat terpukau pada sosok Soeharto bukan bagaimana dia mampu menegakkan pilar yang pertama, melainkan bagaimana Soeharto membangun sistem pemerintahan sentralistiknya. Mungkin hanya ada satu Soeharto di dunia: seorang anak desa yang lahir di sebelah barat kota Jogjakarta yang mampu menggenggam negara kepulauan dengan kompleksitas budaya dan beragam suku bangsa seperti Indonesia. Gerakan perlawanan sekecil apapun, di pelosok manapun, dengan mudah ditumpas oleh Soeharto. Soeharto laksana raja yang sekti mondroguno yang sanggup membuat semua pembantunya tunduk dan bertekuk lutut di hadapannya. Soeharto berhasil membangun pemerintahan yang luar biasa, semua kekuasaan bermuara kepadanya, dengan militer sebagai kekuatan fisiknya.

Soeharto adalah pemimpin dengan filosofi kepemimpinan bersumber dari tradisi Jawa. Dia adalah pengamal setia tradisi warisan leluhurnya. Salah satu ciri utama filosofi Jawa yang benar-benar dihayati Soeharto adalah penghormatan terhadap harmoni dan keselarasan hubungan antara manusia dan alam semesta. Dalam menjaga harmonisasi dengan alam, banyak sekali upacara yang dipertahankan oleh Soeharto. Ketika cucunya, yakni Danny Rukmana putra pasangan Indra Rukmana dan Siti Hardiyanti Rukmana, menikah dengan Lulu Tobing, digelar upacara adat Jawa yang ditandai dengan sungkeman, pemberian toya wening, dan sebagainya.

Barangkali yang membuat Soeharto begitu tertib menjalankan upacara-upacara tradisional Jawa adalah karena dia tidak memiliki latar belakang pendidikan formal yang tinggi. Dengan mempraktikkan upacara-upacara itu, Soeharto akan memperoleh kebijaksanaan dan harmoni. Soeharto begitu konsisten menyelenggarakan selamatan, upacara tradisional, baik pada upacara kelahiran, ulang tahun, pernikahan, maupun acara kematian. Itu semua dilakukan agar terjadi keseimbangan.

Tirakat dan Kekuasaan Soeharto

Bukan hanya dalam kehidupan pribadi dan keluarga Soeharto melaksanakan upacara-upacara kejawen, tapi juga dalam menjalankan roda pemerintahan yang dipimpinnya selama tiga dekade. Untuk kepentingan dan momen apapun upacara itu dilaksanakan, terdapat satu prinsip utama yang diyakini Soeharto, yaitu harmonisasi.

Dalam konteks kekuasaan, istilah harmonisasi yang dipahami Soeharto sebenarnya tidak berkonotasi pada keselarasan dan kebijaksanaan, melainkan lebih bernuansa pada tindakan-tindakan mempertahankan kekuasaan meskipun harus menempuh jalan kekerasan. Harmonisasi dalam kosa kata pemerintahan Orde Baru juga bermakna penertiban, pendisiplinan, pencekalan dan pembredelan, penculikan, bahkan pembunuhan. Itulah mengapa, upacara-upacara kejawen yang dilakukan Soeharto bagi kelangsungan kekuasaannya jauh dari nuansa keluhuran dan keadiluhungan budaya, tapi lebih bersifat magis-metafisis-pragmatis. Artinya, semua ritual yang dijalankan Soeharto entah itu puasa senin-kamis, memelihara benda-benda pusaka, berziarah ke makam raja-raja Jawa, dan semedi di petilasan-petilasan, tidak lain hanya untuk mencari legitimasi spiritual bagi stabilitas kekuasaan yang dikendalikannya.

Menurut berbagai sumber yang dicantumkan dalam buku ini, terdapat beberapa tempat yang sering dikunjungi Soeharto guna mencari berkah, di antaranya padepokan Langlang Buana di Desa Srandil Cilacap, makam pangeran Purbaya di Desa Maguwoharjo Sleman Yogyakarta, Watu Gilang (tempat bersemedi Panembahan Senopati), juga di Tugu Soeharto yang terletak di sungai Kaligarang Semarang di mana Soeharto sering kungkum untuk mencari wangsit. Kemungkinan masih ada beberapa tempat lagi yang sering dikunjungi Soeharto mengingat sering muncul desas-desus tentang keterkaitan tempat-tempat tertentu dengan lelaku spiritual Soeharto. Masyarakat di Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Cilacap, mengaku sering melihat rombongan kepresidenan yang dipimpin Soeharto mendatangai tempat pemujaan Jambe Pitu yang terdapat di desa tersebut dengan didampingi seorang guru spiritual kepercayaan Soeharto asal Semarang yang bernama Romo Diyat.

Apa yang diharapkan Soeharto dari semua ritual mistik yang dijalankannya sebenarnya untuk meraih derajat Sabda Panditha Ratu. Artinya, dengan menjalin hubungan yang harmonis dengan alam dan leluhur, kekuasaan Orde Baru menyandang sakralitas tertentu sehingga setiap keputusan yang dikeluarkan Soeharto bukan bersumber dari dirinya sendiri, melainkan hasil restu kekuatan kosmos. Dengan demikian tidak ada alasan bagi masyarakat untuk menolak keputusan tersebut, karena proses pembuatannya tidak bersumber dari nafsu-nafsu manusiawi semata. Dari mistik kebohongan semacam inilah kemudian muncul anggapan salah kaprah bahwa seorang pemimpin tidak pernah salah, karena jika dia melakukan kesalahan berarti terganggu harmonisaninya. Oleh karena itu, Soeharto jangan sampai diadili di pengadilan, jangan sampai kelihatan bersalah dan masuk penjara, juga jangan sampai ikon-ikon kejawen terganggu.

Meskipun Soeharto terbilang rajin melakukan ritual kejawen, hal itu tidak selalu berarti Soeharto memahami dan mengamalkan semua khazanah kearifan tradisi Jawa. Soeharto hanya menjalankan ritual yang menurut pertimbangannya hanya menguntungkan kekuasaannya saja. Bila Soeharto benar-benar konsisten mengamalkan khazanah kearifan tradisi Jawa, seharusnya ia menjadi seorang pemimpin yang baik, yang utama dan bijaksana. Dalam Serat Wulangreh telah dijelaskan, seorang raja haruslah bertindak adil, tidak menjalankan roda pemerintahan berdasarkan pilih kasih dan sesuka hatinya. Dalam menjalankan pemerintahan, seorang raja harus mengabaikan kepentingan anak, sanak saudara, istri, karena yang dianut adalah kebenaran hukum dan keadilan. Untuk itu, raja harus patuh pada hukum yang berlaku—hukum yang dibuat berdasarkan prinsip kemaslahatan umum (hlm.38).

Senjakala Kekuasaan Soeharto

Tak ada gading yang tak retak, tak ada kekuasaan yang tak berakhir. Ungkapan inilah yang mungkin tepat disandangkan bagi Soeharto dan kekuasaan yang telah dibangunnya berpuluh-puluh tahun. Meskipun Soeharto berambisi menjadi presiden seumur hidup, namun sebagai anak manusia yang diliputi banyak ketentuan alam, dia toh tidak bisa melawan usia dan hukum karma. Dalam kebudayaan Jawa terdapat kepercayaan umum bahwa hasil yang diperoleh seseorang di ujung perjalanan hidupnya sebenarnya buah dari tindakan-tindakan yang dia lakukan sebelumnya.

Andaikata Soeharto benar-benar memahami dan mengamalkan spirit harmoni dalam kebudayaan Jawa, mungkin kekuasaannya tidak akan berakhir dengan pelengseran secara paksa oleh kekuatan rakyat yang sudah tak sanggup lagi menanggung amarah akibat kelaliman kekuasaannya. Namun kerakusan akan kekuasaan dapat membutakan pikiran dan mata hati seseorang sehingga dia mengabaikan hukum-hukum alam yang membatasinya.

Menurut hitung-hitungan mistik, kekuasaan Soeharto sebenarnya telah berakhir pada 1996, tahun ketika istri tercintanya, Siti Hartinah Soeharto menghembuskan nafas terakhir. Kehebatan Soeharto, kata banyak paranormal, terletak pada konde Bu Tien. Selama ini, Bu Tien yang menjadi perantara turunnya wangsit-wangsit penting, karena dia yang secara genetik memiliki garis keturunan dari raja-raja Jawa. Tapi, satu jam setelah Bu Tien wafat pada tanggal 28 April 1996, konde itu tiba-tiba menghilang dari genggaman Soeharto. Secara mistik Soeharto tak lagi memiliki legitimasi. Sebagai orang Jawa, Soeharto seharusnya bisa membaca isyarat ini (hlm. 120).

Namun kekuasaan yang membutakan membuat Soeharto tetap melanjutkan ambisinya menjadi presiden seumur hidup, meskipun tanda-tanda bakal berakhir kekuasaannya kian nyata. Pada Sidang Umum MPR 1998, palu yang diketukkan Harmoko (Ketua MPR waktu itu) untuk mengesahkan pengangkatan kembali Soeharto sebagai presiden Indonesia periode 1998-2003, patah jadi dua. Palu yang patah, begitu tafsir banyak paranormal, adalah simbol bakal berakhirnya kekuasaan Soeharto. Dan terbukti, pada 21 Mei 1998, Soeharto dipaksa melepaskan kekuasaannya, meskipun pendapat yang mengatakan bahwa lengser keprabonnya Soeharto disebabkan oleh konde Bu Tien yang hilang, dan palu yang patah belum tentu benar.

Terlepas dari benar tidaknya isyarat-isyarat kejatuhan Soeharto itu, tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat sebab empiris yang lebih memiliki bobot kesahihan. Kekuasaan yang dikelola secara totaliter dan bersifat korup berapapun lama dan di manapun tempatnya pasti akan runtuh karena perlawanan rakyatnya. Sejarah dunia telah mencatat, bagaimana Marcos dari Filipina dan Pinochet dari Chile menutup lembaran kekuasaanya. Mereka diadili, diusut semua harta kekayaannya, ditutup semua akses politiknya, dan dibenci rakyat yang pernah dipimpinnya. Untuk hal yang satu ini, Soeharto lebih beruntung dari pada kedua rekannya itu. Sampai sekarang Soeharto belum juga diadili, kegiatan bisnis keluarganya masih berjalan lancar. Prestasi Soeharto memang fantastis. Dia masih sanggup menancapkan kekuasaannya dalam tubuh birokrasi meskipun tampuk dan orde kekuasaan telah berganti.

Mencari alasan mistik atas kebalnya Soeharto dari jeratan hukum sebagaimana sering disampaikan para pengikut setianya bukan sekedar kekonyolan, tapi juga salah kaprah. Yang paling sahih tidak lain dan tidak bukan adalah mandulnya aparat penegak hukum di Indonesia dalam mengusut semua kejahatan yang pernah dilakukan Soeharto. Meskipun buku ini mengurai kisah dan laku spiritual Soeharto, di dalamnya tidak terdapat satu pendapat pun yang mengabsahkan bahwa kesuksesan Soeharto dalam menjalankan pemerintahannya semata-mata disebabkan oleh kekuatan spiritualnya. Begitu pula ketidakberdayaan aparat penegak hukum juga tidak dianggap penulis buku ini sebagai fakta bahwa Soeharto masih memiliki kekuatan mistik yang melindungi dirinya dari setiap ancaman.

Sebagaimana diakui oleh penulisnya sendiri di bab terakhir, buku ini tidak bermaksud mencari alasan pembenar bahwa praktik-praktik spiritual Soeharto itu secara langsung menjadi penentu kesuksesan jalannya pemerintahan Orde Baru. Buku ini ditulis untuk mengisi kekosongan buku yang membahas Soeharto dari sisi mistik. Buku ini cukup menarik, karena mengungkap hal-hal yang selama ini menjadi pergunjingan umum; bagaimana praktik klenik yang dijalankan mantan Mr. Number One itu dikelola. Dalam buku ini, pembaca akan menemukan laku-laku ritual dan tempat-tempat yang digunakan Soeharto menjalankan laku ritual, ilmu petung, dan guru-guru spiritual yang nasihat-nasihatnya penting bagi pengambilan keputusannya.

Namun, akan terkesan berlebihan ketika buku ini dianggap telah mampu mengungkap kehidupan spiritual Soeharto secara komprehensif. Idealnya, upaya menyibak tabir mistik di balik kekuasaan Soeharto dilakukan melalui riset lapangan dengan melibatkan subjek-subjek yang mampu memberikan informasi penting (references person) tentang dunia mistik-spiritual mantan orang kuat ini. Tentu saja, ini bukan dimaksudkan untuk mencari korelasi positivistik dengan politik praktis, melainkan menempatkannya sebagai fenomena sosial unik yang secara sosiologis turut berperan dalam proses pengambilan keputusan politik di Indonesia. Sementara, buku ini hanya bersandar pada sumber informasi kedua (buku, artikel di koran dan majalah).

· AFTHONUL AFIF, Mahasiwa Psikologi Klinis Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: