Posted by: psikotikafif | June 25, 2008

Filsafat Praktis Sebagai Terapi: “Ketika Filsafat Menyapa Kehidupan Sehari-hari”

Ide, 16 Mei 2004

Oleh: Afthonul Afif, Penggiat Kajian Psikologi.

Filsafat merupakan sebuah disiplin yang membahas dan mempertanyakan segala hal sampai ke akar-akarnya. Melalui filsafat, masalah yang seakan-akan sudah dianggap jelas diperkarakan kembali–sehingga banyak orang mencibir bahwa berfilsafat adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia, membuang-buang waktu dan melelahkan.

Memang, berfilsafat membutuhkan kesediaan untuk meluangkan banyak waktu—merefleksikan segala permasalahan hidup dalam ruang sunyi-senyap dan jauh dari keramaian khalayak. Filsafat mengajak kita untuk menguji dan mempersoalkan kembali dogma-dogma yang telah kita anggap benar, mengajak kita untuk mengambil posisi dan menetapkan pendirian. Tetapi jarang orang yang berani memikirkan kembali keyakinan hidupnya yang telah lama mereka yakini. Sehingga tidak mengherankan apabila berkembang asumsi di masyarakat bahwa filsafat merupakan bidang kajian yang hanya digeluti oleh segelintir orang yang memiliki kemampuan olah pikir dan daya abstraksi yang tinggi.

Namun, akhir-akhir ini muncul gerakan baru dari para filsuf diantaranya Christhoper Phillips, Lou Marinoff, Vaughana Feary, maupun Alain de Botton yang berusaha mengembalikan filsafat kepada semangat awalnya, yaitu filsafat sebagai seni kehidupan. Mereka prihatin dengan kecenderungan para filsuf akademik yang selalu mengusung gagasan-gagasan abstrak dan melangit yang hanya membahas tema-tema besar yang sulit di cerna oleh orang awam dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Mereka menyebut gerakan yang mereka rintis sebagai gerakan filsafat praktis (practical philosophy). Dari mereka inilah kemudian lahir praktek konseling baru yang disebut konseling filosofis (philosophical counseling). Mereka terinspirasi oleh semangatnya Socrates yang menelusuri kebenaran melalui pengalaman kongkrit hidup sehari-hari. Socrates menggunakan dialog sebagai metode berfilsafatnya. Filsafat adalah seni berkomunikasi yang memperbincangkan banyak hal dalam ruang publik. Filsafat yang “gandrung” akan kebijaksanaan merupakan esensi filsafat sebagai seni kehidupan—yang mampu melampaui keangkeran dan dinginnya tembok-tembok akademik.

Gerakan filsafat praktis mempunyai kepedulian dan fokus terhadap permasalahan sehari-hari masyarakat modern, seperti stres di dunia kerja, depresesi akibat perceraian, konflik rumah tangga, dan sebagainya. Dunia modern adalah dunia yang penuh paradoks: dunia yang penuh dengan keberlimpahan materi dan kemajuan pesat teknologi namun sekaligus problem-problem patologis kemanusiaan. Manusia modern mengalami kekosongan makna hidup sebagai akibat dari gaya hidup modern yang terlalu mengedepankan kebutuhan fisis-material. Kecondongan pada pemenuhan kebutuhan fisik-material semata membuat kondisi batin masyarakat modern rentan terhadap konflik karena tidak pernah diasah dan pelihara.

Guna mengatasi kebingungan yang tidak mungkin untuk dipecahkan secara sendirian, umumnya seseorang akan meminta bantuan dari para profesional yang dianggap ahli dalam mengatasi masalah-masalah kehidupan. Biasanya, seseorang yang memiliki problem akan datang kepada seorang psikolog atau psikiater. Tetapi tidak semuanya permasalahan hidup dapat diselesaikan melalui bantuan para psikolog dan psikiater. Muncul alternatif lain, misalnya dengan menjamurnya buku-buku panduan self help yang diharapkan juga dapat membantu mengurangi beban hidup sehari-hari melalui manajemen diri.

Namun, bantuan dari para psikolog maupun spikiater beserta buku-buku panduan self help ternyata tidak selamanya membantu menyelesaikan permasalahan masyarakat modern. Hal ini disebabkan solusi yang ditawarkan oleh para psikolog dan psikiater beserta buku-buku self help terkesan hanya berbicara tentang panduan praktis dan tidak menyentuh problem eksistensial masyarakat modern. Masyarakat modern mengalami krisis makna—sehingga penyelesainnya membutuhkan perenungan filosofis. Filsafat diharapkan mampu membantu mengembalikan kemampuan reflektif dan kesadaran eksitensial masyarakat modern dalam menghayati setiap kejadian hidup sehari-hari.

Menyapa Banalitas Keseharian

Filsafat dan kehidupan sehari-hari sering dianggap sebagian orang sebagai dua hal yang tidak akan pernah bisa disatukan. Filsafat membahas tentang konsep-konsep abstrak nan rumit seperti materialisme, dialektika, telos, atau substansi—yang disertai kernyitan dahi ketika membahasnya, sedangkan keseharian dianggap sebagai hal yang wajar dan sepele. Filsafat dan keseharian diumpamakan seperti minyak dan air. Namun, tidak ada salahnya apabila kita mempertanyakan kembali apakah benar anggapan seperti itu?

Hidup manusia ternyata tak selamanya indah seperti apa yang diangankan dalam pikiran saja. Hidup itu kongkrit dan tak pernah henti-hentinya diterpa masalah. Kita harus berani jujur pada kondisi eksistensial manusia yang ambigu, rapuh, lemah, dan sarat penderitaan. Dan kondisi ini sebenarnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, filsafat sebagai sumber kebijaksanaan harus bersedia turun dari singgasananya dan harus menceburkan diri dalam kegetiran persoalaan eksistensial manusia. Filsafat harus mampu memberi arti bagi kehidupan yang sarat akan himpitan permasalahan.

Melalui sejarah sebenarnya kita telah diajarkan bahwa sesungguhnya filsafat dan kehidupan sehari-hari sudah menjalin hubungan mesra. Socrates, bapak pelopor filsafat Yunani, tidak berfilsafat dibalik-balik dinginnnya tembok-tembok akademis, melainkan pergi ke kerumunan orang di pasar dan mengajak berbincang-bincang dengan para pemuda. Socrates berhasil merubah pasar Agora di Yunani menjadi arena debat-publik filosofis. Socrates mengajak para pemuda untuk memperbincangkan prinsip-prinsip umum yang selama ini diterima tanpa koreksi. Yang dia lakukan semata-mata hanya memancing para pemuda untuk berpikir otonom, merefleksikan setiap kejadian hidup dengan kritis dan jujur.

Para penerus Socrates yang menyebut diri sebagai praktisi filsafat, seperti Christhoper Phillips dari Society for Philosophical Inquiry rela merelakan waktunya untuk menghidupkan lagi filsafat ala Socrates. Dia mengunjugi café, penjara, rumah sakit, sekolah, dan tempat-tempat publik lainnya guna mengajak orang untuk berpikir filosofis dalam menghadapi permasalahan sehari-hari. Pengalamannya menjelajahi palung-palung kehidupan secara filosofis kemudian dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul Socrates Café: A Fresh Taste of Philosophy. Buku yang mengkombinasikan cerita dan filsafat ini merupakan ajakan dan sumber inspirasi bagi setiap orang untuk menjadikan hidupnya lebih bermakna dan pantas dijalani. Berbagai tema pun dimunculkan: tentang cinta, persahabatan, pekerjaan, usia lanjut, dan permasalahan kehidupan sehari-hari lainnya.

Usaha membumikan filsafat agar dapat dipahami orang awam oleh para pemrakarsa gerakan filsafat praktis sebenarnya bukan untuk mengkampanyekan kebencian terhadap filsafat teoritik-akademik, melainkan didasari motif untuk mengemas kerumitan bahasa filsafat teoritik menjadi lebih sederhana supaya dapat dipahami oleh orang awam, sehingga pesan kebijaksanaannya dapat dipetik guna menerangi ketemaraman keseharian. Bahkan tidak jarang dalam memberikan konselling filosofis mereka mengadopsi pesan-pesan kebijaksanaan dari para filsuf yang dianggap pemikirannya sangat sulit dipahami.

Lou Marinoff, presiden Asosiasi Praktisi Filsafat Amerika, sering mencandra keruwetan keseharian dalam terang Heidegger. Melalui bukunya Heidegger, Sein und Zeit (Ada dan Waktu,1927), teks filsafat abad ke-20 yang konon paling sulit dipahami—Marinoff menganggap Heidegger sebagai filsuf yang telah mewartakan jalan kembali pada jati diri kita. Bukan dengan menyendiri dan mengasingkan diri, melainkan dengan menjadi mistikus keseharian: mencandera kecemasan ( Angst) yang menyembul keluar dari kolam keseharian kita. Dengan demikian, Ada (eksistensi manusia) yang terlempar menyingkapkan diri, dan mengundang manusia untuk bermukim dalam rumah eksistensinya.

Mengawinkan Filsafat Teoritik dan Psikologi

Meskipun filsafat praktis memberikan kritik terhadap filsafat teoritik dan psikologi, bukan berarti meninggalkan keduanya secara an sich. Kritik terhadap tradisi filsafat sebenarnya lebih tepat diposisikan sebagai kritik terhadap para filosof akademis yang terlalu menafikan problem keseharian manusia. Sedangkan koreksi terhadap tradisi psikologi, semata-mata hanyalah kritik yang dialamatkan kepada mazhab psikologi yang berorientasi pada penonjolan perilaku manusia (behavioristik) yang tersituasikan oleh lingkungan eksternal dan alam bawah sadar manusia (psikoanalisa). Kedua mazhab psikologi tersebut telah menghapus kebebasan manusia sebagai sesuatu yang khas insani.

Filsafat praktis merupakan perpaduan unik antara filsafat teoritik yang ditafsirkan dan psikologi yang berorientasi pada pengkayaan nilai-nilai kemanusiaan –atau psikologi humanistik. Mengenai potensi integrasi itu, Lou Marinoff mengatakan bahwa sebenarnya para filosof selalu mengamati kodrat manusia, pekerjaan yang selalu dilakukan oleh seorang psikolog. Setiap filsafat yang berkenaan dengan manusia tidak akan lengkap tanpa pandangan psikologi. Psikologi juga akan gagal dengan tiadanya pandangan filsafat. Kedua bidang tersebut akan saling memiskinkan jika dipisah-pisah (Lou Marinoff, Plato Not Prozac: Applying Philosophy to Everiday Problems, 1999).

Tokoh yang dianggap berjasa dalam mengawinkan filsafat dan psikologi dalam proses terapi adalah Victor Frankl. Filsafat fenomenologi-eksistensialis memberikan pengaruh terhadap pemikiran psikologinya.

Frankl menggunakan frase “will to meaning” (kehendak untuk untuk hidup bermakna) untuk mengungkapkan potensi terdalam manusia yang tidak diungkapkan oleh mazhab psikologi sebelumnya. Ada sesuatu yang berdiam di dalam inti semua permasalahan utama manusia, dan jenis terapi psikologi yang ada tidak cukup memberikan kelegaan. Dibutuhkan wawasan filosofis yang benar-benar mampu menyentuh aspek terdalam dari eksistensi manusia.

Kini waktunya memandang segala sesuatu dengan jalan baru, dan jalan baru yang ditawarkan sebenarnya sebuah jalan kuno, sekian lama terlupakan akhirnya terkumpulkan. Kemudian sebagai alternatif, filsafat praktis dapat digunakan sebagai salah satu metode terapeutik untuk membantu mengurangi penderitaan eksistensial masyarakat modern.

Filsafat Praktis Sebagai Terapi

Konseling filosofis hadir sebagai respon terhadap keterbatasan-keterbatasan model psikoterapi yang telah ada. Konseling filosofis memiliki perbedaan tertentu dengan model psikoterapi kontemporer, terutama psikoanalisa dan modifikasi perilaku dari kaum behaviroistik. Psikoanalisa akan cenderung melihat permasalahan psikologis Anda sebagai sesuatu yang timbul akibat dorongan-dorongan hasrat masa lalu yang tak tersalurkan, sedangkan kaum behavioristik melihat permasalahan anda semata-mata dari faktor eksternal, yaitu terdapat kesalahan belajar Anda dalam menerima setiap stimulus-stimulus tertentu. Kedua model psikoterapi ini menganggap keasadaran sebagai sesuatu yang terkondisikan—dan akibatnya Anda tidak dianggap mempunyai kemerdekaan dalam menentukan pilihan.

Sebaliknya, konseling filsafat akan memandang permasalahan Anda bukan semata-mata akibat kejadian masa lalu atau kesalahan belajar Anda, tetapi sebagai sesuatu yang signifikan dari kesadaran Anda di masa sekarang, dan menyebabkan efek-efek di masa mendatang. Ia akan mengenali bahwa Anda punya pilihan untuk melangkah dan akan mengamati akibat yang relevan dari langkah tersebut. Konseling filosofis menurut Peter March sebagai “terapi bagi orang waras”.

Menurut Marinoff dalam buku Plato not Prozac, metode yang umum dipakai dalam konseling filosofis adalah pendekatan lima langkah, atau biasa disebut proses PEACE. PEACE adalah akronim dari lima langkah yang akan Anda jalani, yaitu Problem, Emotion, Analysis, Contemplation, dan Equilibrium (problem, emosi, analisis, kontemplasi, dan ekuilibrium). Uniknya, metode PEACE memberikan kesempatan kepada Anda untuk mendiagnosa masalah Anda sendiri. Akronim tersebut sangat cocok karena langkah-langkahnya merupakan tahapan untuk mencapai peace ‘kedamaian’ pikiran anda.

Dua langkah pertama berperan untuk membingkai masalah Anda. Dua langkah berikutnya berguna untuk menguji masalah, dan langkah yang terakhir akan menggabungkan semua hal yang telah Anda diagnosa sendiri untuk mencapai keseimbangan psikologis.

Sebagian orang mampu menjalani kelima dimensi tersebut hanya dengan satu sesi konseling; sementara bagi yang lainnya, PEACE dapat berlangsung beberapa minggu atau bulan. Lamanya waktu tergantung pada klien dan situasinya. Anda menjalaninya dengan cara yang Anda pilih, mengerjakannya sendiri, atau bersama orang-orang yang Anda cintai.

Konseling lewat filsafat meski relatif baru, namun segera menjadi ranah filsafat yang cepat berkembang. Melalui buku Philosophische Praxis, Gerakan filsafat dalam wujud praktek sebenarnya sudah dimulai di Eropa pada tahun 1980-an oleh Gerd Achenbach di Jerman, dan pengaruhnya mulai berkembang di Amerika Utara yang akhirnya melahirkan dua organisasi besar filsafat praktis pada tahun 1990-an, yaitu American Philosophical Practitioners Association (APPA) yang diketuai oleh Lou Marinoff dan American Society for Philosophy, Counseling and Psychoterapy (ASPCP) yang diketuai oleh Vaughana Feary. Kedua organisasi ini sering menjadi rujukan bagi gerakan filsafat praktis di seluruh penjuru dunia.

Dan sebuah kabar baik, di Indonesia juga telah berdiri Asosiasi Praktisi Filsafat Indonesia (APFI) yang diketuai oleh Dony Gahral Adian–yang mempunyai komitmen kuat untuk mengintimkan filsafat dan kehidupan sehari-hari—dan dalam waktu mendatang Asosiasi berencana akan memposisikan diri sebagai biro konsultasi yang akan bekerja sama dengan instansi swasta maupun pemerintah guna memberi pelbagai masukan filosofis.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: